This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, September 26, 2019

Penelitian Kualitatif Tentang M-Learning

Hari ini saya membawakan sebuah topik seminar di Sekolah Tinggi Teologi dengan topik:"Mobile Learning di Sekolah Tinggi Teologi Kristen". Sebenarnya istilah dan praktik dari m-learning sudah lama ada di dunia pendidikan, namun kami baru tahu istilah tersebut tahun 2019. Jadi, sangat tertinggal. Informasi itupun saya peroleh karena akses di internet. Awalnya saya menemukan Program Blended Learning, lalu saya mencari informasi lanjutan, saya kemudian menemukan istilah "Mobile Learning".

Sebelum lanjut membaca, saya ucapkan selamat merayakan perayaan Imlek bagi mereka yang merayakannya pada tanggal 25 Januari 2020


Saya kemudian meresponinya dengan menerapkan Blended Learning dalam pembelajaran yang saya lakukan pada periode Agustus-Desember 2019. Saya tidak mengikuti pelatihan, namun saya belajar secara mandiri dengan mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang "Blended Learning" dan "Mobile Learning".






Ketika mendapat tawaran dari panitia seminar di salah satu STT di bilangan Jakarta Timur, saya langsung mengiayakan dengan mengusung tema seminar: "Mobile Learning". Saya memilih tema ini karena kini pengaruh Handphone sedemkian kuat, tidak ada dosen dan mahasiswa yang tidak memiliki handphone. Setiap civitas pasti memiliki handphone, kadang membuat dosen dan mahasiswa menjadi "generasi nunduk". Nunduk di saat makan, nunduk di saat menumpang mobil, nunduk pada saat seminar dll. Artinya dengan adanya handphone, membuat setiap orang menunduk dalam beberapa waktu untuk melihat handphone dan mulai meletakkan jari untuk bersentuhan dengan layar Android.
Dalam rangka penelitian kualitatif, seorang dosen atau mahasiswa dapat mengadakan penelitian tentang variabel "Mobile Learning" di Sekolah Tinggi Teologi.
Masalah yang terjadi yakni: Handphone sedemikian digandrungi oleh dosen dan mahasiswa. Setiap dosen pasti punya handphone, demikian juga para mahasiswa, pasti memiliki handphone. Namun seberapa banyak yang telah memanfaatkan Handphone sebagai salah satu bagian dari "Mobile Learning". Mungkin tidak banyak dosen dan mahasiswa yang menggunakan hp sebagai bagian dari mobile learning.
Ada sejumlah fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk membuat sebuah mata kuliah dapat dirancang dalam pembelajaran dengan metode Mobile Learning. Caranya sbb:
1. Buat materi dalam bentuk word maupun powerpoin
2. Punya email
3. Manfaatkan Google Draive
4. Shortener Link
5. Bagikan link yang sudah dipendekkan dengan shortener bit.ly
Bila telah mengikuti tahap di atas maka pembelajaran terhadap sebuah mata kuliah dapat dilakukan secara mobile learning dengan menggunakan "Handphone"

Semoga bermanfaat
Salam

YM

Thursday, July 18, 2019

Penelitian Kecantikan

Kecantikan adalah pernyataan kualitatif yang bila dihubungkan pada sebuah objek maka akan menjadi sebuah variabel yang dapat diteliti secara kualitatif. Kecantikan itu biasanya dihubungkan pada hal yang feminis.Misalnya nona cantik. Kita mendengar lagu "nona cantik siapa yang punya", perempuan cantik, artis cantik, model cantik, dan lain sebagainya.






Kecantikan pada wanita selalu terlihat pada wajah dan penampilannya. Dengan begitu mereka disebut cantik. Tampil secara cantik di depan kamera, tampil secara cantik di siaran TV, tampil secara cantik di pesta, tampil secara cantik pada saat berbelanja, tampil secara cantik dalam wisuda dll.


Struktur bahasan teori tentang kecantikan dapat dilakukan sebagai berikut

BAB II KAJIAN TEORI
1. Pengertian kecantikan
2. Faktor-faktor kecantikan dapat dicari untuk dibahas dalam kajian teori untuk penelitian tentang kecantian
3. Jenis-jenis kecantikan
4. Kecantikan alamiah
5. Kecantikan buatan
6. Kecantikan tiruan
dan beberapa kajian lain yang berhubungan dengan kecantikan.

Monday, March 4, 2019

Istilah-istilah Penelitian dalam Ilmu Pengetahuan

Dalam bidang keilmuan pasca penceraian dengan filsafat, ilmu-ilmu dalam bidang apapun mulai berusaha untuk otonom atau berdiri sendiri, katakanlah bercerai dari filsafat tetapi masih membutuhkan filsafat. Itu artinya filsafat selalu dibutuhkan oleh ilmu-ilmu yang katanya sudah otonom. Ilmu pasti pun masih butuh filsafat, misalnya Matematika masih membutuhkan filsafat, fisika juga masih butuh filsafat, dalam ilmu sosial apalagi, filsafat menjadi rebutan. Coba periksa saja kurikulum di Perguruan Tinggi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik pasti ada mata kuliah filsafat secara tersendiri atau terintegrasi dengan mata kuliah tertentu. Misalnya Ilmu membutuhkan filsafat sehingga ada mata kuliah filsafat Ilmu. Singkatnya dalam bidang kehidupan termasuk penelitian membutuhkan pemikiran mendalam terhadap realitas yang dihadapi. Realitas yang dihadapi adalah sesuai bidang keilmuan. Ada realitas Teologi, realitas Pendidikan, realitas matematika, realitas biologi, realitas kimia, realitas filsafat, realitas hukum, realitas etika, realitas ekonomi dan seterusnya.

Terhadap realitas yang bersifat khusus itulah berlaku penelitian yang pada akhirnya melahirkan ilmu mandiri. dengan demikian saya sepakat dengan Dr. Wirawan yang menulis buku Evaluasi ...Aplikasi dan Profesi, menyatakan:"ilmu pengetahuan mempunyai metode untuk melakukan penelitian ..." (Wirawan,2011:2). Untuk melakukan penelitian pada setiap bidang ilmu, maka ada beberapa istilah sebagai berikut:

1. Riset murni

Menurut Wirawan (2011:2) Riset murni adalah riset yang bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan melakukan penelitian untuk menciptakan teori-teori ilmu pengetahuan baru. Mereka yang melakukan riset murni adalah para ahli atau peneliti riset murni yang tertarik pada fenomena ilmu pengetahuan, punya waktu, tenaga, biaya serta alat yang memadai untuk melakukan penelitian. Jadi, tujuan utama penelitian ini hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, penelitian ini mementingkan unsur pengembangan atau temuan sebuah epistemology baru atas bidang ilmu pengetahuan, unsur aksiologinya yaitu apakah penelitian ini bermanfaat atau tidak, bertentangan dengan norma atau tidak, bertentangan dengan agama atau tidak, ia tidak mempertimbnagkannya. Yang difokuskan adalah "pengembangan ilmu pengetahuan". Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap ilmu ada ada riset murninya. Ya ini memang demikian tetapi manusia Pancasila yang mengadakan penelitian selalu berada pada paradigma 5 (lima) sila Pancasila, dengan sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa". Itulah sebabnya penelitian dalam bidang apapun tidak boleh bertentangan dengan Agama yang dianut di ndonesia.

2. Riset terapan
Menurut Wirawan (2011:2), riset terapan adalah riset yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan demikian masalah yang dihadapi masyarakat atau lembaga pendidikan dan lain sebagainya perlu diteliti dan hasil penelitian tersebut digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian jenis penelitian terapan yang dimaksudkan disini dapat meliputi:
(1) Riset evaluasi atau evaluation risearch
(2) Riset tindakan atau action research
Kita mungkin belum tahu siapa yang pertama kali melakukan penelitian tindakan, kita bersyukur ada yang menulis buku dan kita mendapatkan informasi yang disampaikan oleh Wirawan yang menghubungkan nama Kurt Lewin, seorang profesor dari perguruan tinggi berbentuk Institut dengan nama institutnya yaitu "Machassuset Institute Tecnologi", sang profesor ini mengadakan penelitian tindakan pada tahun 1944. Profesor ini kemudian memunculkan istilah action research dalam makalah dengan judul "Action and Minority Problem yang disampaikan pada tahun 1946. Profesor Kurt Lewin mendefinisikan dalam Wirawan (2011:3) yaitu action research adalah riset perbandingan mengenai kondisi dan pengaruh-pengaruh berbagai bentuk tindakan sosial dan penelitian yang mengarah pada tindakansosial yang memakai suatu langkah-langkah spiral, yang masing-masing membentuk suatu siklus perencanaan, tindakan, penemuan fakta mengenai hasil tindakan (https://en.wikipedia.org/wiki/Action Research).

(3) Riset Operasi
Riset ini disebut juga dengan istilah managament science.
Managament Science adalah penerapan metode dan teknik saintifik untuk pengambilan keputusan (Wirawan, 2011:3). Mengambil keputusan merupakan sebuah proses mengidentifikasi masalah dan sejumlah alternatif dan memilih salah satu alternatif yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah. Untuk mencapai maksud ini sering peneliti menggunakan:
(a) statistik
(b) optimisasi
(c) stokastik
(d) teori urutan
(e) teori permainan
(f) teori grafik
(g) simulasi
(h) modeling
(Wirawan, 2011:3)
Kiranya penjelasan di atas dapat membatu mereka yang sedang mencari salah satu istilah di antara informasi di atas

Contoh Rumusan rumusan dalam Bab I Pendahuluan

Contoh Rumusan rumusan dalam Bab I Pendahuluan
B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat diidentivikasi sejumlah masalah pada efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel, STT Paulus sebagai berikut:

1. Ada indikasi sebagian dosen di STT masih menerapkan pembelajaran berbasis materi dan bukan berbasis tujuan atau efektivitas proses pembelajaran di STT.
2. Ada indikasi bahwa sebagian dosen hanya memanfaatkan apa yang sudah ada.
3. Ada indikasi bahwa rumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator-indikatornay tidak dilaksanakan secara baik atau kompetensi paedagogik dalam merumuskan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator-indikatornya dengan kata kerja operasional yang relevan untuk domein kognitif, afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan secara baik.
4. Ada indikasi bahwa dosen tidak mengimplementasi pembuatan kontrak pembelajaran, silabus dan SAP sesuai teori pelatihan yang telah diperoleh dalam pelatihan Applied Approach yang diselenggarakan oleh Universitas maupun oleh Dirjen Bimas Kristen Protestan.
5. Ada indikasi bahwa belum tampak adanya keinginan/motivasi berprestasi dari dosen dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran.
6. Ada indikasi bahwa pembelajaran setiap mata kuliah kurang terintegrasi dengan pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus Kristus dengan mata kuliah yang diasuhnya.
7. Ada indikasi bahwa dosen di STT memiliki blog, baik yang berbasis wordpress.com (www.wordpress.com), blogspot.com (www.blogspot.com) tetapi belum dimanfaatkan untuk proses pembelajaran terhadap mata kuliah yang diasuhnya.
8. Ada indiaksi bahwa dosen di STT kurang memanfaatkan Blog gratis (blogspot dan wordpress), khususnya hosting wordpress. Sementara banyak universitas-universitas di di Indonesia telah memanfaatkan blog untuk keperluan pembelajaran, misalanya blog terbaik adalah blog Dosen dan Mahasiswa Universitas Naratoma, dan disusul dengan universitas lainnya, di STT sangat jarang memanfaatkan weblog untuk proses pembelajaran, pada hal wordpress dan blogspot menjadi media yang sangat relevan untuk dosen mempublish tulisan-tulisan akademis, termasuk mata kuliah 9. Ada indikasi bahwa dosen di STT kurang memanfaatkan weblog berbasis free weblog (wordpress dan blogspot.com dll) untuk mata kuliah yang diasuhnya dalam proses pembelajaran.
10. Diduga dosen di STT engan memasukan kontrak pembelajaran, silabus dan materi kuliah dalam weblog yang dapat diakses mahasiswa secara online.
11. Ada indikasi dosen kurang memanfaatkan media pembelajaran online
12. Ada indikasi dosen lebih banyak memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran
13. Ada indikasi dosen kurang memanfaatkan metode pembelajaran secara fariatif
14. Ada indikasi dosen hanya menggunakan metode kuliah atau ceramah pada setiap kali pertemuan.
15. Ada indikasi bahwa dosen hanya menggunakan evaluasi kognitif
16. Ada indikasi bahwa dosen kurang menggunakan evaluasi untuk ranah afektif dan psikomotorik
17. Ada indikasi bahwa dosen tidak menulis bahan ajar secara baik

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identivikasi masalah di atas menjadi jelas bahwa ada banyak variabel yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Variabel-variabel yang mempengaruhi itu disebut variable bebas (independent variable), yang mempengaruhi variable pokok/utama yang telah ditetapkan sebagai variable terikat, variable ini biasa disimbolkan dengan Y, sedangkan variabel bebas disimbolkan dengan X (X1, X2, X3, X4 dst.)

