This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, March 10, 2026

Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Metodologi Penelitian

Dalam metodologi penelitian, dua pendekatan yang paling sering digunakan adalah penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, metode, dan cara analisis yang berbeda.

Memahami perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif sangat penting bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti agar dapat memilih metode penelitian yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian.

Pengertian Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Penelitian ini menekankan pada makna, pengalaman, serta interpretasi individu terhadap suatu peristiwa.

Data yang digunakan dalam penelitian kualitatif biasanya berupa:

  • Wawancara
  • Observasi
  • Dokumentasi
  • Catatan lapangan

Penelitian kualitatif sering digunakan dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, dan teologi.

Pengertian Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan mengukur suatu fenomena menggunakan data angka dan analisis statistik.

Penelitian ini biasanya digunakan untuk menguji hipotesis dan mengetahui hubungan antar variabel.

Data dalam penelitian kuantitatif biasanya diperoleh melalui:

  • Kuesioner atau angket
  • Survei
  • Eksperimen
  • Pengukuran statistik

Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Berikut beberapa perbedaan utama antara penelitian kualitatif dan kuantitatif.

1. Tujuan Penelitian

Penelitian kualitatif bertujuan memahami makna dan pengalaman manusia terhadap suatu fenomena. Sedangkan penelitian kuantitatif bertujuan mengukur dan menguji hubungan antar variabel secara statistik.

2. Jenis Data

Penelitian kualitatif menggunakan data berupa kata-kata, narasi, dan deskripsi. Sementara itu penelitian kuantitatif menggunakan data berupa angka yang dapat dianalisis secara statistik.

3. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, metode yang digunakan biasanya berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sebaliknya penelitian kuantitatif lebih sering menggunakan kuesioner, survei, atau eksperimen.

4. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan cara interpretasi makna dari data yang diperoleh. Sedangkan penelitian kuantitatif menggunakan analisis statistik untuk mengolah data angka.

5. Hasil Penelitian

Hasil penelitian kualitatif biasanya berupa deskripsi mendalam tentang suatu fenomena. Sementara hasil penelitian kuantitatif biasanya berupa angka, tabel, grafik, atau hasil uji statistik.

Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif atau Kuantitatif?

Penelitian kualitatif digunakan ketika peneliti ingin memahami fenomena secara mendalam dan kontekstual. Sebaliknya penelitian kuantitatif digunakan ketika peneliti ingin mengukur hubungan antar variabel atau menguji hipotesis secara statistik.

Dalam praktiknya, kedua pendekatan ini juga dapat dikombinasikan dalam bentuk metode penelitian campuran (mixed methods).

Kesimpulan

Penelitian kualitatif dan kuantitatif merupakan dua pendekatan penting dalam metodologi penelitian. Penelitian kualitatif berfokus pada pemahaman makna dan pengalaman manusia, sedangkan penelitian kuantitatif berfokus pada pengukuran data secara statistik.

Pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, jenis data yang dibutuhkan, serta pendekatan analisis yang akan digunakan.

Jenis-Jenis Penelitian Kualitatif dalam Metodologi Penelitian

Jenis-Jenis Penelitian Kualitatif dalam Metodologi Penelitian

Penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan memahami fenomena sosial secara mendalam melalui perspektif partisipan. Pendekatan ini tidak berfokus pada angka atau statistik, tetapi pada makna, pengalaman, dan interpretasi manusia terhadap suatu fenomena.

Dalam metodologi penelitian, terdapat beberapa jenis penelitian kualitatif yang sering digunakan oleh mahasiswa, dosen, maupun peneliti dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, maupun teologi.

Berikut beberapa jenis penelitian kualitatif yang paling umum digunakan.

1. Penelitian Fenomenologi

Penelitian fenomenologi bertujuan memahami makna pengalaman hidup seseorang terhadap suatu fenomena tertentu. Fokus utama penelitian ini adalah pengalaman subjektif individu.

Peneliti berusaha menggali bagaimana seseorang memahami dan memberi makna terhadap pengalaman yang dialaminya.

Contoh penelitian fenomenologi:

  • Pengalaman guru dalam mengajar di sekolah multikultural
  • Pengalaman mahasiswa teologi dalam panggilan pelayanan
  • Pengalaman pasien dalam menjalani terapi medis

Metode yang sering digunakan adalah wawancara mendalam untuk menggali pengalaman partisipan.

