This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, February 23, 2019

Mixed Methods

Dalam penelitian, kita mengenal ada jenis-jenis penelitian. Salah satunya adalah penelitian kombinasi atau mixed methods. Munculnya metode penelitian kombinasi dilatar belakangi oleh beberapa faktor antara lain: (1) dasar filsafat atau kita sebut saja paradigma filosofis metode kombinasi, (2) karakteristik dari trio penelitian yaitu: (a) penelitian kuantitatif (penelitian untuk menguji teori), (b) penelitian kualitatif (menemukan atau memperluas dan memperdalam teori); (2) Arti Metode Kombinasi; (3) Varian-varian mixed methods; (4) Model Metode Penelitian Kombinasi yang dikembangkan lagi dalam dua bagian yaitu: (a) Metode Sequen tial; (b) Metode Concurrent. (Sugiyono,2014:xi)

Penelitian Kombinasi sebagaimana yang dimaksud di atas yaitu penelitian yang menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian maka setiap Bab berisi kombinasi komponen metode kuantitatif dan kaulitatif. Hal yang terasa menarik adalah pada olah data pada Bab IV, akan disajikan olah data dan analisis secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian data dapat disampaikan secara kuantitatif dan kualittatif. Model penelitian ini sudah dilakukan oleh beberapa peneliti yang berusaha memaparkan hasil penelitian mereka, khususnya pada bab IV.

Peneliti yang menggunakan metode kombinasi memaparkan temuan penelitian secara kuantitatif dengan menggunakan olah data dengan tools SPSS dan setelah itu berusaha memaparkan data secara kualitatif sesuai dengan prosedur olah data. Prosedur olah data dalam pendekatan kualitatif dimulai dengan Tehnik Analisa Data dan Pengujian Keabsahan Data. Dengan demikian pendekatan kualitatif tidak bersifat subjektif belaka tetapi memiliki prosedur ilmiah. Artinya dapat diterima secara rasional.

Saya katakan hasil penelitian kualitatif dapat diterima secara rasional karena memiliki apa yang disebut dalam metodologi kualitatif dengan "Rencana Pengujian Keabsahan Data" yang dilakukan dengan cara uji keabsahan data.

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi: uji kredibilitas data (validitas internal), uji dependabilitas (reliabilitas) data, uji transferabilitas (validitas eksternal/generalisasi), dan uji konfirmabilitas (objektivitas). Namun yang utama adalah uji kredibilitas data. Uji kredibilitas data dilkukan melalui:
(1) Perpanjangan pengamatan,
(2) Meningkatkan ketekunan,
(3) Triangulasi,
(4) Diskusi dengan teman sejawat,
(5) Member check,
(6) Analisis kasus negative ( Sugiyono, Ibid. 401-402)

BAB IV
PAPARAN DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Gambaran umum Objek Penelitian
B. Temuan Penelitian

Contoh Bab I dan II Penelitian Kualitatif

JUDUL PENELITIAN KUALITATIF


"SIAP MENAMPILKAN IKLAN DI SITUS"


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan internet memungkinkan koneksi antar satu komputer dengan komputer lain di dunia dapat terwujud. Dengan adanya internet, berbagai usaha dilakukan melalui internet. Salah satunya yakni keinduan pemilik situs untuk mendapatkan penghasilan online dengan cara menampilkan iklan di situs. Untuk mencapai maksud ini, pemilik situs harus mendaftar di beberapa program adsense, khususnya Adsense dari google. Program ini menjadi incaran para pemilik situs di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Masalah yang terjadi yakni tidak semua pemilik situs yang mengajukan pendaftaran di Google Adsense dapat diterima. Ada kebijakan yang harus ditaati. Beberapa hari yang lalu penulis mengajukan sebuah situs namun jawabannya yakni "Tim sudah meninjau situs Anda, namun saat ini situs Anda tidak siap untuk menampilkan iklan. Ada beberapa masalah yang harus diperbaiki agar situs Anda siap untuk menampilkan iklan."
.
Berdasarkan pengalaman di atas maka ada masalah. Masalah ini perlu diselesaikan. Namun apakah perlu ada penelitian. Ya perlu. Oleh karena itu penulis memilih topik ini untuk diteliti secara kualitatif.

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada usaha menerbitkan Adsense di Situs. Dengan demikian fokus penelitian ini jelas yaitu pada usaha mengatasi masalah dalam hal pengajuan menjadi publisher iklan di situs.