Dalam penelitian ini sesuai identifikasi masalah maka variable bebas dibatasi pada kompetensi paedagogis (X1/ identifikasi masalah no. 1), motivasi berprestasi dosen (X2/identifikasi masalah no.3 ), integrasi pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus (X3/identivikasi masalah no. 8), pemanfaatan weblog (free weblog/blog) dalam proses pembelajaran (X4/identifikasi masalah no.4). Apakah lima variable itu mempengaruhi efektivitas atau tercapainya tujuan pembelajaran yaitu perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dengan kata lain, berdasarkan sejumlah masalah di atas, perlu dibuat batasan masalah penelitian dengan maksud agar secara penelitian ini dilakukan secara terarah, selain itu efektivitas waktu, dana dan daya untuk menyelesaikannya. Dengan demikian fokus penelitian ini diarahkan pada beberapa variable bebas yaitu: Kompetensi Paedagogis Dosen, Motivasi Berprestasi Dosen, integrasi Pendidikan Karakteristik Unggul Berbasis Didaktik Yesus Kristus dengan mata kuliah, Pemanfaatan Free WebBlog Sebagai Bahan Ajar Online dan sebagai Media Instruksional. Variabel-variabel ini sifatnya independen dan memiliki pengaruh terhadap variable utama disertasi ini yaitu: efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel.

D. Perumusan Masalah

Penelitian ini memerlukan pertanyaan pengarah yang hendak dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 2. Bagaimana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 3. Bagaimana pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 4. Bagaimana pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 5. Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen, motivasi berprestasi dosen, pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus, pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran secara sendiri-sendiri dan bersama-sama berpengaruh terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui sejaumana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
3. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus terhadap efektivitas proses
4. pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
5. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemanfaatan blog sebagai bahan ajar online dan media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

Contoh Bab III Metode Penelitian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian yang digunakan

Menurut Ronny Kountur, metode penelitian adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah yang dimaksud dalam definisi ini yaitu suatu penelitian ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan dan menguji hipotesis atau menemukan teori serta membuat kesimpulan (Ronny Kountur, 2007:7)

Sedangkan Sugiyono mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam definisi ini ditekankan beberapa kata penting, yakni cara ilmiah yaitu kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yakni rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian yang dilakukan bersifat dapat diterima akal sehingga terjangkau oleh penelaran manusia.

Empiris berarti penelitian yang dilakukan melalui pengamatan indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis berarti proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis (Sugiyono, 2008:3)

Selanjutnya metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni penelitian kepustakaan (Library Research) artinya penulis mengadakan studi terhadap literatur yang ada, dan menyusun data tersebut secara sistematis (M. Nazir, 1998:l11-112). Sedangkan metode penulisan skripsi ini adalah Metode Deskriptif, yaitu metode dalam menulis suatu situasi dan kondisi atau peristiwa pada masa sekarang.

Penelitian Deskriptif (Descriptive Research), bermaksud membuat penyadaran secara sistematis, aktual, dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Ibid, 43)

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai sejak …….. sampai …….. 2017 yang diawali dengan pengajuan judul penelitian dan pengujian proposal penelitian dan penelitian lapangan secara kualitatif (Riset Teoritik)

C. Teknik Pengumpulan Data

Lexy J. Moleong mengklasifikasi teknik penelitian atau pengumpulan data dalam beberapa kategori, yaitu (1) sumber data dan jenis data yang diperoleh melalui: (a) kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai. (b) sumber tertulis yang dibagi lagi menjadi data dari sumber buku, majalah ilmiah. sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. (c) Foto menghasilkan data deskriptif dengan kategori foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri. Foto yang dimaksud disini yaitu foto tentang orang dan latar penelitian yang sesuai dengan variable yang diteliti. Latar penelitian dalam foto dapat diamati dengan teliti, foto juga dapat memberi gambaran tentang perjalanan sejarah orang yang ada didalamnya.

Dari foto diketahui gambaran tentang posisi duduk di gereja, keadaan duduk santai, dan gembira ria, keadaan anggota gereja dan lain sebagainya. Foto digunakan untuk memahami bagaimana para subjek penelitian memandang duniannya (Lexy J. Moleong, 1999:114).

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui dua sumber utama, yaitu: Sumber sekunder atau data sekunder. Data sukender adalah data yang bersumber dari penelitian orang lain yang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Data ini berupa fakta, table, gambar, dan lain-lain. Walaupun dibuat untuk maksud yang berbeda, data-data ini dapat dimanfaatkan peneliti lain untuk variable yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada riset pustaka.

D. Teknik analisa data

Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif belum ada teknik yang baku dalam menganalisa data, atau dalam analisa data kualitatif, tekniknya sudah jelas dan pasti, sedangkan dalam analisa data kualitatif, teknik seperti itu belum tersedia, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki oleh peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif

Contoh Abstrak

ABSTRAKSI
Nama mahasiswa)
2010 Karakter Guru Yang Berintegritas dan Implementasinya di Sekolah ....


Masalah penelitian ini adalah di mana dan kapanpun seorang guru PAK harus memiliki karakter yang baik karena guru adalah pendidik yang akan mengajar dan mendidik peserta didiknya dengan pendidikan agama yang bersumber dari Alkitab. Pendidikan adalah pembentukan karakter seseorang, maka pendidik sendiri harus mempunyai karakter yang bertangung jawab karena ini adalah merupakan dasar yang sangat penting. Perlu disadari pula bahwa kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor genetika/temperamen, bawaan lahir pengalaman individu dan lingkungan hidup yang memproduksi karakter dirinya. Pada kenyataannya karakter hanya dapat dilihat dari perkataan dan perilaku/perbuatan seseorang. Oleh karena itu, pendidikan dianggap sebagai salah satu unsur untuk pembentukan karatker. Setiap orangtua, guru di sekolah, guru sekolah Minggu, atau guru pribadi, adalah orang-orang yang diberi hak yang sangat besar oleh Tuhan untuk mendidik karakter anak. Dalam hal ini karakter merupakan bagian yang penting dari integritas, jika seseorang guru dipercayai oleh naradidik karena kejujuran seorang guru tersebut baik dari pengajarannya maupun kehidupannya maka guru tersebut akan akan mempengaruhi karakter peserta didik pada masa depannya atau kehidupan peserta didik di masa yang akan datang.

Seorang guru yang berintegritas harus konsisten antara kata-kata yang disertai dengan perbuatan, maka dengan demikian, seorang guru dapat menjadi panutan bagi naradidiknya. Namun guru yang berbasis karakter dan perilaku yang positif di dalam dirinya akan dikatakan guru tersebut mempunyai integritas karena merupakan dasar utama bagi seorang guru. Seseorang guru yang mempunyai integritas adalah orang yang menetapkan sistem norma untuk menilai sebuah kehidupan. Kehidupan seorang guuru dinilai dari semua eksisitensi kehidupannya termasuk pengajarannya serta nilai norma dan perilakunya baik di masyarakat maupun terhadap naradidiknya.

Masalah yang terjadi adalah guru berintegritas hanya pada waktu mengajar saja, tetapi ketika di luar jam mengajar kehidupannya tidak berintegritas. Kenyataan yang terjadi dapat saja seorang guru tidak lagi menjadi patokan dalam dirinya, dan seluruh hidupnya tidak menjadi contoh bagi peserta didik dan masyarakat yang ada. Karena bukan dari kesungguhan hatinya dalam mengajar justru guru tersebut melakukan tugasnya hanya sekedar profesi, bukan guru berpikir bahwa tugas tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap Tuhan. Tetapi oleh karena tuntutan zaman yang terdesak seperti ekonomi yang kurang tercukupi dalam keluarga, keinginan sukses yaitu kekayaan dan hawa nafsu. Inilah yang menjadi suatu kendala yang cukup berat bagi seorang guru, karena akan membentuk karakter pribadi seorang guru.

Untuk menyelesaikan masalah ini maka penulis memakai metode riset pustaka yang relevan dengan judul dan isi skripsi. Penulisan bersifat analisis deskriptif. Yaitu data berupa pernyataan dan pandangan tentang masalahnya yang disoroti, dan bersifat deskriptif yaitu usaha melaporkan suatu objek atau suatu keadaan tanpa menarik kesimpulan. Akhirnya isi skripsi ini dapat bermanfaat.

Jumlah kata 438 :

Penulis

Sunday, February 24, 2019

Contoh Bab II Penelitian Kualitatif


“PENGARUH MEDIA MENGAJAR GURU
TERHADAP MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK
DI SMA ......

BAB II
KAJIAN TEORI

Kajian Teori

Kajian Teori atau Studi perpustakaan merupakan proses umum yang biasa dipakai dalam penelitian, baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan maksud untuk mendapat informasi teori-teori terdahulu. Suryabrata sebagaimana dikutib oleh sugiyono berpendapat bahwa studi perpustakaan dilakukan untuk mencari: “teori-tiori konsep-konsep generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan segabai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitia (Sugiyono, 2011: 79) Adapun studi perpustakaan dalam penelitian ini berkenaan dengan variable penelitian media pembelajaran Pendidikan Kristen.


Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari kata latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. “media adalah berbagai jenis komponen komunikasi sebagai pembawak pesan dari komunikator menuju komunikasi dalam lingkungan siswa yang dapat memberikan rangsangan untuk belajar” (Daryanto, 2011: 4). Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga dapat terdorong terlibat dalam proses pembelajaran.
Asosiasi Teknologi Komunikasi di Amerika, membatasi bahwa media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Asosiasi Pendidikan Nasional memberikan batasan bahwa media merupakan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dan dibaca. Untuk lebih jelas dapat ditinjau pendapat Asosiasi Pendidikan Nasiona yang dikutip oleh Arief Sadiman, tentang media sebagai berikut : “Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang fikiran, perasaan, perlakuan, dan minat siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar mengajar terjadi.” (Sadiman, AS, 1993:7).
Hamalik berpendapat bahwa yang dimaksud dengan media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perlakuan dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Selanjutnya menurut Hamalik, media pengajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Media pendidikan identik artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan dapat diamati melalui panca indera.
2. Tekanan utama terletak pada benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat atau didengar.
3. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pengajaran anatara guru dan siswa.
4. Media pendidikan adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik di dalam kelas di luar kelas.
5. Berdasarkan poin 3 dan 4, maka pada dasarnya media pengajaran merupakan sebuah perantara dan digunakan dalam dunia pendidikan.
6. Media pendidikan mengandung aspek-aspek sebagai alat dan teknik, yang sangat erat kaitannya dengan metode mengajar (Hamalik, Oemar. 1994: 23)
Merujuk dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan dan dilihat persamaannya, dapat diambil pengertian media, media adalah segala bentuk yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perlakuan, perasaan dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Seiring dengan perubahan jaman dan kemajuan teknologi, fungsi dari media pendidikan bukan hanya sebagai alat bantu pengajaran saja, tetapi fungsinya telah bergeser. Fungsi yang dihasilkan dari pergeseran tersebut ialah bahwa media pembelajaran bisa juga digunakan sebagai sumber pemelajaran.

