Saturday, February 23, 2019

Bab I dan II Riset Kualitatif Tentang Filsafat

FILSAFAT DALAM KAWALAN IMAN DAN LINDUNGAN KASIH


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Inti masalah dari judul ini yaitu adanya beragam sikap dan paradigma terhadap filsafat. Ada yang bersikap positif terhadap filsafat karena memiliki paradigma yang baik tentang filsafat. Namun ada pula yang bersifat negatif terhadap filsafat. Menurut mereka, filsafat dipandang sebagai momok yang dapat membayakan iman atau filsafat membuat orang tidak percaya lagi kepada TUHAN. Filsafat dianggap sebagai kucing hitam yang sedang duduk dibawah meja makan yang bersiap menerkam lauk di meja makan. Oleh karena itu kucing hitam ini harus diusir atau tidak perlu dipelajari. Pada waktu kuliah S1, penulis menemukan teman-teman yang menganggap belajar filsafat itu sangat membayakan iman bahkan dapat menyangkal iman kepada Yesus Kristus. Mereka merujuk kepada beberapa teolog yang karena demikian kuat menganut filsafat maka pandangan teologinya menyerang adanya TUHAN. Bahkan Alkitab dianggap sebagai buku yang sama dengan buku-buku lain. Ya ini tentu dalam konteks penulis sebagai orang Kristen.
Pertanyaan yang sudah tua yaitu apa hubungan Yunani Kuno (Filsafat) dengan Yerusalem (iman Kristen). Disini Yunani dan Yerusalem hanya sebagai istilah teknis untuk menunjuk pada komunitas pada kelompok yang menggunakan pikiran atau pikiran yang rasional dalam menjawab fenomena yang muncul dalam dunia Yunani Kuno pada waktu itu. Misalnya bencana yang selalu dihubungkan dengan kemarahan dewa tertentu, begitu muncul orang-orang yang menggunakan akalnya untuk menjawab fenomena alam tersebut maka kelompok ini disebut dengan para filsuf. Mereka yang menggunakan akalnya untuk memikirkan secara mendalam realitas yang ada. Misalnya salah satu realitas waktu itu yakni bencana alam. Bencana alam di Yunani Kuno tidak lagi disikapi dengan keyakinan yang bersifat mitologis yang seakan-akan menyatakan bahwa bencana terjadi karena kemarahan dewa di Yunani Kuno. Jadi, mereka yang menggunakan akal untuk memahami realitas adalah orang yang disebut filsuf. Filsuf seperti itu dapat diperhatikan dalam diri Plato dll.

B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif bersifat sementara. Fokus ini akan menjadi jelas dan sangat jelas setelah peneliti berada dalam latar penelitian. Dalam latar penelitian itu, peneliti akan menemukan secara natural dan empiris akan pokok yang diteliti. Penelitian kualitatif berusaha untuk menemukan teori dan bukan menguji teori. Dengan demikian rumusan fokus penelitian dalam judul ini yakni penelitian ini dibatasi pada Filsafat, iman dan Kasih. Jadi, ada tiga kata kunci yang menjadi fokus penelitian ini. Tiga kata kunci ini dapat dikaji dalam kajian teoritis dan teologis.

C. Rumusan Masalah

Pertanyaan masalah dalam pokok ini yaitu pertanyaan penelitian yang jawabannya dicari dalam penelitian secara teoritik maupun empiris (penelitian lapangan).

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif maka tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukan pemahaman luas dan mendalam terhadap situasi sosial dari Filsafat dalam kawalan iman dan lindungan kasih dalamkomunitas teologi.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini yakni:
1. Memberi kontribusi pengembangan disiplin ilmu yaitu filsafat Teologi
2. Menambah pengetahuan yang berguna bagi tugas mengajar di Sekolah Tinggi Teologi
3. Memberi kontribusi pemahaman filsafat kepada pengunjung blog