2. Penelitian Etnografi

Etnografi merupakan penelitian yang bertujuan mempelajari budaya suatu kelompok masyarakat secara mendalam. Peneliti biasanya terlibat langsung dalam kehidupan kelompok yang diteliti.

Tujuannya adalah memahami nilai, norma, kebiasaan, dan pola interaksi sosial dalam komunitas tersebut.

Contoh penelitian etnografi:

  • Budaya belajar siswa di pesantren
  • Tradisi pendidikan dalam masyarakat adat
  • Praktik ibadah dalam komunitas gereja

3. Penelitian Studi Kasus

Studi kasus merupakan penelitian yang berfokus pada satu kasus tertentu secara mendalam. Kasus yang diteliti dapat berupa individu, kelompok, lembaga, maupun suatu program.

Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif terhadap suatu kasus secara menyeluruh.

Contoh penelitian studi kasus:

  • Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan
  • Implementasi kurikulum di sebuah sekolah
  • Pelayanan sosial dalam suatu gereja

4. Penelitian Grounded Theory

Grounded theory adalah jenis penelitian kualitatif yang bertujuan menghasilkan teori baru berdasarkan data lapangan.

Dalam penelitian ini, teori tidak ditentukan sejak awal, tetapi dibangun dari proses analisis data yang diperoleh melalui penelitian.

Proses penelitian biasanya meliputi:

  • Pengumpulan data
  • Pengkodean data (coding)
  • Kategorisasi konsep
  • Penyusunan teori

5. Penelitian Naratif

Penelitian naratif berfokus pada cerita atau kisah hidup seseorang. Peneliti mengumpulkan pengalaman hidup partisipan dan menyusunnya menjadi sebuah narasi.

Pendekatan ini sering digunakan dalam penelitian pendidikan, psikologi, dan teologi.

Contoh penelitian naratif:

  • Kisah hidup seorang pendeta dalam pelayanan
  • Perjalanan karier seorang guru
  • Pengalaman iman seseorang

6. Penelitian Deskriptif Kualitatif

Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan menggambarkan fenomena secara sistematis dan faktual sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan.

Jenis penelitian ini banyak digunakan dalam penelitian pendidikan karena mampu menjelaskan realitas yang terjadi tanpa manipulasi variabel.

Contoh penelitian:

  • Strategi pembelajaran guru Pendidikan Agama Kristen
  • Peran dosen dalam meningkatkan literasi mahasiswa
  • Implementasi metode pembelajaran di sekolah

Kesimpulan

Penelitian kualitatif memiliki berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Beberapa jenis penelitian kualitatif yang sering digunakan antara lain fenomenologi, etnografi, studi kasus, grounded theory, penelitian naratif, dan deskriptif kualitatif.

Pemilihan jenis penelitian harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, fokus masalah, serta konteks penelitian yang akan dikaji.

Saturday, April 10, 2021

Ruang Iklan Metodologi

Pemilik blog menyediakan ruang iklan bagi yang hendak promosi produk. Ruang iklan tentu menjadi sesuatu yang penting dalam dunia pendidikan, khususnya dalam penelitian sepertibuku-buku metodologi penelitian. Bagi bapak/ibu/sdr/sdri pengunjung yang hendak mempromosikan produk melalui blog ini dapat menghubungi kami di alamat yang telah dicantumkan. Saya menerima banner iklan dengan ukuran sbb:


ukuran banner 250 x 300.
Ukuran banner 970 x 90
Ukuran banner Jumbo 300 x 1050 Bahkan ukuran 1 laman blog.

Untuk harga kita dapat sepakati bersama. Yang Berminat silakan hubungi saya melalui:

Nama : Yonas Muanley
Hp : 081388662585
Email : yonasmuanley@gmail.com


Pasang Iklan Anda disini




Bagi yang mau memasang iklan untuk dipublikasikan di weblog ini silakan menghubungi kami. Promosi di blog sangat efektif karena blog dapat efektif berada dalam halaman 10besar google. Ukuran iklan dari ukuran 250x300 sampai pada ukuran yang besar seperti 970 x 90 dan ukuran jumbo 600 x1050 dan seterusnya. Tentu semuanya berpulang kepada pemilik produk atau para sponsor yang mau mempromosikan produknya melalui blog ini.