Stephen mengatakan Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. (Robbins, Stephen P. 2007:69). Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Jenis-Jenis Media Pembelajaran

Media pemelajaran mempunyai jenis dan karakteristik yang bermacam-macam. Para ahli melakukan pengelompokkan dan klasifikasi didasarkan pada kesamaan ciri atau karakteristik yang dimilki oleh tiap-tiap media pemelajaran tersebut. Ada berbagai jenis media pemelajaran yang banyak digunakan dalam proses belajar mengajar sekarang ini. Seiring dengan kemajuan jaman yang diikuti dengan kemajuan di bidang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) media pemelajaran pun mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kemajuan teknologi memunculkan berbagai macam media pengajaran dengan teknologi dan fasilitas yang lebih banyak disertai dengan dayaguna serta efisiensi yang lebih tinggi. Sebelum menggolongkan atau mengklasifikasikan media pengajaran tersebut alangkah baiknya peneliti mengenal dulu karakteristik media pengajaran tersebut.
Sadiman ( 1991:206) membagi media pemelajaran menjadi tiga bagian yaitu media auditif, media visual dan media audiovisual:

a. Media Auditif (media dengar) Media ini mengandalkan kemampuan suara yang digunakan untuk merangsang indera pendengaran pada waktu proses penyampaian bahan pemelajaran, misalnya : kaset, piringan hitam dan radio tape recorder.
b. Media Visual (media pandang atau lihat) Media visual mengandalkan indera penglihatan, digunakan untuk membantu indera penglihatan pada saat menerima mata pelajaran, misalnya : gambar, diagram, chart, peta (globe), slide film dan film bisu.
c. Media Audiovisual (media pandang dengar) Media ini mempunyai unsure suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media auditif dan media visual, misalnya : film, televisi, video cassette dan komputer.
Sadiman, mengidentifikasi ciri utama media menjadi tiga unsur pokok, yaitu: suara, visual, dan gerak. (Ibid., 35-36). Visual dibedakan menjadi tiga macam, yaitu gambar, garis, dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan.

Jenis Dan Fungsi Media Pembelajaran Bagi Guru Pak

Jenis-Jenis Media Pembelajaran

Menurut Gagne dalam buku Daryanto mengklafikasikan media menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk demonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, filem bersuara, dan mesin belajar (Daryanto, 2011:16)
Menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran dan kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas liam kelompok yaitu: media tampa proyeksi dua dimensi ; media tampa proyeksi tiga dimensi;audio;proyeksi;televise, video dan computer (Ibid)

Menurut Heinich, Molenda, Russel jenis media yang lazim dipergunakan dalam pembelajaran antara lain : media nonproyeksi, media proyeksi, media audio, media gerak, media komputer, komputer multimedia, hipermedia, dan media jarak jauh (Heinich, MR, 1982:8)
Jenis media dalam pembelajaran adalah: Ibid Halaman 35-36 a. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, diagram, kartun, poster, dan komik.
b. Media tiga dimensi yaitu media dalam bentuk model padat, model penampang, model susun, model kerja, dan diorama.
c. Media proyeksi seperti slide, film stips, film, dan OHP
d. Lingkungan sebagai media pembelajaran
Media pembelajaran adalah suatu cara, alat, atau proses yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan yang berlangsung dalam proses pendidikan. Penggunaan media dalam pembeljaran atau disebut juga pembelajaran bermedia dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Menurut Sudirnan (Syaful) menemukan beberapa frinsif pemilahan media pengajaran (Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan, 2010:126-127):
1) Tujuan pemilihan: Memilih media yang akan digunakanj harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihannya jelas.
2) Karakteristik Media Pembelajaran : setiap media memiliki karakteristi masing-masing, baik dilihat dari seti kemampuannya, cara pembuatannya, maupun cara menggunakannya. Memahami karaktreristik berbagai media pengajaran merupakan kemampunan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitan dengan ketrampilan pemiliah media pengajaran.
3) Alternafif pilihan: guru bida menentukan pilihan media yang mana akan digunakan sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam memilih media pembelajaran, yakni:
1 Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitasdan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia( waktu mengajar dan pengembangan materi dan media ), sumber-sumber yang tersedia ( manusia dan material);
2 Persyaratan isi, tugas dan jenis pembelajaran. Setiap katagori pembelajaran itu menuntut prilaku yang berbeda-beda dan dengan demikian akan memerlukan teknik dan media penyajian yang berbeda pula.
3 Hanbatan dari siswa dengan memperhitungkan kemampuan dan ketreampilan awal, seperti membaca, mengetik, dan karakteristik siswa lainnya.
4 Tingkat kesenangan ( preferensi lembaga, guru dan pelajar ) dan keevektivan biaya.
5 Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang tepat ( visual atau audio), respon siswa.

Kriteria Pemilihan Media:

Apa bila seorang guru mengguanakan media pengajaran dengan cara memanfaatkan media yang telah ada guru dapat menjadikan kriterie berikut sebagai dasar acuan (Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2010:130-131)
1) Apakah topic yang dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik untuk belajar?
2) Apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik?
3) Apakah media itu sebagi sumber pengajaran yang pokok , apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku?
4) Apakah materi yang disampaikan otentik dan actual?
5) Apakah format penyajiannya berdasarkan tata urut belajar yang logis?
6) Apakah narasi, gambar, efek, warna, dan sebaginya, memenuhi standar kualitas teknik.
7) Apakah bobot pengguanna bahasa, symbol-simbol dan ilustrasinya sesuai dengan tingkat kematangan berpikir anak didik?
8) Apakah sudah teruji kesahihannya( validilitas ) ?
9) Apakah bahan dasarnya dapat mudah diperoleh?
Dengan kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah mengguanakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugas sebagai pengajar. Dasar pemilihan alat bantu visual adalah memilih alat bantu yang sesuai dengan kematangan, minat dan kemampuan kelompok, memilih alat bantu secara tepat untuk kegiatan pembelajaran, mempertahankan keseimbangan dalam jenis alat bantu yang dipilih, menghindari alat bantu yang berelebihan, serta mempertanyakan apakah alat bantu tersebut diperlukan dan dapat mempercepat pembelajaran atau tidak. Sehubungan dengan banyaknya media yang digunakan dalam pendidikan dan tidak semua jenis dari media dapat digunakan dalam segala situasi, maka perlu dilakukan pemilihan jenis media yang sesuai dengan keperluan agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Contoh Bab I Penelitian Kualitatif

“PENGARUH MEDIA MENGAJAR GURU
TERHADAP MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK
DI SMA ......
BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Ada kecenderungan dalam diri peserta didik terhadap satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain yang diajarkan di sekolah. Ada peserta didik yang gemar mempelajari matematika, biologi, kimia sementara yang lain belum berminat mempelajari pelajaran tersebut. Kalaupun mengikuti pelajaran dari mata pelajaran yang disebutkan ini hanya sekadar hadir di kelas. Pada sisi yang lain ada juga peserta didik yang tidak suka terhadap guru tertentu termasuk mata pelajaran yang disampaikannya. Semuanya ini menjadi faktor minat belajar peserta didik.
Peserta didik akan berhasil dalam belajar apabila ada minat belajar. Minat belajar sebenarnya sudah ada dalam diri setiap orang, hanya saja dalam implementasinya harus dipengaruhi atau diberdayakan oleh faktor luar diri peserta didik sehingga membuat minat semakin meningkat terhadap pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Dalam sebuah riset dikemukakan bahwa ada beberapa pelajaran yang kurang diminati siswa sehingga siswa tidak terlalu tertarik mempelajari pelajaran ini. Salah satunya yakni pelajaran Pendidikan Agama. Peserta didik lebih fokus meningkatkan ketekunan belajar sampai pada upaya orangtua memasukan anak di privat-privat yang diselenngarakan oleh kelompok masyarakat. Misalnya privat Matematika, privat Biologi, Kimia. Sementara Pendidikan Agama kurang diminati. Dalam konteks ini Pendidikan Agama Kristen.
Menurut Homrighausen dan I.H. Engklar, “Pendidikan Kristen merupakan usaha yang diselanggarakan dan disistemmatikan , ditopang oleh upaya rohani dan manusiawi untuk mentranmisikan pengtahuan niai-nilai, sikap-sikap, ketrampilan dan dingka laku yang sesuai dengan atau kondisiten dengan iman Kristen dalam rangka mengupayaan perubahan-perubahan pribadi , kelompok sehingga perserta didik hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagai mana yang dilakukan Alkitab dalam Yesus Kristus” .
Pernyataan ahli PAK di atas menegaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen itu penting karena menanamkan nilai-nilai Kristiani dalam diri peserta didik yang ber-agama Kristen yang mengikuti pendidikan pada tingkat pendidikan seperti SD, SMP dan SMA serta perguruan Tinggi. Untuk itu diperlukan media. Media seperti apa yang digunakan guru Pendidikan Agama Kristen untuk meningkatkan minat belajar peseta didik. Guru dapat menempuh beberapa cara, yakni dari cara yang paling sederhana sampai pada bentuk yang paling canggih dengan menggunakan alat-alat bantu. Alat-alat inilah yang merupakan media , yaitu suatu bentuk atau salauran yang digunakan untuk menirim informasi dari si pengirim pesan kepada si penerima pesan.
Media merupakan saluran penyampaian pesan dalam komunikasi antara manusia. penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar mengajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dpat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering ter-abaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketercapaian minat belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai factor baik dari dari diri siswa itu sendiri meupun dari Guru yang mengajar. Materi pelajaran akan mudah diterima dan dimengerti oleh peserta didik untuk meningkatkan minat belajar siswa, jika disampaikan dengan menarik kepada perserta didik dengan media-media pembelajaran yang ada, namun untuk bisa mencapai tujuan tersebut Guru Agama Kristen perlu mengetahui dan menguasai Media pembelajaran.

B. Fokus Penelitian
Menurut Arikunto, “pembatasan ini diperlukan bukan saja untuk mempermudah dan menyederhanakan masalah bagi penyidik, tetapi juga untuk menetapkan lebih dulu segala sesuatu yang diperlukan untuk memecahkan yaitu tenaga, kecekatan, waktu serta ongkos yang timbul dalam rencana tersebut”.
Usman dan Akbar berpendapat bahawa sebelem menentukan batasan masalahhendak diperhatikan beberapa hal: masalah yang dibatasi hendaklah masih dalam kemampuan penelit, masalah yang dibatasi henndaknya dapat diuji berdasarkan data-data yang mudah diperoleh dilapangan, masalah yang dibatasi hendaknya cukup menarik minat peneliti.
Berdasarkan penegasan di atas maka fokus penelitian ini yakni Pengaruh Media mengajar seorang Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap minat belajar Peserta Didik di SMU ...

C. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh media mengajar seorang Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap minat belajar siswa?

D. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media terhadap minat belajar peserta didik

E. Kegunaan Penelitian

Menurut sukamto kegunaan penelitian dapat dibedakan mendadi dua hal: “ kegunaan secara teoritis dan keguanan secara praktis.
Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Teoritis
Pertama penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan ide bagi dunia pendidikan disekolah terhadap pemilihan media yang benar dalam proses belajar-mengajar.
Kedua Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan penulis sebagai seorang mahasiswa dalam rangka mengungkapkan suatu masalah serta penyelesaiannya.
Ketiga Bermanfaat untuk mengetahui pengaruh media mengajar seorang guru Pendidkan Agama Kristen terhadap minat belajar siswa/I.
Keempat , dari hasil penelitian ini member kontribusi pengetahuan tantang kelemahan media dan kelebihan media dalam mengajaran.
2. Praktis
Pertama Untuk mengoreksi diri bagi guru, apakah sudah memiliki pandangan yang benar mengenai kompetensi kepribadian.
Kedua Menambah wawasan, pemahaman dan sumber informasi bagi pembaca. Ketiga Sebagai bahan masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti lainnya, khususnya bagi guru PAK .

Judul Penelitian Kualitatif Kaca Mata Google Glass

Saya sengaja menyebutkan variabel " Kaca Mata Google Glass" dan membahasnya secara singkat dengan harapan agar ada yang tertarik dengan topik ini kemudian menelitinya sebagai sebuah variabel penelitian dalam tingkat sarjana, magister maupun doktoral. Dengan kata lain, variabel ini dapat dijadikan sevbagai salah satu variabel penelitian mahasiswa yang akan menyelesaikan Sarjana, Magister maupun doktor.