Rumusan Masalah

Bagaimana menampilkan Adsense dari Google di Situs?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini yakni:
Memperluas pengetahuan tentang mengatasi masalah penolakan sehingga situs dapat menerbitkan iklan

Manfaat Hasil Penelitian

1. Memperluas pemahaman penulis tentang cara memperbaiki situs agar sesuai kebijakan Google Adsense
2. Menambah pengetahuan para blogger yang mengalami kesulitan dalam mendaftarkan blog
3. Menambah pengetahuan Blogger parttime dan fultime

BAB II

KAJIAN TEORI


A. Perbaikan Agar Sesuai Kebijakan Google Adsense
1. Navigasi atau Interaksi dengan konten yang sengaja dibuat sulit atau mengesalkan
2. Halaman yang masih dalam proses pembuatan
3. Halaman yang tidak berfungsi
4. Halaman yang mengantar ke Pesan Error

B. Tahap Menyiapkan

Ketika telah melakukan poin 1-4 dalam point A atau sesuai saran perbaikan yang dikirim Google adsense ke email maka selanjutnya mengirim daftar ulang dan menanti jawaban sebagai berikut:
Google menyatakan bahwa situs dalam tahap “Menyiapkan situs Anda untuk menampilkan iklan”.
Proses ini biasanya membutuhkan waktu kurang dari sehari, namun terkadang bisa lebih lama. Kami akan memberi tahu Anda setelah kami menjalankan beberapa pemeriksaan di situs.
Sementara itu, tempatkan kode pada setiap halaman yang diinginkan untuk menampilkan iklan. Setelah pemeriksaan kami selesai, situs Anda akan siap untuk menampilkan iklan.

Contoh Bab I Penelitian Kualitatif di atas diambil berdasarkan pengalaman terkini dari penulis. Artinya variabel penelitian dapat diperoleh dari pengalaman peneliti. Pengalaman itu mengandung masalah dan masalah itu layak diselesaikan melalui sebuah penelitian yang bersifat kualitatif atau secara alamiah berdasar latar penelitian.

Beberapa alat yang dipersiapkan dalam penelitian yaitu:

1. Komputer
2. Laptop. Ada berbagai merek dan bentuk laptop. Milikilah laptop yang ringan untuk dibwa ke mana saja
3. Handphone Android
4. iPad
5. WiFi. Alat ini memungkinkan kita untuk berinternet. Sekarang pada banyak yang menyediakan jasa WiFi.

Kerangka Laporan Penelitian Kualitatif

Berdasarkan pengalaman saya, suatu saat kami mengikuti kuliah metodologi, sang dosen menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan olah data dengan menggunakan SPSS, tentu penelitian ini berusaha menguji teori. Penelitian semacam ini bagus, namun sudah terlalu banyak di perpustakaan tempat saya studi. Namun yang kurang bahkan pada penelitian tingkat doktoral di tempat saya menyelesaikan studi belum ada. Lalu saya memilih metode yang berbeda dengan metode yang diusung oleh dosen mata kuliah metodologi yang lebih banyak menguasai kuantitatif. Para pembimbingpun sudah familiar dengan penelitian kuantitatif dengan analisis data dengan bantuan statistik yaitu SPSS. Oleh karena metode yang saya pilih itu belum banyak digunakan di tempat atau kampus saya maka saya harus mencari dosen pembimbing yang lebih menguasai meetode penelitian kualitatif. Namun dosen yang ada di kampus belum ada yang punya spesifikasi kualitatif.

Lalu kampus memberi kepada saya seorang dosen pembimbing, saya kemudian melakukan penelitian awal yaitu proposal dan mengikuti ujian dan selanjutnya masuk ke penelitian. Dalam proses penelitian itu, saya lebih banyak mengadakan studi mandiri untuk metode penelitian kualitatif. Kesulitan saya yakni pada BAB III dan BAB IV. Namun saya mendapat solusi dari buku Sugiyono. Saya menggunakan kerangka penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Sugiyono. Setelah semuanya rampung kemudian mengikuti ujian, saya ditanya oleh seorang penguji tentang apa tingkat signifikansi dari penelitian saya. Saya sudah tahu arah pertanyaan ini lebih didominasi oleh paradigma kuantitatif maka saya jawab, maaf penelitian saya tidak berusaha menemukan tingkat signifikansi karena hal ini ada dalam penelitian kuantitatif sementara metode penelitian yang saya gunakan adalah penelitian kualitatif yang tidak bermaksud menemukan tingkat signifikasni dalam angka valiadsi tertentu sehingga disebut signifikan. Signifikansi tidak dapat secara kualitatif dinyatakan tetapi harus ditopang dengan angka yang memastikan bahwa suatu variabel penelitian disebut signifikan. Mendengar itu sang penguji terdiam dan melanjutkan dengan pertanyaan lain.

Berdasakan pengalaman tersebut dalam postingan ini saya hendak mengemukakan kerangka penelitian kualitatif. Saya sadar bahwa bila seseorang memutuskan memilih metode penelitian kualitatif maka ia memahami bahwa tujuan mengadakan penelitian dalam skripsi, tesis dan disertasi bermaksud untuk menemukan atau memperdalam dan memperluas temuan kita tentang topik yang diteliti. Topik yang diteliti secara kualitatif harus benar-benar diperdalam sampai tuntas. Itulah sebabnya kita mesti ingat alasan kita menggunakan metode penelitian kualitatif.