Promosi dalam dunia Pendidikan seperti promosi kuliah, penerimaan mahasiswa baru, kuliah online yang telah terakreditasi, promosi entrepreneur seperti digital preneur, usaha online dan usaha-usaha lainnya. Topik ini menjadi salah satu pokok percakapan dari Capres hari ini tanggal, 17 Februari 2019. Pertanyaan salah satu calon Presiden yaitu usaha online di Indonesia.

Bila Anda berminat silakan hubungi saya untuk memasang iklan Anda di blog ini.

Friday, October 23, 2020

Kritik Metodologi Kualitatif Reviewer

Beberapa hari belakangan ini saya mendapat sebuah pengalaman yang berharga. Pengalaman yang saya maksudkan yaitu seorang reviewer mengoreksi artikel ilmiah untuk Call Paper dari sebuah jurnal Nasional yang belum terakreditasi Nasional tetapi sudah mendapat legalitas sebagaimana layaknya perizinan sebuah jurnal dan penerbitan artikel. Tentu jurnal ini sedang dipersiapkan untuk masuk dalam akreditasi Nasional yang berlaku untuk setiap Jurnal Ilmiah di Indonesia. Saya memanfaatkan undangan atau Call paper yang disampaikan editor jurnal kemudian saya membuat sebuah jurnal dan submit di Jurnal tersebut. Beberapa minggu kemudian saya mendapat berita agar saya memeriksa artikel saya karena ada catatan dari Reviewer Jurnal. Saya kemudian memeriksanya dan ternyata ada beberapa catatan dari seorang reviewer. 

Pertama ada catatan di Abstrak, ia membuat catatan untuk saya memperhatikan Signifikansi dari tulisan saya. Membaca catatan ini saya geli membacanya karena dalam konteks karya ilmiah bila disebutkan kata signifikansi dalam bagian tertentu seperti di abstrak maka harus disebutkan angka signifikansinya. Tidak bisa disebut secara kualitatif dengan hanya menggunakan kata signifikan dengan sejumlah penjelsan singkat tentang signifikansi itu. Pada hal dalam Abstraksi, saya sudah menyebutkan metode penelitian yang saya pakai yaitu metode penelitian kualitatif dengan analisis data taksonomi domain. 

Bila reviewer ini mengerti penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan maka dengan membaca pernyataan saya pada bagian metodologi yaitu penggunaan metode dan analisis data maka ia mestinya paham bahwa signifikansi penelitian itu dapat dikemukakan dalam penelitian yang menggunakan metode penelitian kuantitatif. 

Dalam metode penelitian kuantitatif akan disebutkan temuan penelitian yang menunjukkan angka signifikansinya lalu disebutkan dalam bagian abstrak. Jadi, sayangnya reviewer yang hanya punya pengalaman meneliti secara teoritik (membaca buku) dan menuangkan menjadi sebuah artikel atau tidak pernah menggunakan metode penelitian kualitatif dalam penelitian seperti skripsi, tesis dan disertasi akan membuat catatan yang tidak cocok secara metodologis. Saya punya pengalaman penelitian kualitatif di penelitian kualitatif untuk disertasi saya. 

Pengalaman itu walaupun belum secara sempurna karena dalam penelitian teologi pendidikan yang menggunakan metodologi kualitatif dengan penelitian lapangan pada masa saya yaitu pada tahun 2012 itu sangat langka. Mungkin saya termasuk yang menggunakan metodologi kualitatif. Akan hal ini saya sudah kemukakan Bab III Disertasi saya da nada di blog ini bahkan saya sudah posting di OSF.IO  

Ya jadi saran saya yakni alami penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan. Jika tidak pernah melakukan penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan maka akan membuat catatan terhadap artikel ilmiah yang tidak berkualitas. Mereka yang paham soal penelitian kualitatif yang megadakan penelitian lapangan akan memahami secara baik pada bagian metodologi. Kira-kira penulis artikel ilmiah menggunakan metode penelitian apa dan metode analisis data yang dipakai. Kalau metode penelitian kuantitatif ya tentu analisis data secara stataistik (penggunaan SPSS).