Menurut Wikipedia, Google Glass adalah komputer bisa pakai yang sedang dikembangkan oleh Google melalui proyek riset dan pengembangan Project Glass. Dengan kehadiran Google Glassn maka diharapkan bahwa perangkat ini mampu menampilkan informasi dalam format bergaya telepon pintar yang bisa terhubung ke Internet melalui perintah suara bahasa alami.” Kaca Mata Google Glass menurut informasi sedang dikembangkan oleh Google X yang sebelumnya juga telah mengembangkan teknologi futuristis lainnya seperti mobil swatantra. Seperti apa google glass, semua orang sudah,sedang dan akan menggunakan produk ciptaan google ini. Tentu produk ini canggih.Kacamata ini disebut juga dengan nama kaca mata pintar google. Inilah salah satu produk google.

Harga dari Google Glass ini raltif mahal sekitar Rp 24. Juta. Tahun 2015 sempat dihentikan untuk khalayak umum namun tahun empat tahun kemudian (2019) mulai diproduksi dan berlaku pada kalangan enterprise. Ya tapi informasi ini jangan dijadikan sebagai informasi yang normatif karena kita mesti mencari informasi yang lebih komplit lagi. Dari harga Google Glass seperti yang disebutkan di atas, jelaslah bahwa hanya kalangan tertentu yang dapat memakai google glass.

Google Glass tentu punya kelebihan tertentu sehingga harganya boleh dibilang mahal. Bayangkan saja kacamata ini seharga Rp 24 juta maka jelaslah bahwa ada banyak fungsi pada google glass sehingga dijual dengan harga yang dikategorikan mahal. Ya mahal dan tidaknya memang relatif tetapi bagi masyarakat kalangan bawah harga ini mahal tentunya. Namun jika ada yang berusaha membelinya ya tentu ada kesenangan tersendiri. Namun apakah sudah dijual di Indonesia? Perlu dicari tahu informasi yang lebih pasti. Saya hanya menyebutkan untuk sekadar menginspirasi mahasiswa yang mau menemukan judul dan menelitinya.
Apakah kaca mata google glass ini ada yang menggunakannya dan bagaimana manfaatnya bahkan mungkin ada masalah yang perlu diteliti maka para mahasiswa dapat menjadikan sebagai salah satu pokok penelitian

Semoga bermanfaat


Saturday, February 23, 2019

Mixed Methods

Dalam penelitian, kita mengenal ada jenis-jenis penelitian. Salah satunya adalah penelitian kombinasi atau mixed methods. Munculnya metode penelitian kombinasi dilatar belakangi oleh beberapa faktor antara lain: (1) dasar filsafat atau kita sebut saja paradigma filosofis metode kombinasi, (2) karakteristik dari trio penelitian yaitu: (a) penelitian kuantitatif (penelitian untuk menguji teori), (b) penelitian kualitatif (menemukan atau memperluas dan memperdalam teori); (2) Arti Metode Kombinasi; (3) Varian-varian mixed methods; (4) Model Metode Penelitian Kombinasi yang dikembangkan lagi dalam dua bagian yaitu: (a) Metode Sequen tial; (b) Metode Concurrent. (Sugiyono,2014:xi)

Penelitian Kombinasi sebagaimana yang dimaksud di atas yaitu penelitian yang menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian maka setiap Bab berisi kombinasi komponen metode kuantitatif dan kaulitatif. Hal yang terasa menarik adalah pada olah data pada Bab IV, akan disajikan olah data dan analisis secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian data dapat disampaikan secara kuantitatif dan kualittatif. Model penelitian ini sudah dilakukan oleh beberapa peneliti yang berusaha memaparkan hasil penelitian mereka, khususnya pada bab IV.

Peneliti yang menggunakan metode kombinasi memaparkan temuan penelitian secara kuantitatif dengan menggunakan olah data dengan tools SPSS dan setelah itu berusaha memaparkan data secara kualitatif sesuai dengan prosedur olah data. Prosedur olah data dalam pendekatan kualitatif dimulai dengan Tehnik Analisa Data dan Pengujian Keabsahan Data. Dengan demikian pendekatan kualitatif tidak bersifat subjektif belaka tetapi memiliki prosedur ilmiah. Artinya dapat diterima secara rasional.

Saya katakan hasil penelitian kualitatif dapat diterima secara rasional karena memiliki apa yang disebut dalam metodologi kualitatif dengan "Rencana Pengujian Keabsahan Data" yang dilakukan dengan cara uji keabsahan data.

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi: uji kredibilitas data (validitas internal), uji dependabilitas (reliabilitas) data, uji transferabilitas (validitas eksternal/generalisasi), dan uji konfirmabilitas (objektivitas). Namun yang utama adalah uji kredibilitas data. Uji kredibilitas data dilkukan melalui:
(1) Perpanjangan pengamatan,
(2) Meningkatkan ketekunan,
(3) Triangulasi,
(4) Diskusi dengan teman sejawat,
(5) Member check,
(6) Analisis kasus negative ( Sugiyono, Ibid. 401-402)

BAB IV
PAPARAN DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Gambaran umum Objek Penelitian
B. Temuan Penelitian

Contoh Bab I dan II Penelitian Kualitatif

JUDUL PENELITIAN KUALITATIF


"SIAP MENAMPILKAN IKLAN DI SITUS"


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan internet memungkinkan koneksi antar satu komputer dengan komputer lain di dunia dapat terwujud. Dengan adanya internet, berbagai usaha dilakukan melalui internet. Salah satunya yakni keinduan pemilik situs untuk mendapatkan penghasilan online dengan cara menampilkan iklan di situs. Untuk mencapai maksud ini, pemilik situs harus mendaftar di beberapa program adsense, khususnya Adsense dari google. Program ini menjadi incaran para pemilik situs di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Masalah yang terjadi yakni tidak semua pemilik situs yang mengajukan pendaftaran di Google Adsense dapat diterima. Ada kebijakan yang harus ditaati. Beberapa hari yang lalu penulis mengajukan sebuah situs namun jawabannya yakni "Tim sudah meninjau situs Anda, namun saat ini situs Anda tidak siap untuk menampilkan iklan. Ada beberapa masalah yang harus diperbaiki agar situs Anda siap untuk menampilkan iklan."
.
Berdasarkan pengalaman di atas maka ada masalah. Masalah ini perlu diselesaikan. Namun apakah perlu ada penelitian. Ya perlu. Oleh karena itu penulis memilih topik ini untuk diteliti secara kualitatif.

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada usaha menerbitkan Adsense di Situs. Dengan demikian fokus penelitian ini jelas yaitu pada usaha mengatasi masalah dalam hal pengajuan menjadi publisher iklan di situs.

Rumusan Masalah

Bagaimana menampilkan Adsense dari Google di Situs?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini yakni:
Memperluas pengetahuan tentang mengatasi masalah penolakan sehingga situs dapat menerbitkan iklan

Manfaat Hasil Penelitian

1. Memperluas pemahaman penulis tentang cara memperbaiki situs agar sesuai kebijakan Google Adsense
2. Menambah pengetahuan para blogger yang mengalami kesulitan dalam mendaftarkan blog
3. Menambah pengetahuan Blogger parttime dan fultime

BAB II

KAJIAN TEORI


A. Perbaikan Agar Sesuai Kebijakan Google Adsense
1. Navigasi atau Interaksi dengan konten yang sengaja dibuat sulit atau mengesalkan
2. Halaman yang masih dalam proses pembuatan
3. Halaman yang tidak berfungsi
4. Halaman yang mengantar ke Pesan Error

B. Tahap Menyiapkan

Ketika telah melakukan poin 1-4 dalam point A atau sesuai saran perbaikan yang dikirim Google adsense ke email maka selanjutnya mengirim daftar ulang dan menanti jawaban sebagai berikut:
Google menyatakan bahwa situs dalam tahap “Menyiapkan situs Anda untuk menampilkan iklan”.
Proses ini biasanya membutuhkan waktu kurang dari sehari, namun terkadang bisa lebih lama. Kami akan memberi tahu Anda setelah kami menjalankan beberapa pemeriksaan di situs.
Sementara itu, tempatkan kode pada setiap halaman yang diinginkan untuk menampilkan iklan. Setelah pemeriksaan kami selesai, situs Anda akan siap untuk menampilkan iklan.

Contoh Bab I Penelitian Kualitatif di atas diambil berdasarkan pengalaman terkini dari penulis. Artinya variabel penelitian dapat diperoleh dari pengalaman peneliti. Pengalaman itu mengandung masalah dan masalah itu layak diselesaikan melalui sebuah penelitian yang bersifat kualitatif atau secara alamiah berdasar latar penelitian.

Beberapa alat yang dipersiapkan dalam penelitian yaitu:

1. Komputer
2. Laptop. Ada berbagai merek dan bentuk laptop. Milikilah laptop yang ringan untuk dibwa ke mana saja
3. Handphone Android
4. iPad
5. WiFi. Alat ini memungkinkan kita untuk berinternet. Sekarang pada banyak yang menyediakan jasa WiFi.

Kerangka Laporan Penelitian Kualitatif

Berdasarkan pengalaman saya, suatu saat kami mengikuti kuliah metodologi, sang dosen menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan olah data dengan menggunakan SPSS, tentu penelitian ini berusaha menguji teori. Penelitian semacam ini bagus, namun sudah terlalu banyak di perpustakaan tempat saya studi. Namun yang kurang bahkan pada penelitian tingkat doktoral di tempat saya menyelesaikan studi belum ada. Lalu saya memilih metode yang berbeda dengan metode yang diusung oleh dosen mata kuliah metodologi yang lebih banyak menguasai kuantitatif. Para pembimbingpun sudah familiar dengan penelitian kuantitatif dengan analisis data dengan bantuan statistik yaitu SPSS. Oleh karena metode yang saya pilih itu belum banyak digunakan di tempat atau kampus saya maka saya harus mencari dosen pembimbing yang lebih menguasai meetode penelitian kualitatif. Namun dosen yang ada di kampus belum ada yang punya spesifikasi kualitatif.

Lalu kampus memberi kepada saya seorang dosen pembimbing, saya kemudian melakukan penelitian awal yaitu proposal dan mengikuti ujian dan selanjutnya masuk ke penelitian. Dalam proses penelitian itu, saya lebih banyak mengadakan studi mandiri untuk metode penelitian kualitatif. Kesulitan saya yakni pada BAB III dan BAB IV. Namun saya mendapat solusi dari buku Sugiyono. Saya menggunakan kerangka penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Sugiyono. Setelah semuanya rampung kemudian mengikuti ujian, saya ditanya oleh seorang penguji tentang apa tingkat signifikansi dari penelitian saya. Saya sudah tahu arah pertanyaan ini lebih didominasi oleh paradigma kuantitatif maka saya jawab, maaf penelitian saya tidak berusaha menemukan tingkat signifikansi karena hal ini ada dalam penelitian kuantitatif sementara metode penelitian yang saya gunakan adalah penelitian kualitatif yang tidak bermaksud menemukan tingkat signifikasni dalam angka valiadsi tertentu sehingga disebut signifikan. Signifikansi tidak dapat secara kualitatif dinyatakan tetapi harus ditopang dengan angka yang memastikan bahwa suatu variabel penelitian disebut signifikan. Mendengar itu sang penguji terdiam dan melanjutkan dengan pertanyaan lain.

Berdasakan pengalaman tersebut dalam postingan ini saya hendak mengemukakan kerangka penelitian kualitatif. Saya sadar bahwa bila seseorang memutuskan memilih metode penelitian kualitatif maka ia memahami bahwa tujuan mengadakan penelitian dalam skripsi, tesis dan disertasi bermaksud untuk menemukan atau memperdalam dan memperluas temuan kita tentang topik yang diteliti. Topik yang diteliti secara kualitatif harus benar-benar diperdalam sampai tuntas. Itulah sebabnya kita mesti ingat alasan kita menggunakan metode penelitian kualitatif.

Menurut Sugiyon kerangka penelitian kualitatif paling tidak ada unsur-unsur berikut ini.