Menurut Sugiyon kerangka penelitian kualitatif paling tidak ada unsur-unsur berikut ini.

Cover/Halaman Judul
Persetujuan Dosen Pembimbing
Persetujuan Dosen Penguji
Surat Pernyataan Bebas Plagiarisme
Dedikasi
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Gambar (bila ada)
Daftar Isi
atau mengikuti ketentuan yang berlaku di perguruan tinggi di mana seseorang terdaftar sebagai mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhir. Jadi uurutan format halaman awal di atas bisa berbeda-beda.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Fokus Penelitian (dalam penelitian kuantitatif disebut batasan masalah atau ruang lingkup penelitian)
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Dosen Idola
B. Profil Dosen Idola
C. Indikator Dosen Idola

BAB III METODE PENELITIAN

A. Alasan Menggunakan Metode Kualitatif
B. Tempat Penelitian
C. Sampel Sumber Data Penelitian
D. Instrumen Penelitian
E. Tehnik Pengumpulan Data
F. Tehnik Analisa Data
G. Pengujian Keabsahan Data

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Temuan Penelitian
B. Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Saran

Contoh Bab III Metode Penelitian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian yang digunakan

Menurut Ronny Kountur, metode penelitian adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah yang dimaksud dalam definisi ini yaitu suatu penelitian ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan dan menguji hipotesis atau menemukan teori serta membuat kesimpulan (Ronny Kountur, 2007: 7). Sedangkan Sugiyono mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam definisi ini ditekankan beberapa kata penting, yakni cara ilmiah yaitu kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yakni rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian yang dilakukan bersifat dapat diterima akal sehingga terjangkau oleh penelaran manusia. Empiris berarti penelitian yang dilakukan melalui pengamatan indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis berarti proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. ((Sugiyono, 2008:3) Selanjutnya metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni penelitian kepustakaan (Library Research) artinya penulis mengadakan studi terhadap literatur yang ada, dan menyusun data tersebut secara sistematis. (M. Nazir, 1998:l11-112). Sedangkan metode penulisan skripsi ini adalah Metode Deskriptif, yaitu metode dalam menulis suatu situasi dan kondisi atau peristiwa pada masa sekarang.
Penelitian Deskriptif (Descriptive Research), bermaksud membuat penyadaran secara sistematis, aktual, dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (M. Nazir, 1998:l11-112)

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai sejak …….. sampai …….. 2019 yang diawali dengan pengajuan judul penelitian dan pengujian proposal penelitian dan penelitian lapangan secara kualitatif (Riset Teoritik)

C. Teknik Pengumpulan Data

Lexy J. Moleong mengklasifikasi teknik penelitian atau pengumpulan data dalam beberapa kategori, yaitu (1) sumber data dan jenis data yang diperoleh melalui: (a) kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai. (b) sumber tertulis yang dibagi lagi menjadi data dari sumber buku, majalah ilmiah. sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. (c) Foto menghasilkan data deskriptif dengan kategori foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri. Foto yang dimaksud disini yaitu foto tentang orang dan latar penelitian yang sesuai dengan variable yang diteliti. Latar penelitian dalam foto dapat diamati dengan teliti, foto juga dapat memberi gambaran tentang perjalanan sejarah orang yang ada didalamnya. Dari foto diketahui gambaran tentang posisi duduk di gereja, keadaan duduk santai, dan gembira ria, keadaan anggota gereja dan lain sebagainya. Foto digunakan untuk memahami bagaimana para subjek penelitian memandang duniannya (Lexy J. Maleong, 1999: 114)

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui dua sumber utama, yaitu: Sumber sekunder atau data sekunder. Data sukender adalah data yang bersumber dari penelitian orang lain yang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Data ini berupa fakta, table, gambar, dan lain-lain. Walaupun dibuat untuk maksud yang berbeda, data-data ini dapat dimanfaatkan peneliti lain untuk variable yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada riset pustaka.

D. Teknik analisa data

Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif belum ada teknik yang baku dalam menganalisa data, atau dalam analisa data kualitatif, tekniknya sudah jelas dan pasti, sedangkan dalam analisa data kualitatif, teknik seperti itu belum tersedia, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki oleh peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif

Semoga bermanfaat

Kerangka Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Pentingnya Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teoritis
1. Hakikat Variabel Y
2. Hakikat Variabel X1
3. Hakikat Variabel X2
4. Hakikat Variabel X3
5. Hakikat Variabel X4
6. Hakikat Variabel X5
7. Hakikat Varibel X6
8. Hakikat Variabel X7
9. Hakikat Varibel X8
10. Hakikat Variabel X9
11. Hakikat Variabel X10
12. Hakikat Variabel X11