Bila kualitatif maka penulis tersebut akan mengemukakan bahwa ia menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis data taksonomi domain. Bukan seperti yang biasa terjadi yaitu dalam abstraksi bahkan bagian metodologi disebut penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan riset pustaka dan menganalisis secara deskriptif. Ya sebenarnya semua metode penelitian tetap menggunakan kajian buku, dalam kajian buku tentu ada analisisnya dan dikemukan secara deskripsitif di bagian teori.

Bila saya menjadi reviewer maka catatan seperti yang dikemukakan oleh seorang reviever atas artikel saya khususnya pada bagian abstrak tidak perlu ada catatan seperti itu. Catatan itu menunjukkan betapa lemahnya metodologi kualitatif yang dipahami reviewer yang mengoreksi artikel saya.

Dalam abstraksi sudah jelas ada petunjuk atau pedoman dari jurnal tersebut yaitu dalam bagian Abstraksi sudah ada petunjuk yang jelas yaitu dalam abstrak, penulis cukup mengemukakan tujuan penelitian, metode yang dipakai, teori dan temuan. Saya sudah mengikuti aturan ini yakni saya mengemukakan apa yang menjadi tujuan penelitian dengan menyatakan demikian: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan sisi negative dan positif …, sedangkan untuk metode penelitian, saya menyakan dalam artikel saya demikian: Metode yang dipakai yakni metode penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis data taksonomi domain dan seterusnya untuk teori dan temuan penelitian secara singkat di Abstrak. Lalu catatan reviewer demikian: Lalu dimana letak relevansi dan signifikansinya bagi para ….? Catatan inilah yang membuat saya mengkritiknya. 

Jika saya menggunakan kata Signifikansi maka harus ada angka sesuai olah data dengan SPSS, sementara metode penelitian yang saya pakai adalah metode kualitatif dengan analisis data taksonomi domain. Mungkin bila saya berkesempatan bertanya kepada revier ini maka ia akan sulit memberi jawaban atas catatannya. Jarang dalam jurnal ilmiah teologi ada yang menyatakan saya menggunakan metodologi kualitatif dengan analisis data yang dikenal dalam buku-buku metodologi penelitian kualitatif. Yang ada hanya mengikuti kata orang dari waktu ke waktu tanpa ada alasan metodologi yang jelas. 

Saya menyatakan menggunakan metodologi kualitatif dengan analisis taksonomi domain karena memang secara metodologi disebutkan demikian dalam buku metodologi penelitian kualitatif. Sumbernya saya sudah cantumkan dalam catatan kaki yang berhubungan dengan metodologi. Dalam disertasi saya, saya menggunakan metodologi kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan dengan beberapa pilihan analisis data seperti taksonomi domain, trianggulasi dll. Lalu yang menyatakan memilih metode analisis data “triangulasi”. SIlakan baca Bab III Disertasi saya dalam blog ini.   

Selain itu ingat bahwa dalam metodologi penelitian kualitaif, peneliti atau penulis artikel ilmiah yang mengadakan peneltian lapangan adalah orang yang menjadi alat utama dalam mendapatkan data lapangan sesuai pokok yang diteliti. Biasanya disebut intrumen kunci. Ini berarti dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat memakai alat-alat di luar dirinya seperti menggunakan kuisioner, foto, rekaman untuk mendapatkan data di tempat penelitian. 

Penulis juga dapat menggunakan pengamatan dan wawancara. Setelah data terkumpul kemudian diolah dan dianalisis untuk menghasilkan informasi tentang variable atau konsep yang diteliti. Misalnya saya meneliti tentang Efektivitas Pemanfaatan Video Conference dalam Pembeajaran di STT …. Setelah membaca sejumlah buku yang membahas tentang teori efektivitas dan video conference seperti zoom dan google meet, saya kemudian menuangkan dalam bentuk tulisan. 