Cover/Halaman Judul
Persetujuan Dosen Pembimbing
Persetujuan Dosen Penguji
Surat Pernyataan Bebas Plagiarisme
Dedikasi
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Gambar (bila ada)
Daftar Isi
atau mengikuti ketentuan yang berlaku di perguruan tinggi di mana seseorang terdaftar sebagai mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhir. Jadi uurutan format halaman awal di atas bisa berbeda-beda.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Fokus Penelitian (dalam penelitian kuantitatif disebut batasan masalah atau ruang lingkup penelitian)
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Dosen Idola
B. Profil Dosen Idola
C. Indikator Dosen Idola

BAB III METODE PENELITIAN

A. Alasan Menggunakan Metode Kualitatif
B. Tempat Penelitian
C. Sampel Sumber Data Penelitian
D. Instrumen Penelitian
E. Tehnik Pengumpulan Data
F. Tehnik Analisa Data
G. Pengujian Keabsahan Data

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Temuan Penelitian
B. Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Saran

Contoh Bab III Metode Penelitian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian yang digunakan

Menurut Ronny Kountur, metode penelitian adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah yang dimaksud dalam definisi ini yaitu suatu penelitian ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan dan menguji hipotesis atau menemukan teori serta membuat kesimpulan (Ronny Kountur, 2007: 7). Sedangkan Sugiyono mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam definisi ini ditekankan beberapa kata penting, yakni cara ilmiah yaitu kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yakni rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian yang dilakukan bersifat dapat diterima akal sehingga terjangkau oleh penelaran manusia. Empiris berarti penelitian yang dilakukan melalui pengamatan indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis berarti proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. ((Sugiyono, 2008:3) Selanjutnya metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni penelitian kepustakaan (Library Research) artinya penulis mengadakan studi terhadap literatur yang ada, dan menyusun data tersebut secara sistematis. (M. Nazir, 1998:l11-112). Sedangkan metode penulisan skripsi ini adalah Metode Deskriptif, yaitu metode dalam menulis suatu situasi dan kondisi atau peristiwa pada masa sekarang.
Penelitian Deskriptif (Descriptive Research), bermaksud membuat penyadaran secara sistematis, aktual, dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (M. Nazir, 1998:l11-112)

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai sejak …….. sampai …….. 2019 yang diawali dengan pengajuan judul penelitian dan pengujian proposal penelitian dan penelitian lapangan secara kualitatif (Riset Teoritik)

C. Teknik Pengumpulan Data

Lexy J. Moleong mengklasifikasi teknik penelitian atau pengumpulan data dalam beberapa kategori, yaitu (1) sumber data dan jenis data yang diperoleh melalui: (a) kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai. (b) sumber tertulis yang dibagi lagi menjadi data dari sumber buku, majalah ilmiah. sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. (c) Foto menghasilkan data deskriptif dengan kategori foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri. Foto yang dimaksud disini yaitu foto tentang orang dan latar penelitian yang sesuai dengan variable yang diteliti. Latar penelitian dalam foto dapat diamati dengan teliti, foto juga dapat memberi gambaran tentang perjalanan sejarah orang yang ada didalamnya. Dari foto diketahui gambaran tentang posisi duduk di gereja, keadaan duduk santai, dan gembira ria, keadaan anggota gereja dan lain sebagainya. Foto digunakan untuk memahami bagaimana para subjek penelitian memandang duniannya (Lexy J. Maleong, 1999: 114)

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui dua sumber utama, yaitu: Sumber sekunder atau data sekunder. Data sukender adalah data yang bersumber dari penelitian orang lain yang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Data ini berupa fakta, table, gambar, dan lain-lain. Walaupun dibuat untuk maksud yang berbeda, data-data ini dapat dimanfaatkan peneliti lain untuk variable yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada riset pustaka.

D. Teknik analisa data

Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif belum ada teknik yang baku dalam menganalisa data, atau dalam analisa data kualitatif, tekniknya sudah jelas dan pasti, sedangkan dalam analisa data kualitatif, teknik seperti itu belum tersedia, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki oleh peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif

Semoga bermanfaat

Kerangka Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Pentingnya Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teoritis
1. Hakikat Variabel Y
2. Hakikat Variabel X1
3. Hakikat Variabel X2
4. Hakikat Variabel X3
5. Hakikat Variabel X4
6. Hakikat Variabel X5
7. Hakikat Varibel X6
8. Hakikat Variabel X7
9. Hakikat Varibel X8
10. Hakikat Variabel X9
11. Hakikat Variabel X10
12. Hakikat Variabel X11

B. Kerangka Berpikir

1. Uraian dari rumusan masalah pertama
2. Uraian dari rumusan masalah kedua
3. Uraian dari rumusan masalah ketiga
4. Uraian dari rumusan masalah keempat
5. Uraian dari rumusan masalah kelima
6. Uraian dari rumusan masalah keenam
7. Uraian dari rumusan masalah ketujuh
8. Uraian dari rumusan masalah kedelapan
9. Uraian dari rumusan masalah kesembilan
10. Uraian dari rumusan masalah kesepuluh
11. Uraian dari rumusan masalah kesebelas

C. Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan lokasi penelitian
B. Jenis Penelitian
C. Populasi
D. Tehnik Sampling
E. Besar Sampel
F. Variabel Penelitian
G. Hubungan antar varibel atau disain variabel penelitian
H. Teknik pengumpulan data
I.Instrumen Penelitian
J. Teknik Analisa Data

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Deskripsi Data
1. Variabel Y
2. Variabel X1
3. Variabel X2
4. Variabel X3
5. Variabel X4
6. Variabel X5
7. Varibel X6
8. Variabel X7
9. Varibel X8
10. Variabel X9
11. Variabel X10
12. Variabel X11

B. Uji Persyaratan Analisis
C. Uji Hipotesis

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
1. Saran Praktis
2. Saran Penelitian Lanjutan
3. dll

KRANGKA PENELITIAN KUALITATIF (Penelitian menemukan teori)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Fokus Penelitian
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Pentingnya Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI

A. Efektifvitas Proses Pembelajaran PAK
B. Pembelajaran Kontekstual
C. Pendekatan Pembelajaran Rekonstruksi
D. Pendekatan Pembelajaran Nativisme
E. Pendekatan Pembelajaran Empiris
F. Pendekatan Pembelajaran Konfergensi
G. Pendekatan Pembelajaran “Kogito Ergo Sum”
H. Pendekatan Pembelajaran “Aku Tahu Baru Percaya”
I. Pendekatan Pembelajaran “Aku Percaya Baru Mengerti”
K. Pendekatan Pembelajaran “Aku Menerima Perasaan maka Aku Ada”
L. Pendekatan Pembelajaran “Dimana ada sinyal Internet”

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode penelitian
B. Langkah-langkah Penelitian
C. Tempat Penelitian
D. Informan dan Sampel
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Analisa Data Kualitatif
F. Pengujian Kredibilitas Data
G. Temuan Hipotesis
H. Teknik pengumpulan data
I. Instrumen Penelitian
J. Teknik Analisa Data

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan


BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
1. Saran Praktis
2. Saran Penelitian Lanjutan
3. dll

Penelitian Teologi Natural

Teologi Natural adalah refleksi personal terhadap sumber daya alam dalam relasinya dengan pencipta (TUHAN). Sumber daya alam yang dimaksud disini sejauh yang dilihat, dijangkau, yang dialami atau dirasakan. Kemudian diadakan refleksi (perjumpaan logi dengan Theos) dalam ranah peta dan gambar Allah (Kejadian 1:28)
Teologi Natural semacam ini tentu tidak berdiri secara mutlak atas teologi natural yang dibangun pada masa lampau. Ide-ide teologi natural, tentu tidak terlampau jauh dengan ide yang pernah ada dalam ranah berteologi natural. Dalam konteks Pendidikan Kristen dan Teologi Kristen, berteologi natural adalah refleksi logis yang didasarkan pada kesaksian Alkitab tentang ciptaan-Nya. Teologi natural tidak dapat dilakukan diluar ciptaan Allah. Berteologi natural selalu dan senantiasi berinteraksi dinamis terhadap apa yang ada disekitar manusia. Yang ada disekitar manusia memungkinkan ia berteologi secara alamiah.
Jadi, berteologi natural dalam artikel ini berkorelasi dengan apa yang dilihat, dialami oleh Guru Pendidikan Agama Kristen. Dengan demikian, kini kita dapat berteologi natural.

KEBUTUHAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: Salah satu variabel Penelitian

Berikut ini kami menyajikan beberapa topic penelitian dalam Pendidikan Agama Kristen. Topik-topik atau variabel tersebut berkisar pada kebutuahn primer Guru Pendidikan Agama Kristen.
Kebutuhan Pakaian
Baju Berkualitas Terhadap Prestasi Mengajar
Ikat Pinggang Berkualitas Terhadap Kesehatan Guru PAK
Sepatu Bermerek Terhadap Semangat Mengajar
Dompet Bermerek Internasional Terhadap Semangat Sosial Guru PAK Dalam Proses Pembelajaran
Tempat Belaja Standar Internasional Terhadap Kecintaan Mengajar
Dalam kehidupan sehari-hari, guru Pendidikan Agama Kristen berhadapan dengan rekan-rekan guru di bidang umum. Ada guru yang memenuhi kebutuhan primer dengan standar yang mungkin tidak ada pada guru Agama. Katakanlah standar pakaian bermerek.
Pakaian bermerek, misalanya untuk yang laki-laki: Celana dengan mereka …. Baju dengan merek …. Ikat pinggang dengan merek …. Dengan harga ….. Selain itu sepatu bermerek. Ada guru yang memakai sepatu merek ….. dengan harga ….. Apakah kebutuhan primer tersebut mempengaruhi semangat mengajar seorang guru Pendidikan Agama Kristen dalam suatu proses belajar mengajar.

PENGHASILAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: Salah satu variabel Penelitian

Mengajar adalah pekerjaan professional. Sebagai pekerjaan professional maka ada aturan pemerintah untuk membayar tenaga professional sesuai ketentuan undang-undang Pendidikan Nasional. Pembayaran honor mengajar bagi seorang pegawai negeri tentu berbeda dengan pegawai swasta. Apalagi guru Pendidikan Agama Kristen yang bekerja di Sekolah Lazarus (Sekolah dengan andalan kuat iman, kurang roti). Sekolah-sekolah seperti ini lebih banyak menggunakan “persembahan kasih”, walaupun istilah persembahan kasih sebenarnya maknanya jauh lebih tidak mampu dilakukan oleh lembaga. Ingat TUHAN Allah memberi anak-Nya yang tunggal (Yoh. 3:16). Memberi yang tunggal berarti member seluruhnya.
SINGKONG DAN KOPI GURU PAK
Ketika saya sedang membuat artikel ini, saya disuguhkan singkong dan kopi. Itulah sebabnya saya membuat judul: Singkong dan Minuman Guru PAK.
Makan singkong untuk sebagian orang sangat menyenangkan, tetapi untuk sebagian orang mungkin tidak demikian. Saya termasuk orang yang senang makan singkong. Apalagi singkong bakar model kampong saya di Pulau “Shalom”. Di pulau ini, setiap ketemu orang pasti disapa shalom Bapa, Shalom Mam, Shalom Bapa Guru, Shalom Ibu Guru, Shalom Bapak Camat, Shalom Bapak Kepala Desa dst.
Kembali pada Singkong. Bagi Guru PAK yang sudah berusia, dan rentan terhadap gula, Singkong menjadi salah satu makanan pilihan. Alangkah indahnya kalau ada jagung.
Makan singkong sambil minum kopi, rasanya Enak bangat. Rasanya seperti sorga kecil (rasa senang/bahagia) jatuh ke atas meja. Kalau sekirannya mengetiknya di meja.
BERTEOLOGI NATURAL di Depan Rumah, Samping dan Belakang Rumah.
TUHAN itu sangat ilmiah. TUHAN menciptakan langit dan bumi serta isinya. Oleh karena alam semesta dicipta dalam keteraturan logi TUHAN maka isi alam menopang kehidupan manusia.
Saya bersyukur dapat bernafas secara lega di rumah. Hal ini disebabkan karena TUHAN mencipta udara yang saya nikmati secara gratis setiap detik. Saya juga dapat menjemur pakaian di depan rumah karena salah satu hasil logi TUHAN Allah adalah menciptakan Matahari. Saya menjemur pakaian dan disinari dengan sinar matahari sampai jemuranku kering dan kuangkat lagi ke dalam rumah. Matahari saya gunakan secara free setiap hari dari Jam 06.00 – 18.00 (Mulai matari terbit sampai terbenam).
TUHAN telah mencipta tanah, dibelakang rumahku ada tanah kosong, aku tanam pisang. Pisang itu menghasilkan buah bagi saya dan berbagi dengan tetangga. Saya menikmati betapa teduh karena pohon pisang di belakang rumah saya.
Selain itu, saya juga menanam pohon penyambung nyawa (daun sambung nyawa) atau daun Afrika. Daun ini bila dikunya rasanya pahit. Rasa pahit itu memberi manfaat pada tubuh. Ada yang menyatakan bahwa daun sambung nyawa atau daun afrika dapat mengobati rambut sehingga tetap awet muda alias tidak uban. Selain itu bisa mengobati gula. Bagi penderita gula dapat mengkonsumsi daun ini. Dalam suatu rapat gereja, ada seorang Bapak usianya diatas 55, ia punya pengalaman mengkonsumsi daun sambung nyawa.Katanya: Salah satu khasiat daun ini bagi dirinya yakni mengatasi uban, rambutnya tetap hitam berkat konsumsi daun sambung nyawa. Namun beliau mengingatkan agar konsumsi selama seminggu, setelah itu berhenti kemudian konsumsi lagi pada minggu berikutnya. Tentu bergantung pada khasiat yang sudah terasa. Jangan terlalu banyak juga karena bisa juga mengancam nyawa.
Disini kita menydari bahwa setiap tumbuh-tumbuhan memiliki khasiat untuk manusia. Inilah keunikan Berteologi Natural di Rumah dan tempat tempat lain. Memandang lingkungan dalam perspektif teologi dan Ilmu pengetahuan. Keduanya dapat berjalan bersama-sama. Berilmu sambil berteologi, berteologi sambil berilmu.