B. Kerangka Berpikir

1. Uraian dari rumusan masalah pertama
2. Uraian dari rumusan masalah kedua
3. Uraian dari rumusan masalah ketiga
4. Uraian dari rumusan masalah keempat
5. Uraian dari rumusan masalah kelima
6. Uraian dari rumusan masalah keenam
7. Uraian dari rumusan masalah ketujuh
8. Uraian dari rumusan masalah kedelapan
9. Uraian dari rumusan masalah kesembilan
10. Uraian dari rumusan masalah kesepuluh
11. Uraian dari rumusan masalah kesebelas

C. Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan lokasi penelitian
B. Jenis Penelitian
C. Populasi
D. Tehnik Sampling
E. Besar Sampel
F. Variabel Penelitian
G. Hubungan antar varibel atau disain variabel penelitian
H. Teknik pengumpulan data
I.Instrumen Penelitian
J. Teknik Analisa Data

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Deskripsi Data
1. Variabel Y
2. Variabel X1
3. Variabel X2
4. Variabel X3
5. Variabel X4
6. Variabel X5
7. Varibel X6
8. Variabel X7
9. Varibel X8
10. Variabel X9
11. Variabel X10
12. Variabel X11

B. Uji Persyaratan Analisis
C. Uji Hipotesis

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
1. Saran Praktis
2. Saran Penelitian Lanjutan
3. dll

KRANGKA PENELITIAN KUALITATIF (Penelitian menemukan teori)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Fokus Penelitian
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Pentingnya Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI

A. Efektifvitas Proses Pembelajaran PAK
B. Pembelajaran Kontekstual
C. Pendekatan Pembelajaran Rekonstruksi
D. Pendekatan Pembelajaran Nativisme
E. Pendekatan Pembelajaran Empiris
F. Pendekatan Pembelajaran Konfergensi
G. Pendekatan Pembelajaran “Kogito Ergo Sum”
H. Pendekatan Pembelajaran “Aku Tahu Baru Percaya”
I. Pendekatan Pembelajaran “Aku Percaya Baru Mengerti”
K. Pendekatan Pembelajaran “Aku Menerima Perasaan maka Aku Ada”
L. Pendekatan Pembelajaran “Dimana ada sinyal Internet”

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode penelitian
B. Langkah-langkah Penelitian
C. Tempat Penelitian
D. Informan dan Sampel
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Analisa Data Kualitatif
F. Pengujian Kredibilitas Data
G. Temuan Hipotesis
H. Teknik pengumpulan data
I. Instrumen Penelitian
J. Teknik Analisa Data

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan


BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
1. Saran Praktis
2. Saran Penelitian Lanjutan
3. dll

Penelitian Teologi Natural

Teologi Natural adalah refleksi personal terhadap sumber daya alam dalam relasinya dengan pencipta (TUHAN). Sumber daya alam yang dimaksud disini sejauh yang dilihat, dijangkau, yang dialami atau dirasakan. Kemudian diadakan refleksi (perjumpaan logi dengan Theos) dalam ranah peta dan gambar Allah (Kejadian 1:28)
Teologi Natural semacam ini tentu tidak berdiri secara mutlak atas teologi natural yang dibangun pada masa lampau. Ide-ide teologi natural, tentu tidak terlampau jauh dengan ide yang pernah ada dalam ranah berteologi natural. Dalam konteks Pendidikan Kristen dan Teologi Kristen, berteologi natural adalah refleksi logis yang didasarkan pada kesaksian Alkitab tentang ciptaan-Nya. Teologi natural tidak dapat dilakukan diluar ciptaan Allah. Berteologi natural selalu dan senantiasi berinteraksi dinamis terhadap apa yang ada disekitar manusia. Yang ada disekitar manusia memungkinkan ia berteologi secara alamiah.
Jadi, berteologi natural dalam artikel ini berkorelasi dengan apa yang dilihat, dialami oleh Guru Pendidikan Agama Kristen. Dengan demikian, kini kita dapat berteologi natural.

KEBUTUHAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: Salah satu variabel Penelitian

Berikut ini kami menyajikan beberapa topic penelitian dalam Pendidikan Agama Kristen. Topik-topik atau variabel tersebut berkisar pada kebutuahn primer Guru Pendidikan Agama Kristen.
Kebutuhan Pakaian
Baju Berkualitas Terhadap Prestasi Mengajar
Ikat Pinggang Berkualitas Terhadap Kesehatan Guru PAK
Sepatu Bermerek Terhadap Semangat Mengajar
Dompet Bermerek Internasional Terhadap Semangat Sosial Guru PAK Dalam Proses Pembelajaran
Tempat Belaja Standar Internasional Terhadap Kecintaan Mengajar
Dalam kehidupan sehari-hari, guru Pendidikan Agama Kristen berhadapan dengan rekan-rekan guru di bidang umum. Ada guru yang memenuhi kebutuhan primer dengan standar yang mungkin tidak ada pada guru Agama. Katakanlah standar pakaian bermerek.
Pakaian bermerek, misalanya untuk yang laki-laki: Celana dengan mereka …. Baju dengan merek …. Ikat pinggang dengan merek …. Dengan harga ….. Selain itu sepatu bermerek. Ada guru yang memakai sepatu merek ….. dengan harga ….. Apakah kebutuhan primer tersebut mempengaruhi semangat mengajar seorang guru Pendidikan Agama Kristen dalam suatu proses belajar mengajar.

PENGHASILAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN: Salah satu variabel Penelitian

Mengajar adalah pekerjaan professional. Sebagai pekerjaan professional maka ada aturan pemerintah untuk membayar tenaga professional sesuai ketentuan undang-undang Pendidikan Nasional. Pembayaran honor mengajar bagi seorang pegawai negeri tentu berbeda dengan pegawai swasta. Apalagi guru Pendidikan Agama Kristen yang bekerja di Sekolah Lazarus (Sekolah dengan andalan kuat iman, kurang roti). Sekolah-sekolah seperti ini lebih banyak menggunakan “persembahan kasih”, walaupun istilah persembahan kasih sebenarnya maknanya jauh lebih tidak mampu dilakukan oleh lembaga. Ingat TUHAN Allah memberi anak-Nya yang tunggal (Yoh. 3:16). Memberi yang tunggal berarti member seluruhnya.
SINGKONG DAN KOPI GURU PAK
Ketika saya sedang membuat artikel ini, saya disuguhkan singkong dan kopi. Itulah sebabnya saya membuat judul: Singkong dan Minuman Guru PAK.
Makan singkong untuk sebagian orang sangat menyenangkan, tetapi untuk sebagian orang mungkin tidak demikian. Saya termasuk orang yang senang makan singkong. Apalagi singkong bakar model kampong saya di Pulau “Shalom”. Di pulau ini, setiap ketemu orang pasti disapa shalom Bapa, Shalom Mam, Shalom Bapa Guru, Shalom Ibu Guru, Shalom Bapak Camat, Shalom Bapak Kepala Desa dst.
Kembali pada Singkong. Bagi Guru PAK yang sudah berusia, dan rentan terhadap gula, Singkong menjadi salah satu makanan pilihan. Alangkah indahnya kalau ada jagung.
Makan singkong sambil minum kopi, rasanya Enak bangat. Rasanya seperti sorga kecil (rasa senang/bahagia) jatuh ke atas meja. Kalau sekirannya mengetiknya di meja.
BERTEOLOGI NATURAL di Depan Rumah, Samping dan Belakang Rumah.
TUHAN itu sangat ilmiah. TUHAN menciptakan langit dan bumi serta isinya. Oleh karena alam semesta dicipta dalam keteraturan logi TUHAN maka isi alam menopang kehidupan manusia.
Saya bersyukur dapat bernafas secara lega di rumah. Hal ini disebabkan karena TUHAN mencipta udara yang saya nikmati secara gratis setiap detik. Saya juga dapat menjemur pakaian di depan rumah karena salah satu hasil logi TUHAN Allah adalah menciptakan Matahari. Saya menjemur pakaian dan disinari dengan sinar matahari sampai jemuranku kering dan kuangkat lagi ke dalam rumah. Matahari saya gunakan secara free setiap hari dari Jam 06.00 – 18.00 (Mulai matari terbit sampai terbenam).
TUHAN telah mencipta tanah, dibelakang rumahku ada tanah kosong, aku tanam pisang. Pisang itu menghasilkan buah bagi saya dan berbagi dengan tetangga. Saya menikmati betapa teduh karena pohon pisang di belakang rumah saya.
Selain itu, saya juga menanam pohon penyambung nyawa (daun sambung nyawa) atau daun Afrika. Daun ini bila dikunya rasanya pahit. Rasa pahit itu memberi manfaat pada tubuh. Ada yang menyatakan bahwa daun sambung nyawa atau daun afrika dapat mengobati rambut sehingga tetap awet muda alias tidak uban. Selain itu bisa mengobati gula. Bagi penderita gula dapat mengkonsumsi daun ini. Dalam suatu rapat gereja, ada seorang Bapak usianya diatas 55, ia punya pengalaman mengkonsumsi daun sambung nyawa.Katanya: Salah satu khasiat daun ini bagi dirinya yakni mengatasi uban, rambutnya tetap hitam berkat konsumsi daun sambung nyawa. Namun beliau mengingatkan agar konsumsi selama seminggu, setelah itu berhenti kemudian konsumsi lagi pada minggu berikutnya. Tentu bergantung pada khasiat yang sudah terasa. Jangan terlalu banyak juga karena bisa juga mengancam nyawa.
Disini kita menydari bahwa setiap tumbuh-tumbuhan memiliki khasiat untuk manusia. Inilah keunikan Berteologi Natural di Rumah dan tempat tempat lain. Memandang lingkungan dalam perspektif teologi dan Ilmu pengetahuan. Keduanya dapat berjalan bersama-sama. Berilmu sambil berteologi, berteologi sambil berilmu.