Biasanya di skripsi, tesis dan disertasi pokok di atas dikemukakan dalam Bab II sebagai bagian dari landasan teori atau teoritis-teologis, lalu melanjutkan ke tempat penelitian yaitu di STT yang dipilih. Lalu mengadakan penelitian sesuai metode penelitian yang dipilih. Bila memilih metode kuantitatif maka pilihan untuk mendapat data tentang Efektivitas Pemanfaatan Video Conference dalam Pembeajaran di STT yaitu menggunakan Kuisioner yang dikembangkan dari construct (definisi peneliti) yang tersimpul dari variable yang diteliti. Misalnya saya membuat construct penelitian untuk Efektivitas Pemanfaatan Video Conference dalam Pembeajaran di STT. Contructnya demikian: yang dimaksudkan dengan Efektivitas Pemanfaatan Video Conference dalam Pembeajaran di STT adalah ketercapaian tujuan pembelajaran melalui pemanfaatan video conference yang dilakukan di STT … dengan dimensi …. Dan indicator …. Nanti pernyataan atau pertanyaan di angket diambil dari definisi ini. Dengan begitu peneliti benar-benar menguji teori. Ini berlaku di penelitian kuantitatif. Jika kualitatif maka peneltian di lapangan tentu berbeda dengan penelitian kuantitatif. Yang kualitatif bias menyebar angket kemudian berdasarkan angket itu dianalisis lagi apakah benar demikian. Misalnya mahasiswa menyatakan mereka sangat memahami kuliah secara online. Lalu diamati lagi benarkah mereka sangat mengerti. Untuk itu diadakan wawancara. Di dalam wawancara akan Nampak sejauh mana tingkat pemahamannya. 

Bila saya menggunakan taksonomi domain maka saya kembangkan lagi pembelajaran di STT itu menjadi beberapa taksonomi seperti semester I, Semester II dan seterusnya sebagaimana yang ada dalam STT tersebut. Bila di STT tempat mengadakan penelitian hanya semester I dan V maka taksonomi juga hanya 2 (Taksonomi mahasiswa), kita kembangkan lagi taksonomi pengajar. Dalam taksonomi pengajar juga diperhatikan lagi, ada yang mahir IT ada juga yang masih gaptek maka sudah dapat dibayangkan efektifitas proses pembelajaran online tsb.

Salah satu yang membuat saya senang karena komunikasi dengan editor. Ia menyatakan masukan dari reviewer tidak mutlak diikuti seluruhnya. Saya pikir ini saran yang sangat brilian. Karena bisa saja reviewer belum punya pengalaman dalam metodologi penelitian seperti penelitian kualitatif yang tidak sebatas membaca buku tetapi dilanjutkan dengan penelitian lapangan yang disebut dengan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dalam konteks ini adalah penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan. Sebab kebenaran sebuah teori tidak berdasarkan buku semata tetapi juga berdasarkan temuan lapangan. Oleh karena itu kebenaran pengetahuan harusnya dari kebenaran rasional dan kebenran empiris atau dari membaca buku dan mengadakan penelitian lapangan.

Jadi, artikel di atas merupakan respon kemarahan ilmiah atas catatan reviewer terhadap artikel saya. Marah ilmiah karena reviewer kurang mengerti  metodologi kualitatif secara baik.Seharusnya ia memperhatikan kalimat penting yang saya pakai yaitu metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metodologi kualitatif dengan analisis data taksnonomi domain. Mari belajar metodologi yang sesuai teori (berdasarkan buku-buku) dan lakukan penelitian kualitatif baru paham seperti apa metodologi penelitian kualitatif. 

 

Salam

Thursday, September 26, 2019

Penelitian Kualitatif Tentang M-Learning

Hari ini saya membawakan sebuah topik seminar di Sekolah Tinggi Teologi dengan topik:"Mobile Learning di Sekolah Tinggi Teologi Kristen". Sebenarnya istilah dan praktik dari m-learning sudah lama ada di dunia pendidikan, namun kami baru tahu istilah tersebut tahun 2019. Jadi, sangat tertinggal. Informasi itupun saya peroleh karena akses di internet. Awalnya saya menemukan Program Blended Learning, lalu saya mencari informasi lanjutan, saya kemudian menemukan istilah "Mobile Learning".

Sebelum lanjut membaca, saya ucapkan selamat merayakan perayaan Imlek bagi mereka yang merayakannya pada tanggal 25 Januari 2020


Saya kemudian meresponinya dengan menerapkan Blended Learning dalam pembelajaran yang saya lakukan pada periode Agustus-Desember 2019. Saya tidak mengikuti pelatihan, namun saya belajar secara mandiri dengan mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang "Blended Learning" dan "Mobile Learning".