Contoh BAB V Kesimpulan

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hasil analisis kedua variabel dapat dijelaskan bahwa nilai R = 0,774, hubungan ini masuk dalam kategori yang kuat yaitu 77,4% dan R Square = 0,599 yang termasuk dalam kategori hubungan yang sedang yaitu 59,9%. Hubungan ini signifikan karena probabilitas signifikannya 0,000 lebih kecil dari taraf signifikan alpha (0,05), artinya hubungan ini merupakan hubungan yang tidak kebetulan semata.
Jadi dapat disimpulkan ketiga variabel yaitu Keteladanan Guru PAK, Kualitas PAK dan Pembentukan Kecakapan Peserta Didik mempunyai hubungan yang signifikan, dengan tingkat koefisien korelasinya berada pada level yang kuat. Artinya, bahwa Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAK mempunyai pengaruh yang kuat terhadap Pembentukan Kecakapan Peserta Didik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa Keteladanan Guru PAK baik dilingkungan sekolah maupun dimana saja ia berada memberi pengaruh yang berarti bagi Pembentukan Karakter Siswa. Begitu juga dengan Kualitas PAK yang diajarkan kepada para siswa memberi pengaruh yang begitu berarti terhadap Pembentukan Kecakapan Peserta Didik. Dan apabila Keteladanan Guru PAK ditunjukkan secara negatif maka akan mengurangi Pembentukan Karakter Siswa, namun sebaliknya jika Keteladanan Guru PAK ditingkatkan secara positif akan berdampak positif pula terhadap Pembentukan Kecakapan Peserta Didik. Hal yang sama juga dapat diperoleh pada Kualitas PAK yang diajarkan kepada para siswa, sehingga dapat membentuk Pembentukan Kecakapan Peserta Didik seperti kecakapan karakternya Kristus.

B. Saran

Setelah mengetahui adanya hubungan signifikansi yang kuat antara pelayanan misi sosial dengan kesetiakawanan sosial remaja, maka perlu kiranya penulis memberikan sumbangsih saran kepada gereja, orang tua, dan secara khusus kepada para remaja.

1. Kepada Sekolah

Kiranya sekolah terus mempertahankan bahkan lebih baik meningkatkan Kualitas PAK yang lebih baik lagi kepada para siswa dalam Pembentukan Kecakapan Peserta Didik.

2. Kepada Guru PAK

Guru PAK harus menyadari bahwa siswa tidak hanya membutuhkan pelajaran yang disampaikannya melalui PAK, tetapi mereka juga membutuhkan contoh teladan yang konkrit dalam kehidupan nyata yang dapat dilihatnya dari setiap sikap dan perilaku guru PAK. Guru PAK sebaiknya selalu memberikan motivasi atau dukungan, kasih sayang, dan mengarahkan siswa untuk memiliki Pembentukan Kecakapan Peserta Didik dalam ranh kogntif, afektif dan psikomotorik.

3. Kepada Siswa

Siswa diharapkan dapat mengaplikasikan setiap teladan yang positif dari guru PAK dan belajar juga mempraktekkan setiap pembelajaran PAK yang disampaikan oleh guru PAK. Seperti firman Tuhan yang mengatakan hendak setiap orang bukan hanya sebagai pendengar tetapi melakukan setiap firman yang Tuhan Yesus sampaikan.

Contoh Bab I Disertasi

BAB I

PENDAHULUAN

Variabel penelitian dalam disertasi ini berkenaan dengan situasi sosial yang kini menjadi pergumulan bangsa Indonesia, dan berbagai pergumulan di sekolah tinggi teologi, khususnya yang berkenaan dengan karakter peserta didik. “Pendidikan karakter bangsa ini urgen diajarkan dan dijadikan teladan. Mengapa pendidikan karakter? Peserta didik tidak hanya harus dicerdaskan secara intelektual dan emosional, namun juga karakternya perlu dibangun agar tercipta pribadi yang unggul dan perbuatan baik

Pendidikan termasuk pendidikan teologi tidak hanya mendidik para peserta didik untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar beraklak mulia. Saat ini, pendidikan di Indonesia dinilai oleh banyak kalangan tidak bermasalah dengan peran pendidikan dalam mencerdaskan para peserta didiknya, namun dinilai kurang berhasil dalam membangun kepribadian peserta didiknya agar beraklak mulia. Oleh karena itu pendidikan karakter dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak. Pendidikan karakter sudah tentu penting untuk semua tingkat pendidikan, yakni dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan semenjak anak berusia dini.

Peserta didik di Sekolah Tinggi Teologi lebih terkenal dalam kecerdasan intelektual ketimbang karakteristik unggul yang menjadi penentu keberhasilan dalam kerja. Dengan kata lain, pembelajaran lebih mengedepankan kecerdasan intelektual yang diukur dengan angka dari pada keunggulan dalam karakter. Ada mahasiswa teologi yang dipukul ketua STT karena kedapatan menyimpan gambar porno di hand phone, mahasiswa tingkat atas memikul adiknya karena berpacaran. Kasus ini tidak dijadikan sebagai generalisasi perilaku peserta didik di seluruh STT tetapi yang hendak ditegaskan di sini bahwa perlunya pendidikan karakter yang terintegrasi dengan mata kuliah yang diasuh oleh setiap dosen sehingga mempengaruhi peserta didik dalam rangka membangun karakteristik unggul.

Bertolak dari paparan di atas maka fokus variabel penelitian disertasi ini di dasarkan pada Matius 4:19 dan Matius 5:1-12. Berdasarkan ayat ini dirumuskan variable penelitian disertasi dengan judul: “Pengaruh Perbuatan Baik Dosen Teologi Berdasarkan Matius 4:19; 5:1-12 Terhadap Karakteristik Unggul Mahasiswa S1 di STT .........., STT .........., STT ........... Jakarta.

Pokok-pokok yang dibahas dalam bab I ini terdiri atas: Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah Penelitian, Rumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian. Masing-masing pokok ini dibahas sebagai berikut.

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

Beragam karakter terjadi di negeri ini, di dunia pasar: penjualan daging yang sudah diawetkan dengan formalin, ikan juga diawetkan dengan bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia, jualan seperti cacanan di sekolah-sekolah sebagian telah memakai sat pewarna yang berbahaya bagi manusia, penjualan pasir, timbangan penjualan buah, penjualan obat, penjualan makanan dan lain sebagainya telah merisaukan banyak kalangan. Bila ada karakter unggul maka tidak mungkin terjadi hal seperti ini. Dan lain sebagainya. Dalam konteks ini maka pendidikan karakter menjadi sesuatu yang urgen di Negara ini, termasuk di STT tempat mencetak calon-calon pendeta dan guru Pendidikan Kristen. Pendidikan karakter harus mendapat perhatian dari setiap dosen yang mengajar mata kuliah apapun di STT. Meningkatnya perhatian terhadap pendidikan karakter belum dibaringi dengan ketersediaan buku-buku yang menyajikan wawasan teoritis sekaligus saran-saran praktis.

Pengajaran ditujukan kepada sekelompok manusia muda untuk kemanusiaan yang unggul. Kemanusiaan yang unggul tidak hanya keunggulan kecerdasan intelektual tetapi juga unggul dalam karakter. Bagian terakhir ini, kini di Indonesia menjadi suatu solusi yang ditawarkan melalui dunia pendidikan yang biasa disebut dengan pendidikan Karakter. Beberapa literature pendidikn karakter berbahasa Indonesia menyebutkan bahwa pendidikan karakter ini menjadi solusi tetapi solusi ini memerlukan proses, tidak instan.

Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai mahluk berpribadi, manusia itu memiliki karakter-karater. Karakter-karakter itu sesuai dengan nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dimiliki manusia mempengaruhi karakteristik seseorang. Nilai itu dapat berupa norma-norma yang secara umum dianut oleh kelompok masyarakat tertentu, misalnya pada masyarakat gereja, nilai yang menggerakkan perilaku anggota gereja dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang bersumber dari Alkitab, dan juga norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat umum di mana gereja berada.

Alkitab memberi pengajaran yang tegas tentang karakteristik manusia. Karakteristik manusia sebagaimana yang disaksikan di dalam Alkitab disesuaikan dengan tiga konteks kehidupan manusia, yaitu konteks manusia sebelum berdosa, dan konteks manusia setelah jatuh dalam dosa, serta yang terakhir adalah konteks manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus. Dalam konteks karakteristik, Richard L. Pratt Jr. mengelompokkan dalam tiga karakteristik, yaitu karakteristik manusia sebelum jatuh dalam dosa; karakteristik manusia berdosa, karakteristik manusia setelah ditebus oleh Kristus.

Pertama, karakteristik manusia sebelum kejatuhan dalam dosa (bnd. Kej. 1:26). Manusia menampilkan karakteristik “segambar dan serupa dengan Allah”. Karakteristik berdasarkan kata segambar dan serupa mengandung makna penampilan karakteristik unggul pada manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Karakteristik ini menurut penulis kitab Kejadian, ada dalam laporan Kejadian pasal 1- 2. Di dalam Kejadian 1-2 diinformasikan bahwa manusia pertama yaitu Adam dan Hawa dicipta oleh Tuhan “segambar dan serupa” (bnd. Kej. 1:26). Manusia pertama itu dinamakan Adam dan Hawa (bnd. Kej. 5:1 untuk nama Adam; Kej. 3:20 untuk nama Hawa). Dalam konteks karakteristik manusia sebelum jatuh dalam dosa, penulis kitab Kejadian memberi informasi bahwa ada karakteristik unggul pada manusia pertama. Karakteristik unggul itu dapat dipahami dalam kata: beranak cucu, memenuhi bumi dan menaklukkannya, berkuasa atas ikan-ikan di laut, dan burung-burung diudara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi (bnd. Kej. 1:28), kemudian perintah: “mengusahakan dan memelihara” (bnd. Kej. 2:15) dalam format karakteristik, dapat dikelompokkan dalam kelompok karakteristik unggul.

Kedua, karakteristik manusia yang berdosa. Menurut penulis kitab Kejadian dalam informasinya sebagaimana yang dapat diikuti dalam kitab Kejadian 3, disana dinyatakan bahwa manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan yaitu mengambil dan memakan buah yang dilarang Tuhan (bnd. Kej. 3:6). Tindakan ini merupakan indikator karakteristik rendah, sebuah karakteristik yang tidak diharapkan oleh Tuhan. Dengan kata lain, pelanggaran terhadap larangan merupakan karakteristik di luar format karakteristik unggul. Anak-anak Adam dan Hawa, yaitu Kain dan Habel pun penampilkan karakteristik yang beragam. Kain misalnya, mewujudkan karakteristik yang rendah yaitu mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan (bnd. Kej. 4:3), memukul dan membunuh adiknya yaitu Habel. Tindakan ini merupakan karakteristik yang tidak unggul atau karakteristik yang menyimpang dari norma.