Contoh BAB V Kesimpulan

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hasil analisis kedua variabel dapat dijelaskan bahwa nilai R = 0,774, hubungan ini masuk dalam kategori yang kuat yaitu 77,4% dan R Square = 0,599 yang termasuk dalam kategori hubungan yang sedang yaitu 59,9%. Hubungan ini signifikan karena probabilitas signifikannya 0,000 lebih kecil dari taraf signifikan alpha (0,05), artinya hubungan ini merupakan hubungan yang tidak kebetulan semata.
Jadi dapat disimpulkan ketiga variabel yaitu Keteladanan Guru PAK, Kualitas PAK dan Pembentukan Kecakapan Peserta Didik mempunyai hubungan yang signifikan, dengan tingkat koefisien korelasinya berada pada level yang kuat. Artinya, bahwa Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAK mempunyai pengaruh yang kuat terhadap Pembentukan Kecakapan Peserta Didik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa Keteladanan Guru PAK baik dilingkungan sekolah maupun dimana saja ia berada memberi pengaruh yang berarti bagi Pembentukan Karakter Siswa. Begitu juga dengan Kualitas PAK yang diajarkan kepada para siswa memberi pengaruh yang begitu berarti terhadap Pembentukan Kecakapan Peserta Didik. Dan apabila Keteladanan Guru PAK ditunjukkan secara negatif maka akan mengurangi Pembentukan Karakter Siswa, namun sebaliknya jika Keteladanan Guru PAK ditingkatkan secara positif akan berdampak positif pula terhadap Pembentukan Kecakapan Peserta Didik. Hal yang sama juga dapat diperoleh pada Kualitas PAK yang diajarkan kepada para siswa, sehingga dapat membentuk Pembentukan Kecakapan Peserta Didik seperti kecakapan karakternya Kristus.

B. Saran

Setelah mengetahui adanya hubungan signifikansi yang kuat antara pelayanan misi sosial dengan kesetiakawanan sosial remaja, maka perlu kiranya penulis memberikan sumbangsih saran kepada gereja, orang tua, dan secara khusus kepada para remaja.

1. Kepada Sekolah

Kiranya sekolah terus mempertahankan bahkan lebih baik meningkatkan Kualitas PAK yang lebih baik lagi kepada para siswa dalam Pembentukan Kecakapan Peserta Didik.

2. Kepada Guru PAK

Guru PAK harus menyadari bahwa siswa tidak hanya membutuhkan pelajaran yang disampaikannya melalui PAK, tetapi mereka juga membutuhkan contoh teladan yang konkrit dalam kehidupan nyata yang dapat dilihatnya dari setiap sikap dan perilaku guru PAK. Guru PAK sebaiknya selalu memberikan motivasi atau dukungan, kasih sayang, dan mengarahkan siswa untuk memiliki Pembentukan Kecakapan Peserta Didik dalam ranh kogntif, afektif dan psikomotorik.

3. Kepada Siswa

Siswa diharapkan dapat mengaplikasikan setiap teladan yang positif dari guru PAK dan belajar juga mempraktekkan setiap pembelajaran PAK yang disampaikan oleh guru PAK. Seperti firman Tuhan yang mengatakan hendak setiap orang bukan hanya sebagai pendengar tetapi melakukan setiap firman yang Tuhan Yesus sampaikan.

Contoh Bab I Disertasi

BAB I

PENDAHULUAN

Variabel penelitian dalam disertasi ini berkenaan dengan situasi sosial yang kini menjadi pergumulan bangsa Indonesia, dan berbagai pergumulan di sekolah tinggi teologi, khususnya yang berkenaan dengan karakter peserta didik. “Pendidikan karakter bangsa ini urgen diajarkan dan dijadikan teladan. Mengapa pendidikan karakter? Peserta didik tidak hanya harus dicerdaskan secara intelektual dan emosional, namun juga karakternya perlu dibangun agar tercipta pribadi yang unggul dan perbuatan baik

Pendidikan termasuk pendidikan teologi tidak hanya mendidik para peserta didik untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar beraklak mulia. Saat ini, pendidikan di Indonesia dinilai oleh banyak kalangan tidak bermasalah dengan peran pendidikan dalam mencerdaskan para peserta didiknya, namun dinilai kurang berhasil dalam membangun kepribadian peserta didiknya agar beraklak mulia. Oleh karena itu pendidikan karakter dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak. Pendidikan karakter sudah tentu penting untuk semua tingkat pendidikan, yakni dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan semenjak anak berusia dini.