Ketika mendapat tawaran dari panitia seminar di salah satu STT di bilangan Jakarta Timur, saya langsung mengiayakan dengan mengusung tema seminar: "Mobile Learning". Saya memilih tema ini karena kini pengaruh Handphone sedemkian kuat, tidak ada dosen dan mahasiswa yang tidak memiliki handphone. Setiap civitas pasti memiliki handphone, kadang membuat dosen dan mahasiswa menjadi "generasi nunduk". Nunduk di saat makan, nunduk di saat menumpang mobil, nunduk pada saat seminar dll. Artinya dengan adanya handphone, membuat setiap orang menunduk dalam beberapa waktu untuk melihat handphone dan mulai meletakkan jari untuk bersentuhan dengan layar Android.
Dalam rangka penelitian kualitatif, seorang dosen atau mahasiswa dapat mengadakan penelitian tentang variabel "Mobile Learning" di Sekolah Tinggi Teologi.
Masalah yang terjadi yakni: Handphone sedemikian digandrungi oleh dosen dan mahasiswa. Setiap dosen pasti punya handphone, demikian juga para mahasiswa, pasti memiliki handphone. Namun seberapa banyak yang telah memanfaatkan Handphone sebagai salah satu bagian dari "Mobile Learning". Mungkin tidak banyak dosen dan mahasiswa yang menggunakan hp sebagai bagian dari mobile learning.
Ada sejumlah fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk membuat sebuah mata kuliah dapat dirancang dalam pembelajaran dengan metode Mobile Learning. Caranya sbb:
1. Buat materi dalam bentuk word maupun powerpoin
2. Punya email
3. Manfaatkan Google Draive
4. Shortener Link
5. Bagikan link yang sudah dipendekkan dengan shortener bit.ly
Bila telah mengikuti tahap di atas maka pembelajaran terhadap sebuah mata kuliah dapat dilakukan secara mobile learning dengan menggunakan "Handphone"

Semoga bermanfaat
Salam

YM

Thursday, July 18, 2019

Penelitian Kecantikan

Kecantikan adalah pernyataan kualitatif yang bila dihubungkan pada sebuah objek maka akan menjadi sebuah variabel yang dapat diteliti secara kualitatif. Kecantikan itu biasanya dihubungkan pada hal yang feminis.Misalnya nona cantik. Kita mendengar lagu "nona cantik siapa yang punya", perempuan cantik, artis cantik, model cantik, dan lain sebagainya.






Kecantikan pada wanita selalu terlihat pada wajah dan penampilannya. Dengan begitu mereka disebut cantik. Tampil secara cantik di depan kamera, tampil secara cantik di siaran TV, tampil secara cantik di pesta, tampil secara cantik pada saat berbelanja, tampil secara cantik dalam wisuda dll.


Struktur bahasan teori tentang kecantikan dapat dilakukan sebagai berikut

BAB II KAJIAN TEORI
1. Pengertian kecantikan
2. Faktor-faktor kecantikan dapat dicari untuk dibahas dalam kajian teori untuk penelitian tentang kecantian
3. Jenis-jenis kecantikan
4. Kecantikan alamiah
5. Kecantikan buatan
6. Kecantikan tiruan
dan beberapa kajian lain yang berhubungan dengan kecantikan.

Monday, March 4, 2019

Istilah-istilah Penelitian dalam Ilmu Pengetahuan

Dalam bidang keilmuan pasca penceraian dengan filsafat, ilmu-ilmu dalam bidang apapun mulai berusaha untuk otonom atau berdiri sendiri, katakanlah bercerai dari filsafat tetapi masih membutuhkan filsafat. Itu artinya filsafat selalu dibutuhkan oleh ilmu-ilmu yang katanya sudah otonom. Ilmu pasti pun masih butuh filsafat, misalnya Matematika masih membutuhkan filsafat, fisika juga masih butuh filsafat, dalam ilmu sosial apalagi, filsafat menjadi rebutan. Coba periksa saja kurikulum di Perguruan Tinggi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik pasti ada mata kuliah filsafat secara tersendiri atau terintegrasi dengan mata kuliah tertentu. Misalnya Ilmu membutuhkan filsafat sehingga ada mata kuliah filsafat Ilmu. Singkatnya dalam bidang kehidupan termasuk penelitian membutuhkan pemikiran mendalam terhadap realitas yang dihadapi. Realitas yang dihadapi adalah sesuai bidang keilmuan. Ada realitas Teologi, realitas Pendidikan, realitas matematika, realitas biologi, realitas kimia, realitas filsafat, realitas hukum, realitas etika, realitas ekonomi dan seterusnya.