BAB II KAJIAN TEORI FILSAFAT DALAM KAWALAN IMAN DAN LINDUNGAN KASIH


A. Rekonstruksi Makna Filsafat

Lukisan Vatikan tentang para Filsuf berdasarkan pengalaman ketika menjadi mahasiswa yaitu ada sejumlah kesulitan memahami apa pengertian filsafat yang secara teknis operasional mendarat dan menjiwai seseorang dalam belajar filsafat dan menerapkannya. Saya kemudian mendapat salah satu jawaban, yaitu usaha mengerti filsafat secara baik, terukur dan mengyemangati roh filsafat dalam diri pelaku studi filsafat yaitu dengan memahami percakapan Sokrates dan murid-muridnya.
Robert R. Boehlke dalam bukunya berjudul “Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai Ig. Loyola (2013:2-3) mengutip Muchtar Jahya tentang contoh gaya mengajar Sokrates yang dibuat oleh Guru besar John Adams dari Universitas Oxford dengan isi tanya jawab sebagai berikut.
Sokrates: “Apakah yang dimaksud dengan serangga (insect) itu? Murid: “Serangga ialah binatang kecil bersayap.” (Murid yakin bahwa jawabannya itu benar) Sokrates: Kalau begitu, tentu ayampun boleh kita namai serangga.” Murid: Ayam bukan demikian kecilnya hingga dapat dinamai serangga. Ayam itu amat besar kalau dibandingkan dengan serangga.” Sokrates: “Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap.” Murid: “Betul!” Sokrates: “Kalau demikian, burung pipit dapat dinamai serangga, sebab dia demikian kecilnya”. Murid: “Tidak! Burung sekali-kali tidak dapat dinamai serangga, sebab dia demikian kecilnya.” Sokrates: Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, dia bersayap, tetapi bukan dari jenis burung.” Murid: “Benar” Sokrates: “Kemarin saya memasuki salah satu took, di dalamnya saya melihat kaleng-kaleng kecil. Pada masing-masing kaleng itu tertulis: Tepung keating yang paling manjur untuk memberantas serangga.” Pada masing-masing kaleng itu tergambar beberapa macam binatang kecil bukan dari jenis burung, tetapi tidak ada mempunyai sayap, umpama pijat-pijat, kutu kucing dll. Rupa-rupanya mereka salah menamakan binatang-binatang tersebut serangga, sebab masing-masing tidak bersayap. Adakah masuk akal serangga tidak bersayap, menurut yang telah kita tetapkan itu?” Murid: “Binatang-binatang tersebut memang serangga, semua orang tahu itu.” Sokrates: “Aneh, aneh. Apa pulakah arti serangga sekarang, menurut pikiranmu. Apakah sekaran kau berpendapat bahwa “Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap, bukan dari jenis burung, dan kadang-kadang tidak bersayap.’ Sesungguhnya perkataan ini amat berlawan-lawanan.” Murid: “Celaka! Pertanyaan-pertanyaan orang ini membosankan.

Percakapan kemudian dilanjutkan, Coba tuan sendiri yang menerangkan kepada kami, apa arti serangga itu, supaya kami puas dan tuanpun puas.” Sokrates: “Bukankah dari tadi saya bilang padamu bahwa saya sendiri pun tidak mengetahui. Sekarang mari kita periksa bersama-sama, moga-moga kita sampai pada hakikat sebenarnya. Jalan yang paling baik ialah kita ambil 3 atau 4 ekor serangga dari jenis yang bermacam-macam, kemudian kita bandingkan satu dengan yang lain, untuk mengetahui sifat-sifat yang sama. Apakah serangga yang akan kita ambil?” Murid: “Mari kita ambil kupu-kupu, semut, kerangga dan kumbang Sokrates: “Bagus” Berdasarkan jenis-jenis serangkan itu mereka merumuskan berdasarkan fakta tentang “apa itu serangga?”
Sampai pada akhir percakapan ini dapat dipahami bahwa usaha mendapatkan kebenaran suatu realitas harus berlangsung dalam proses berpikir yang mendalam yang berlangsung secara personal maupun komunal. Personal karena proses berpikir berkait dengan siapa yang berpikir atas sebuah realitas dan komunal karena bepikir seseorang tentang sebuah realitas yang menghantar pada sebuah kebenaran pengetahuan atas realitas tentu berhubungan dengan pikiran orang lain, atau pemikiran sebelumnya.
Pikiran adalah pemberian TUHAN. Tuhanlah yang memberi pikiran maka siapapun yang berfilsafat dan menemukan hasil filsafat maka harus diyakini berasal dari Tuhan. Oleh karena itu upaya berfilsafat kita lakukan dalam kawalan iman dan lindungan kasih. Dalam konteks demikian saya memposting artikel tentang arti filsafat berikut ini. Serangga ialah binatang beruas, kulitnya kesat, lagi keras, kakinya enam, mempunyai sayap, atau bekas sayap.” Berdasarkan percakapan dialogis di atas, kita belajar apa artinya berpikir radikal/mendalam terhadap salah satu realitas (Salah satnya: Serangga). Mudah-mudahan dialog diatas menolong kita memahami apa itu filsafat dalam arti berpikir mendalam/radikal terhadap realitas dan merumuskan realitas tersebut yang kemudian menghasilkan kebenaran.