Selain tindakan Kain, ada pula tindakan anak Nuh yaitu Ham. Ham bertindak tidak terpuji, yaitu melihat aurat ayahnya, bercerita kepada adik-adiknya tanpa bertindak sopan terhadap orangtuanya (Kej. 9:22). Karakteristik menyimpang juga dapat diperhatikan dalam tujuan atau maksud membangun menara babel. Mendirikan menara babel itu tidak salah, yang salah adalah tujuan mendirikan menara babel yaitu supaya tidak terpencar ke seluruh muka bumi, sementara Allah bermaksud untuk memenuhi bimi ini. Tujuan membangun menara babel juga merupakan salah satu karakteristik yang menyimpang dari maksud Allah kepada manusia (bnd. Kej. 11). Penyimpangan perilaku itu berlanjut dari zaman ke zaman.

Karakteristik manusia yang berdosa sebagaimana yang diparkan di atas dapat itu bersifat individual, tetapi juga dalam kitab kejadian diinformasikan penyimpangan karakter itu secara komunal yang dapat diperhatikan dalam Kejadian 6 yaitu seiring pertambahan manusia maka bertambah juga penyimpangan-penyimpangan karakter. Ada penyimpangan seksual (bnd. Kej. 6:2), dan kejahatan lainnya sebagaimana deskripsi kualitatif akan kejahatan dengan istilah kejahatan manusia besar di bumi (bnd. Kej. 6:5).

Menurut Richard L.Pratt Jr. “karakter dari manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia tidak lagi merupakan gambar Allah yang sempurna: manusia tidak lagi hidup dan berpikir sebagaimana halnya dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa”(Pratt Jr. 2000:39). Sejak manusia pertama Adam dan Hawa jatuh, genarasi selanjutnya berjuang dalam dua kategori karakteristik, yaitu karakteristik yang sesui kehendak Tuhan, dan karakteristik yang menyimpang dengan kehendak Tuhan yang oleh Rasul Paulus disebut dengan buah daging, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (bnd. Gal. 5:19-21). Dalam ayat selanjutnya rasul Paulus menyinggung tentang karakteristik unggul yang disebut dengan buah Roh.

Karakteristik yang menyimpang sebagai akibat dari manusia berdosa yang masih dipengaruhi dosa sehingga keinginannya selalu menghasilkan buah-buah daging yang terwujud dalam tindakan-tindakan yang terjadi di negeri ini, seperti: tindakan sistematis dalam hal korupsi yang semakin meresahkan di Negara Republik Indonesia, kebohongan pemimpin-peminpin, janji para pemimpin dalam kampanye pemilihan yang tidak ditepati, kasus Bank Centuri, Nazarudin, Enggelina Sondak dan kasus-kasus lainnya menyebabkan karakter pribadi dan karakter bangsa menjadi menurun di mata bangsa-bangsa lain.

Karakter bangsa Indonesia seperti: mengutamakan nilai spiritual seperti tekun beribadah, jujur dalam ucapan dan tindakan, berpikir positif, dan rela berkorban yang dulu sejak kemerdekaan sampai era pembangunan nasional dijunjung tinggi, kini karakteristik bangsa Indonesia itu mulai terkoyak. Artinya mulai luntur. Oleh karena itu Pemerintah melalui Mendiknas mulai mengatasi ini dengan cara mereviltalisasi pendidikan karakter dalam seluruh jenis dan jenjang pendidikan. Dan melalui pendidikan karakter diharapkan bangsa Indonesia kembali pada karakter merah putih, bangsa yang bermartabat, masyarakat memiliki nilai tambah , mampu bersaing dengan bangsa lain. Karakter pribadi dan bangsa mulai terkoyak dengan indicator penyimpangan-penyimpangan yang kini menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat dalam Negara Republik Indonesia.

Pendidikan karakter sebagaimana yang disebutkan di atas sebenarnya sudah diamantkan dalam UUD 1945 dan filsafat Pancasila yang ditandai dengan system nilai: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan bangsa, permusyawaratan dan keadilan, hanya saja sering terjadi penyimpangan. Penyimpangan tersebut menjadikan bangsa Indonesia terpuruk dengan berbagai penyimpangan social. Dalam kondisi itulah dicanangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter mulai diminati. Pemerintah melalui Mendiknas mulai mengatur dan melaksanakan pendidikan berbasis karakteristik unggul. Perhatian terhadap pendidikan karakter pada tahun-tahun terakhir ini mulai meningkat. Peningkatan ini patut diapresiasi oleh semua komponen bangsa.

Ketiga, karakteristik manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus. Karakteristik ketiga ini merupakan karakteristik unggul yang merupakan daya tarik yang mempesona manusia. Dukungan untuk karakteristik yang ketiga misalnya diambil dari contoh karakteristik Nuh. Di dalam Kejadian 6:9; pasal 7-9:1-20, penulis kitab Kejadian menampilkan Nuh sebagai perwakilan manusia yang menampilkan karakteristik unggul. Karakteristik anak-anak Nuh juga terpecah dalam dua kubu, ada anak-anakNuh yang menerapkan karakteristik unggul yaitu bertindak sopan terhadap orangtuanya yang telanjang karena kelebihan menikmati Anggur, (Kej. 9:23). Sem dan Yafet dengan karakter sopan santun terhadap orangtuanya, sedangkan Ham menunjukkan karakteristik rendah atau tidak terpuji. Hambertindak buruk terhadap orangtuanya yang sedang mabuk.

Karakteristik manusia setelah ditebus oleh rasul Paulus disebut dengan buah Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (bnd. Gal. 5:22-23). Buah roh dalam paparan Paulus, merupakan karakteristik unggul. Selanjutnya rasul Paulus menyatakan karakteristik unggul itu harus ada di dalam orang yang percaya kepada Yesus Kristus karena orang yang percaya Yesus Kristus menjadi milik Kristus Yesus harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Keinginan yang dimaksud adalah keinginan yang menyimpang dari kehendak Tuhan (bnd. Gal. 5:24).

Jadi, sejak manusia pertama berdosa dan generasi manusia selanjutnya juga dipengaruhi dosa. Karakteristik unggul sebagai makluk yang segambar dan serupa memerlukan pemulihan dalam Yesus Kristus. Untuk mewujudkan itu maka perlu ada pribadi-pribadi yang dididik sehingga mampu menampilkan karakteristik unggul. Dalam konteks berpikir ini maka narasi Matius yang mengisahkan proses pendidikan yang berporos pada Yesus sebagai guru, dan Simon Petrus dan kawan-kawannya sebagai murid-murid pertama sebagaimana dalam kisah Matius 4:19 dan 5:1-12.

Yesus tidak menulis apa yang dilakukan-Nya (Fee dan Stuart, t.th.:113-114) segala yang dilakukan Yesus ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Pada bahasan ini,lebih difokuskan pada tulisan Matius tentang kegiatan didaktis Yesus. Kegiatan didaktik itu Yesus dalam versi Matius, Yesus memulai dengan memanggil murid-murid-Nya yang pertama, kemudian Yesus memberitahu apa yang menjadi tujuan panggilan itu atau dalam konteks didaktik disebut tujuan pengajaran. Tujuan itu dapat diamati dalam Matius 4:19. Dalam ayat ini, penulis Injil Matius memaparkan bahwa sang guru yaitu Yesus Kristus memberitahukan kepada murid-murid yang pertama akan tujuan. Rumusan tujuannya sebagai berikut: “menjadi penjala manusia” (bnd. Mat. 4:19). Sebelum dunia pendidikan modern menemukan dan menerapkan betapa pentingnya penentuan tujuan dalam pengajaran, Yesus telah memberikan teladan terbaik di sekitar perumusan tujuan dan penyampaian tujuan itu kepada murid. Di sini sangat jelas sebuah teladan yang agung yaitu pengajaran, khususnya dalam pendidikan karakter harus memiliki tujuan. Tujuan itu mempengaruhi seluruh kegiatan, baik yang dilakukan oleh guru maupun murid. W.James Popham dan Eva L. Baker menyatakan: Bila seorang guru/dosen/pendidik Kristen hendak melakukan kegiatan mengajar maka yang pertama-tama dilakukan adalah merumuskan tujuan yaitu perubahan apakah yang guru/dosen/pendidik Kristen inginkan dalam diri peserta didik yang dididiknya. Dengan kata lain, kedua penulis ini menyatakan: ketika hendak memasuki kelas, pertanyaan yang harus ada di dalam diri guru adalah “perubahan apakah yang saya inginkan dalam diri siswa-siswa saya?”(Popham dan Baker, 2005:6). Sebelum kebenaran yang dirumuskan dalam pertanyaan di atas ditemukan, Yesus sudah melakukannya kepada murid-murid-Nya. Yesus menghendaki perubahan secara utuh, perubahan intelektual tetapi juga perubahan karakter sebagaimana muncul dalam materi pengajaran Yesus yang disampaikan oleh Matius dalam Injilnya. Isi Injil Matius 5:1-12 oleh beberapa penafsir dihubungkan dengan etika atau karakter pengikut Yesus.

Isi Matius 4:19, selain dapat dilihat dalam paradigma tujuan pengajaran tetapi juga dipandang dari proses atau kegiatan-kegitan terstruktur yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan terstruktur atau misi itu dapat dipahami dalam ungkapan kata “kamu akan kujadikan penjala manusia”, bila tujuan ini dirumuskan dalam format rumusan misi maka rumusannya sebagai berikut: membentuk atau menjadikan murid menjadi penjala manusia. Dengan demikian, jelas bahwa dalam Matius 4:19 terdapat rumusan tujuan dan rumusan misi pengajaran atau kegiatan terencana untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep pemahaman ini ada dalam Matius 4:19. Jadi, dalam rangka pendidikan karakteristik unggul, Yesus merumuskan tujuan, menyampaikan tujuan tersebut kepada murid, menentuan kegiatan-kegiatan terstruktur (metode, media, strategi, tempat, dll).

Berdasarkan tujuan pengajaran yang telah disampaikan kepada murid sebagaimana dalam Matius 4:19, selanjutnya Yesus memilih dan menggunakan materi yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disampaikan kepada murid-murid-Nya. Materi pengajaran Yesus yang dimaksud di sini, dapat dilihat dalam Matius 5: 1-12. Dalam ayat-ayat ini, materi pendidikan karakter yang disampaikan Yesus sangat berbeda dengan materi pada zaman itu. Menurut para ahli tafsir, materi dalam Matius 5:1-12 itu terdiri dari 8 materi pendidikan karakter, isinya sangat berbeda dengan isi pengajaran guru-guru pada umumnya. Misalnya, materi pengajaran tentang kebahagian. Secara umum yang berbahagia adalah orang yang kaya, memiliki fasilitas yang memadai, memiliki banyak materi dunia. Akan tetapi materi pengajaran Yesus tentang kebahgiaan berbeda dengan yang biasanya, yaitu orang yang berbahagia adalah orang yang miskin di hadapn Allah. Arti miskin di hadapan Allah akan dijelaskan dalam bab II. Materi pengajaran Yesus dalam fersi Matius sedikit berbeda dengan fersi Lukas. Akan tetapi penelitian ini terikat pada fersi Matius.

Beberapa buku tafsiran mengelompokkan materi pengajaran Yesus berdasarkan Matius 5:1-12 dalam delapan (8) ucapan bahagia. Dalam pembahasan ini, istilah yang dipakai adalah delapan (8) materi pengajaran Yesus yang berorientasi pada pendidikan karakter. Kedelepan materi itu berhubungan dengan kebahagiaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Kualitas pemilihan materi sangat berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan, komponen tujuan dan materi serta komponen lainnya dalam pengajaran Yesus akan membentuk karakteristik unggul dari para murid dan pendengar pertama yang hadir dalam khotbah (ceramah) Yesus di bukit.