Terhadap realitas yang bersifat khusus itulah berlaku penelitian yang pada akhirnya melahirkan ilmu mandiri. dengan demikian saya sepakat dengan Dr. Wirawan yang menulis buku Evaluasi ...Aplikasi dan Profesi, menyatakan:"ilmu pengetahuan mempunyai metode untuk melakukan penelitian ..." (Wirawan,2011:2). Untuk melakukan penelitian pada setiap bidang ilmu, maka ada beberapa istilah sebagai berikut:

1. Riset murni

Menurut Wirawan (2011:2) Riset murni adalah riset yang bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan melakukan penelitian untuk menciptakan teori-teori ilmu pengetahuan baru. Mereka yang melakukan riset murni adalah para ahli atau peneliti riset murni yang tertarik pada fenomena ilmu pengetahuan, punya waktu, tenaga, biaya serta alat yang memadai untuk melakukan penelitian. Jadi, tujuan utama penelitian ini hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, penelitian ini mementingkan unsur pengembangan atau temuan sebuah epistemology baru atas bidang ilmu pengetahuan, unsur aksiologinya yaitu apakah penelitian ini bermanfaat atau tidak, bertentangan dengan norma atau tidak, bertentangan dengan agama atau tidak, ia tidak mempertimbnagkannya. Yang difokuskan adalah "pengembangan ilmu pengetahuan". Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap ilmu ada ada riset murninya. Ya ini memang demikian tetapi manusia Pancasila yang mengadakan penelitian selalu berada pada paradigma 5 (lima) sila Pancasila, dengan sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa". Itulah sebabnya penelitian dalam bidang apapun tidak boleh bertentangan dengan Agama yang dianut di ndonesia.

2. Riset terapan
Menurut Wirawan (2011:2), riset terapan adalah riset yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan demikian masalah yang dihadapi masyarakat atau lembaga pendidikan dan lain sebagainya perlu diteliti dan hasil penelitian tersebut digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian jenis penelitian terapan yang dimaksudkan disini dapat meliputi:
(1) Riset evaluasi atau evaluation risearch
(2) Riset tindakan atau action research
Kita mungkin belum tahu siapa yang pertama kali melakukan penelitian tindakan, kita bersyukur ada yang menulis buku dan kita mendapatkan informasi yang disampaikan oleh Wirawan yang menghubungkan nama Kurt Lewin, seorang profesor dari perguruan tinggi berbentuk Institut dengan nama institutnya yaitu "Machassuset Institute Tecnologi", sang profesor ini mengadakan penelitian tindakan pada tahun 1944. Profesor ini kemudian memunculkan istilah action research dalam makalah dengan judul "Action and Minority Problem yang disampaikan pada tahun 1946. Profesor Kurt Lewin mendefinisikan dalam Wirawan (2011:3) yaitu action research adalah riset perbandingan mengenai kondisi dan pengaruh-pengaruh berbagai bentuk tindakan sosial dan penelitian yang mengarah pada tindakansosial yang memakai suatu langkah-langkah spiral, yang masing-masing membentuk suatu siklus perencanaan, tindakan, penemuan fakta mengenai hasil tindakan (https://en.wikipedia.org/wiki/Action Research).

(3) Riset Operasi
Riset ini disebut juga dengan istilah managament science.
Managament Science adalah penerapan metode dan teknik saintifik untuk pengambilan keputusan (Wirawan, 2011:3). Mengambil keputusan merupakan sebuah proses mengidentifikasi masalah dan sejumlah alternatif dan memilih salah satu alternatif yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah. Untuk mencapai maksud ini sering peneliti menggunakan:
(a) statistik
(b) optimisasi
(c) stokastik
(d) teori urutan
(e) teori permainan
(f) teori grafik
(g) simulasi
(h) modeling
(Wirawan, 2011:3)
Kiranya penjelasan di atas dapat membatu mereka yang sedang mencari salah satu istilah di antara informasi di atas