Belajar filsafat memang menyenangkan tetapi juga membingungkan. Hal yang terakhir ini disebabkan karena terdapat ragam pengertian tentang filsafat. Saya tidak menjanjikan dan menjamin bahwa materi ini memberi sumber pemahaman yang tuntas tentang apa itu filsafat. Hal itu sulit diwujudkan. Namun perlu disadari bahwa keragaman pengertian filsafat bukanlah sesuatu yang menyesatkan, hal itu wajar saja karena setiap orang memberi arti sesuai dengan pemahamannya. Selanjutnya sesuai dengan topik yakni "pengertian filsafat" maka dalam postingan ini saya menjelaskan tentang pengertian filsafat. Pengertian yang saya paparkan ini telah mendorong/mensemangati saya dalam mengajar Filsafat Ilmu dalam bidang Pendidikan Kristen maupun Teologi Penggembalaan.

Menurut Jan Hendrik Rapar, filsafat adalah mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan karena memang filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu. Menurut para rohaniawan dan teolog menyatakan filsafat sebagai “ancilla theologiae”, yaitu budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi, filsafat memiliki tugas memformulasikan argumentasi-argumentasi yang kuat untuk membela isi iman Kristen. Ada pula rohaniawan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat iblis terkutuk. Karena itu harus ditolak oleh semua orang beriman. Tudingan ini tidak sepenuhnya benar, Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai robot, manusia memiliki pikiran. Dengan pikiran itu manusia berfilsafat (berpikir). Namun tidak kegiatan berpikir dikategorikan filsafat. Berpikir yang dikategorikan filsafat adalah berpikir yang berlangsung dalam syarat-syarat tertentu (Rapar, 2000:12-13).

Memang harus diakui bahwa berpikir yang berciri filsafat dapat membawa seseorang pada dua pilihan, yaitu kesetiaan kepada iman atau penyimpangan iman (alias tidak mengakui adanya Tuhan). Oleh karena itu berfilsafat harus berlangsung dalam kawalan iman dan perlindungan kasih. Untuk memahami filsafat, maka saya merumuskan pengertian filsafat dalam dua pendekatan. Pertama, secara etimologi dan kedua secara konseptual (definisi para ahli filsafat). Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, dari kata “philosophia”. Kata “philosophia” merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata: “philos” dan “Sophia”. Kata “philos” berarti kekasih, atau bisa juga sahabat. Sedangkan “Sophia” berarti kebijaksanaan atau kearifan atau juga pengetahuan. Jadi, arti harafiah “philosophia” berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan. Definisi para ahli: Plato dalam Jan Hendrik Rapar menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada atau filsafat adalah usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus (Louis O. Kattsoff, 1996:2).

Aristoteles (Murid Plato) mengemukakan beberapa pengertian filsafat. Pertama, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada. Kedua, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku peri ada” (being as being) atau peri ada sebagaimana adanya (being as such).