Selain materi pengajaran karakteristik unggul, ada pula penggunaan metode oleh Yesus. Metode yang dipakai Yesus Kristus dalam memberi pengajaran karakter adalah metode ceramah. Hal ini dapat di amati dalam Matius 5: 3-12. Ternyata metode ceramah yang dipakai oleh Yesus membantu pendengar pada waktu itu. Penulis Injil Matius menyatakan bahwa orang banyak hendak mendengar pengajaran Yesus (bnd. Mat. 5:1). Berdasarkan informasi Matius, dapat dipastikan bahwa ternyata metode ceramah yang dipergunakan Yesus disukai orang banyak (masih relevan) dengan konteks zaman itu. Orang banyak itu memutuskan untuk mendengar Yesus mengajar. Yesus walau memakai metode ceramah tetapi dapat didengar oleh orang banyak. Di sini membuktikan bahwa ada keunggulan dari metode ceramah.

Aspek lain yang Yesus pakai dalam pengajaran kepada murid-murid adalah pemberian pujian yang tepat. Yesuspun memakai reword kepada murid-murid-Nya. Yesus dengan tulus dan tidak berlebihan dalam memberi pujian kepada para pendengar pada waktu itu. Kepada para murid, Yesus menyapa mereka dengan pujian: kamu adalah garam dan terang dunia(kamu ini berguna bagi sesamamu). Betapa hebat Yesus menggunakan pujian kepada murid-murid-nya sehingga murid-murid merasa bahagia.

Berdasarkan informasi di atas, mencari materi yang relevan dengan tujuan adalah sesuatu hal yang saling membahagiakan murid dan guru. Yesus menunjukkan perbuatan baik dalam pengajaran yaitu: merumuskan tujuan, memikirkan kegiatan tersruktur yang cocok dengan tujuan, memilih materi, menggunakan metode, mencari tempat untuk proses pendidikan karakter, mencari murid, memberi pujian yang tepat kepada murid merupakan kategori perbuatan baik dari sang guru yang pada akhirnya membentuk karakteristik unggul pada diri murid-murid, para murid menjadi penjala manusia sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Yesus. Tujuan ini dibuktikan pada waktu Petrus berkhotbah dan 3.000 orang bertobat.

Dalam pengajaran yang berbasis karakter (perbuatan baik) sebagaimana yang disebutkan dalam Matius 4:19 dan Matius 5:1-12 terdapat teladan pendidikan karakter yang patut diteladani sehingga peserta didik yang diajar memiliki karakter unggul. Dalam pendidikan karakter unggul, Yesus menetapkan tujuan, memilih materi yang relevan, menggunakan strategi dan metode pengajaran berbasis karakter sehingga akhirnya mempengaruhi para murid dalam menampilkan karakter unggul dan berhasil dalam pelayanan. Pendidikan karakter ini memiliki pengaruh, oleh karena itu di Sekolah Tinggi Teologi para dosen harus memiliki perbuatan baik yang akan mempengaruhi karakteristik unggul mahasiswa S1. Keberhasilan pendidikan karakter juga tidak terletak pada retorika tapi pada keteladanan. Yesus tidak hanya sekedar retorika tetapi Yesus memberi teladan dalam pendidikan karakter unggul. Pendidikan karakter tidak berhasil jika hanya retorika. Suksesnya pendidikan karakter justru butuhketeladanan. "Tidak cukup membicarakan karakter bangsa, tetapi hanya sebatas retorika. Tidak sedikitpun tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terutama dari pemimpin bangsa. Padahal, pendidikan karakter itu efektif dengan keteladanan,"

Para dosen melakukan kegiatan mengajar tetapi lebih banyak pada kegiatan mengajar murni dan bukan mendidik. Para dosen cenderung memfokuskan pada kecerdasan intelektual. Sementara hasil penelitian membuktikan bahwa 20 % keberhasilan dalam kerja termasuk pelayanan dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual yang ditandai dengan nilai dalam bentuk angka baik kualitatif maupun kuantitatif (A = 90 -100, B = 80 -90, C = 70 -79).

Keberhasilan pendidikan yang diukur dari rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator masih dilaksanakan dalam format kecerdasan intelektual. Akibatnya mahasiswa nilainya bagus tapi bermasalah dalam karakter. Kecerdasan lain yang prosentasinya lebih besar yaitu 80 % pada kecerdasan emosional, khususnya pendidikan karakter yang sangat menentukan keberhasila kerja atau pelayanan mahasiswa di kemudian hari tidak terbangun secara baik dalam setiap perkuliahan. Semestinya mata kuliah apapun harus digandeng dengan pendidikan karakter.

Fokus pencapaian sebagaimana yang dikatakan di atas menyebabkan pendidikan di Indonesia dinilai mengutamakan ranking dari pada karakter. Oleh karena itu jangan heran bila ada ungkapan seperti ini: Sebagai orang tua, kita harus jeli dalam melihatkeunikan anak kita, jangan pernah tertipu dengan sistem ranking yang ada disekolah, karena itu hanya menilai aspek kognisi anak saja. Nilai raport, ranking, jangan disama artikan dengan nilai diri anak. Masih banyak nilai-nilai yang tidak tercantum dalam raport, nilai sosial, emosi, dan akhlak anak. Tetapi tentunya orang tua jangan sampai menumbuhkan persepsi bahwa prestasi di sekolah itu tidak penting. Yang perlu digaris bawahi adalah, mungkin dari segi pelajaran di sekolah, anak memang tidak mempunyai kemampuan yang lebih, akan tetapi bisa saja anak memiliki kemampuan yang membanggakan dibidang yang lain, olahraga, seni, tarik suara, dsb.

Apa yang dikemukakan di atas dapat dihubungkan dengan hasil penelitian David Coleman, yaitu 20 % keberhasilan anak dalam pekerjaan ditentukan oleh kecerdasan intelektual, sedangkan 80 % ditentukan oleh kecerdasan emosional. Dalam hal inilah maka dapat dikatakan bahwa Pendidikan karakter sangat penting dilaksanakan di setiap sekolah karena mempunyai kontribusi terhadap keberhasilan peserta didik. ( Popham dan Baker,2005:41-50)

Selain itu, terdapat kecenderungan perumusan tujuan pengajaran tidak dipikirkan, direnungkan secara mendalam. Rumusan-rumusan tujuan pada setiap mata kuliah hanya sebatas perubahan kecerdasan intelektual, sedikit sekali pada karakteristik unggul.

Komunitas STT juga tidak hidup sesuai dengan perbuatan baik berdasarkan format Matius 4:19 dan Matius 5:1-12. Selalu memulai kegiatan pengajaran dengan tujuan, memikirkan kegiatan terstruktur yang relevan, merekonstruksi materi yang relevan dengan tujuan pendidikan karakter, pemilihan strategi dan metode sering menjadi masalah dalam proses pendidikan karakter.

Pendidikan karakter sebagaimana yang disebutkan dalam Matius 5:1-12 tepat dilakukan oleh warga Sekolah Teologi di Indonesia karena berbagai penyimpangan yang terjadi di Indonesia menyebabkan pemerintah melaui kementerian pendidikan merancang pendidikan karakter. Disini pendidikan karakter sedemikian urgen karena berbagai persoaln yang dihadapi di Indonesia.

Berdasarkan program pendidikan karakter yang sedang digalakkan di Indonesia sebagai suatu solusi untuk pemecahan masalah membawa bangsa kepada karakteristik unggul maka pendidikan karakter yang dilakukan Yesus yang disaksikan oleh Matius 4:19 dan Matius 5:1-16 perlu dilaksanakan oleh warga sekolah tinggi teologi, khususnya oleh para dosen dan mahasiswa.

Berbagai fakta dalam STT menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual memang baik tetapi sering menjadi masalah adalah pada kecerdasan emosional.

B. dentifikasi Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas peneliti mengindikasikan bahwa sebagian dosen STT di STT ........., STT … sebagai berikut:

Pertama, sebagian dosen masih menerapkan mengajar murni, bukan mendidik. Para dosen ini lebih banyak menitik beratkan kecerdasan intelektual dalam pelaksanaan proses pembelajaran atas mata kuliah yang diasuhnya. Akibatnya kurang pengaruh terhadap mahasiswa dalam hal pembangunan karakter unggul. Sementara Negara menggalakkan pendidikan karakter, terlebih lagi Yesus sendiri telah melaksanakan pendidikan karakter

Kedua, diindikasikan bahwa sebagian dosen tidak serius memikirkan secara sungguh-sungguh akan tujuan pengajaran, sedangkan Yesus sendiri telah menentukan dan menyampaikan tujuan itu kepada murid-murid yang pertama dipanggil menjadi murid-Nya. Perumusan tujuan mata kuliah dan tujuan pokok-pokok bahasan hanya sekedar mengikuti ketentuan yang berlaku. Yang dipentingkan adalah bagaimana menyelesaikan materi pelajaran, tujuan pengajaran yang berbasis karakter tidak terlalu Nampak dalam rumusan tujuan, indicator dan penekakanan pada proses pembelajaran.

Ketiga, diindikasikan bahwa kegiatan terstruktur yang dipakai dosen pun hanya sekedar berjalan untuk memenuhi persyaratan. Kegiatan yang terarah pada pembentukan karakteristik unggul tidak begitu ditekankan dalam pembelajaran. Pada hal Yesus memilih kegiatan-kegiatan terstruktur untuk mencapai tujuan pengajaran.

Ketiga, ada indikasi bahwa ada dosen yang memilih mataeri tidak sesuai dengan tujuan, khsusnya pendidikan karakter. Materi yang disajikan lebih banyak berhubungan dengan kecerdasan intelektual. Pada hal ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan intelektual sedikit sekali menentukan keberhasilan dalam kerja.Pemilihan materi tidak disesuaikan dengan pendidikan karakter.

Keempat, ada indikasi bahwa perumusan tujuan, memilih materi pendidikan karakter, memilih prosedur pengajaran tidak dipandang sebagai perbuatan baik yang bersumber dari pengajaran dan teladan Yesus. Sementara Yesus memberi teladan perbuatan baik dalam pengajaran berupa merumuskan tujuan, menyampaikan ke murid dan mencari materi pengajaran yang relevan, serta penggunaan strategi dan metode. Aspek-aspek komponen pengajaran ini tidak dipandang sebagai perbuatan baik yang akan mempengaruhi karakteristik mahasiswa S1 Teologi.

Kelima, ada indikasi bahwa kurangnya kesadaran akan betapa pengaruh perbuatan baik yang disampaikan dalam Matius 4:19 dan Matius 5:1-12 yang akan mempengaruhi pembentukan karakteristik unggul mahasiswa. Sedangkan isi Matius 5:1-12 merupakan ajaran Yesus tentang sejumlah karakteristik yang harus dimiliki para murid-Nya. Bila karakrteristik ini dimiliki maka akan mempengaruhi orang lain sehingga orang lain dapat memuliakan Tuhan.

Keenam, ada dugaan bahwa pendidikan karakter harus menjadi mata kuliah tersendiri sehingga dosen yang mengajar mata kuliah lain tidak perlu memikirkan dan melaksanakan pendidikan karakter. Karakter unggul mahasiswa bukan urusan dosen di ruang kuliah. Di ruang kuliah hanya terjadi mengajar.

Ketujuh, diduga sebagian dosen masih memilih paradigma bahwa penentu keberhasilan adalah kecerdasan intelektual, sehingga kecerdasan emosional yang didalamnya ada pendidikan karakter tidak diutamakan. Mahasiswa yang bermaslah dalam proses pendidikan hanya menjadi perhatian kemahasiswaa.

Kedelapan, diduga belum ada pemahaman yang baik akan fakta bahwa keteladanan lebih efektif mempengaruhi pendidikan karakter ketimbang sejumlah retorika tentang pendidikan karakter. Pendidikan karakter dianggap berhasil jika telah ditulis, telah diseminarkan, dan lain-lain.

C. Batasan Masalah

(dibuat pernyataan atau pertanyaan sesuai dengan variabel yang akan diteliti, Jika dua variabel penelitian maka batasannya berkenaan dengan dua variabel tersebut)

D. Rumusan Masalah

Dapat dibuat dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Bila dua variabel maka rumusan malasahnya 1

E. Tujuan Penelitian

Menjelaskan apa yang hendak dicapai dalam penelitian yang disesuaikan dengan jenis studi. Artinya bila penelitiannya adalah korelasi maka tujuan penelitian adalah mencari hubungan atau pengaruh antara variabel bebas dan terikat.

F. Pentingnya Penelitian

Menggambarkan tentang manfaat yang dihasilkan dari penelitian tersebut. Manfaat itu berupa manfaat teoritis dan praktis.