Peserta didik di Sekolah Tinggi Teologi lebih terkenal dalam kecerdasan intelektual ketimbang karakteristik unggul yang menjadi penentu keberhasilan dalam kerja. Dengan kata lain, pembelajaran lebih mengedepankan kecerdasan intelektual yang diukur dengan angka dari pada keunggulan dalam karakter. Ada mahasiswa teologi yang dipukul ketua STT karena kedapatan menyimpan gambar porno di hand phone, mahasiswa tingkat atas memikul adiknya karena berpacaran. Kasus ini tidak dijadikan sebagai generalisasi perilaku peserta didik di seluruh STT tetapi yang hendak ditegaskan di sini bahwa perlunya pendidikan karakter yang terintegrasi dengan mata kuliah yang diasuh oleh setiap dosen sehingga mempengaruhi peserta didik dalam rangka membangun karakteristik unggul.

Bertolak dari paparan di atas maka fokus variabel penelitian disertasi ini di dasarkan pada Matius 4:19 dan Matius 5:1-12. Berdasarkan ayat ini dirumuskan variable penelitian disertasi dengan judul: “Pengaruh Perbuatan Baik Dosen Teologi Berdasarkan Matius 4:19; 5:1-12 Terhadap Karakteristik Unggul Mahasiswa S1 di STT .........., STT .........., STT ........... Jakarta.

Pokok-pokok yang dibahas dalam bab I ini terdiri atas: Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah Penelitian, Rumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian. Masing-masing pokok ini dibahas sebagai berikut.

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

Beragam karakter terjadi di negeri ini, di dunia pasar: penjualan daging yang sudah diawetkan dengan formalin, ikan juga diawetkan dengan bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia, jualan seperti cacanan di sekolah-sekolah sebagian telah memakai sat pewarna yang berbahaya bagi manusia, penjualan pasir, timbangan penjualan buah, penjualan obat, penjualan makanan dan lain sebagainya telah merisaukan banyak kalangan. Bila ada karakter unggul maka tidak mungkin terjadi hal seperti ini. Dan lain sebagainya. Dalam konteks ini maka pendidikan karakter menjadi sesuatu yang urgen di Negara ini, termasuk di STT tempat mencetak calon-calon pendeta dan guru Pendidikan Kristen. Pendidikan karakter harus mendapat perhatian dari setiap dosen yang mengajar mata kuliah apapun di STT. Meningkatnya perhatian terhadap pendidikan karakter belum dibaringi dengan ketersediaan buku-buku yang menyajikan wawasan teoritis sekaligus saran-saran praktis.

Pengajaran ditujukan kepada sekelompok manusia muda untuk kemanusiaan yang unggul. Kemanusiaan yang unggul tidak hanya keunggulan kecerdasan intelektual tetapi juga unggul dalam karakter. Bagian terakhir ini, kini di Indonesia menjadi suatu solusi yang ditawarkan melalui dunia pendidikan yang biasa disebut dengan pendidikan Karakter. Beberapa literature pendidikn karakter berbahasa Indonesia menyebutkan bahwa pendidikan karakter ini menjadi solusi tetapi solusi ini memerlukan proses, tidak instan.

Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai mahluk berpribadi, manusia itu memiliki karakter-karater. Karakter-karakter itu sesuai dengan nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dimiliki manusia mempengaruhi karakteristik seseorang. Nilai itu dapat berupa norma-norma yang secara umum dianut oleh kelompok masyarakat tertentu, misalnya pada masyarakat gereja, nilai yang menggerakkan perilaku anggota gereja dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang bersumber dari Alkitab, dan juga norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat umum di mana gereja berada.

Alkitab memberi pengajaran yang tegas tentang karakteristik manusia. Karakteristik manusia sebagaimana yang disaksikan di dalam Alkitab disesuaikan dengan tiga konteks kehidupan manusia, yaitu konteks manusia sebelum berdosa, dan konteks manusia setelah jatuh dalam dosa, serta yang terakhir adalah konteks manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus. Dalam konteks karakteristik, Richard L. Pratt Jr. mengelompokkan dalam tiga karakteristik, yaitu karakteristik manusia sebelum jatuh dalam dosa; karakteristik manusia berdosa, karakteristik manusia setelah ditebus oleh Kristus.

Pertama, karakteristik manusia sebelum kejatuhan dalam dosa (bnd. Kej. 1:26). Manusia menampilkan karakteristik “segambar dan serupa dengan Allah”. Karakteristik berdasarkan kata segambar dan serupa mengandung makna penampilan karakteristik unggul pada manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Karakteristik ini menurut penulis kitab Kejadian, ada dalam laporan Kejadian pasal 1- 2. Di dalam Kejadian 1-2 diinformasikan bahwa manusia pertama yaitu Adam dan Hawa dicipta oleh Tuhan “segambar dan serupa” (bnd. Kej. 1:26). Manusia pertama itu dinamakan Adam dan Hawa (bnd. Kej. 5:1 untuk nama Adam; Kej. 3:20 untuk nama Hawa). Dalam konteks karakteristik manusia sebelum jatuh dalam dosa, penulis kitab Kejadian memberi informasi bahwa ada karakteristik unggul pada manusia pertama. Karakteristik unggul itu dapat dipahami dalam kata: beranak cucu, memenuhi bumi dan menaklukkannya, berkuasa atas ikan-ikan di laut, dan burung-burung diudara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi (bnd. Kej. 1:28), kemudian perintah: “mengusahakan dan memelihara” (bnd. Kej. 2:15) dalam format karakteristik, dapat dikelompokkan dalam kelompok karakteristik unggul.