Rene Descartes (Filsuf Prancis) Argumen yang terkenal dari Descartes yakni: “Aku berpikir maka aku ada” (cogito ergo sum). Jadi, filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia. William James (Filsuf Amerika), Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R.F. Beerling (mantan guru besar filsafat UI) menyatakan filsafat adalah suatu usaha untuk mencari radix atau akar pengetahuan tentang diri sendiri. Louis Kattsoff, filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Kegiatan kefilsafatan ialah pemikiran secara sistematis. Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh/komprehensif (Louis O. Kattsoff, 1996:3-4, 6, 12).
Berpikir radikal (berpikir mendalam) tidak berarti mengubah, membuang, atau menjungkirbalikan segala sesuatu, melainkan dalam arti sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal sebenarnya hendak memperjelas realitas, lewat penerimaan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri (Rapar, 2000:21)

Menurut Yonas Muanley, filsafat adalah berpikir radikal atau berpikir mendalam terhadap realitas (realitas/ada secara menyeluruh maupun salah satu realitas). Kita memiliki banyak realitas. Misalnya realitas yaitu ada sesama kita yang menyerang iman Kristen maka kita memerlukan Apologetika. Dalam berapologetika kita mebutuhkan filsafat yang berlindung dalam kawalan kasih dan lindungan iman. Semoga memahami filsafat

B. Filsafat Dalam Kawalan Iman

Dalam paparan di atas jelas bahwa berfilsafat adalah upaya dewasa dalam memanfaatkan pikiran yang ada pada seseorang. Pikiran adalah pemberian Tuhan. Dalam terminologi teologi Kristen, manusia dicipta segambar dan serupa dengan TUHAN (Kejadian 1:26). Oleh karena manusia adalah makluk ciptaan Tuhan maka ada pada manusia kemampuan mencipta dan membaharui apa yang sudah tercipta dari hasil berpikir manusia.
Bila kita merujuk pada proses filsafat maka kita sadar bahwa berpikir radikal dapat membawa seseorang pada dua konsekwensi, yaitu: (1) tetap setia pada iman (percaya Tuhan) atau (2) lebih mengandalkan pikiran atau bicara Tuhan itu sesuatu yang tidak rasional, atau bagian ini disebut dengan berfilsafat yang membuat seseorang menyangkal Tuhan dan lebih memilih kemampuan berpikir manusia. Dalam sejarah,khususnya abad pertengahan, orang-orang Kristen berjuang dalam pergumulan antara iman dan rasional. Dalam pendekatan teologi Kristen ada yang disebut dengan zaman rasionalisme yang mengutamakan akal di atas iman. Sehingga muncul pertanyaan: Apa hubungan Yunani dan Yerusalem. Maksudnya antara rasio dan iman?. Dalam terminologi iman Kristen, hubungan antara filsafat dan iman dapat dipahami dalam frasa ‘manusia dicipta segambar dan serupa dengan TUHAN (Kejadian 1:26). Lengkapnya ayat ini demikian:

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Dalam paradigma pemahaman bahwa pikiran dan iman adalah pemberian Tuhan maka keduanya dapat digunakan secara baik sehingga tidak bertentangan bahkan sampai menolak yang satu diantara dua pemberian TUHAN itu. Maksudnya pikiran dan iman. Itulah sebabnya berfilsafat harus terjadi dalam kawalan iman. Jika tidak demikian maka pikiran akan menyesatkan. Itulah sebabnya iman dan pikiran dapat berjalan secara bersama-sama dalam diri seseorang karena keduanya adalah pemberian TUHAN.

C. Filsafat Dalam Lindungan Kasih

Filsafat dalam lindungan kasih adalah pemikiran mendalam dalam diri seseorang yang tentu dilakukan bukan untuk menyesatkan orang lain atau merugikan orang lain melainkan filsafat dapat dipakai untuk kebaikan manusia.

Kasih dalam terminologi iman Kristen dipahami sebagai tindakan seperti: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak meyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidak adilan, tetapi bersukacita karena kebenaran (sofi), menutupi sesuatu, percaya segala sesuatu,megharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu (I Kor. 13:4). Teks ini memang harus di epistemologikan dalam pendekatan eksegetis yang dilakukan pakar biblika (ahli yang menafsir Teks Perjanjian Baru). Kasih bila merujuk pada diri Yesus maka kasih tidak lain adalah pengorbanan tanpa pamrih.

Jadi dalam konteks iman Kristen, penulis menyatakan bahwa filsafat dalam lindungan kasih yang penulis maksudkan yaitu filsafat mesti dilakukan untuk kebaikan manusia. Bila filsafat tidak dilindungi kasih maka orang Kristen (mahasiswa dan dosen teologi dan PAK) akan menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menyombongkan diri dan menyerang lawan dalam dunia akademis teologis secara tidak bertanggungjawab.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.