Kedua, karakteristik manusia yang berdosa. Menurut penulis kitab Kejadian dalam informasinya sebagaimana yang dapat diikuti dalam kitab Kejadian 3, disana dinyatakan bahwa manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan yaitu mengambil dan memakan buah yang dilarang Tuhan (bnd. Kej. 3:6). Tindakan ini merupakan indikator karakteristik rendah, sebuah karakteristik yang tidak diharapkan oleh Tuhan. Dengan kata lain, pelanggaran terhadap larangan merupakan karakteristik di luar format karakteristik unggul. Anak-anak Adam dan Hawa, yaitu Kain dan Habel pun penampilkan karakteristik yang beragam. Kain misalnya, mewujudkan karakteristik yang rendah yaitu mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan (bnd. Kej. 4:3), memukul dan membunuh adiknya yaitu Habel. Tindakan ini merupakan karakteristik yang tidak unggul atau karakteristik yang menyimpang dari norma.

Selain tindakan Kain, ada pula tindakan anak Nuh yaitu Ham. Ham bertindak tidak terpuji, yaitu melihat aurat ayahnya, bercerita kepada adik-adiknya tanpa bertindak sopan terhadap orangtuanya (Kej. 9:22). Karakteristik menyimpang juga dapat diperhatikan dalam tujuan atau maksud membangun menara babel. Mendirikan menara babel itu tidak salah, yang salah adalah tujuan mendirikan menara babel yaitu supaya tidak terpencar ke seluruh muka bumi, sementara Allah bermaksud untuk memenuhi bimi ini. Tujuan membangun menara babel juga merupakan salah satu karakteristik yang menyimpang dari maksud Allah kepada manusia (bnd. Kej. 11). Penyimpangan perilaku itu berlanjut dari zaman ke zaman.

Karakteristik manusia yang berdosa sebagaimana yang diparkan di atas dapat itu bersifat individual, tetapi juga dalam kitab kejadian diinformasikan penyimpangan karakter itu secara komunal yang dapat diperhatikan dalam Kejadian 6 yaitu seiring pertambahan manusia maka bertambah juga penyimpangan-penyimpangan karakter. Ada penyimpangan seksual (bnd. Kej. 6:2), dan kejahatan lainnya sebagaimana deskripsi kualitatif akan kejahatan dengan istilah kejahatan manusia besar di bumi (bnd. Kej. 6:5).

Menurut Richard L.Pratt Jr. “karakter dari manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia tidak lagi merupakan gambar Allah yang sempurna: manusia tidak lagi hidup dan berpikir sebagaimana halnya dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa”(Pratt Jr. 2000:39). Sejak manusia pertama Adam dan Hawa jatuh, genarasi selanjutnya berjuang dalam dua kategori karakteristik, yaitu karakteristik yang sesui kehendak Tuhan, dan karakteristik yang menyimpang dengan kehendak Tuhan yang oleh Rasul Paulus disebut dengan buah daging, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (bnd. Gal. 5:19-21). Dalam ayat selanjutnya rasul Paulus menyinggung tentang karakteristik unggul yang disebut dengan buah Roh.

Karakteristik yang menyimpang sebagai akibat dari manusia berdosa yang masih dipengaruhi dosa sehingga keinginannya selalu menghasilkan buah-buah daging yang terwujud dalam tindakan-tindakan yang terjadi di negeri ini, seperti: tindakan sistematis dalam hal korupsi yang semakin meresahkan di Negara Republik Indonesia, kebohongan pemimpin-peminpin, janji para pemimpin dalam kampanye pemilihan yang tidak ditepati, kasus Bank Centuri, Nazarudin, Enggelina Sondak dan kasus-kasus lainnya menyebabkan karakter pribadi dan karakter bangsa menjadi menurun di mata bangsa-bangsa lain.

Karakter bangsa Indonesia seperti: mengutamakan nilai spiritual seperti tekun beribadah, jujur dalam ucapan dan tindakan, berpikir positif, dan rela berkorban yang dulu sejak kemerdekaan sampai era pembangunan nasional dijunjung tinggi, kini karakteristik bangsa Indonesia itu mulai terkoyak. Artinya mulai luntur. Oleh karena itu Pemerintah melalui Mendiknas mulai mengatasi ini dengan cara mereviltalisasi pendidikan karakter dalam seluruh jenis dan jenjang pendidikan. Dan melalui pendidikan karakter diharapkan bangsa Indonesia kembali pada karakter merah putih, bangsa yang bermartabat, masyarakat memiliki nilai tambah , mampu bersaing dengan bangsa lain. Karakter pribadi dan bangsa mulai terkoyak dengan indicator penyimpangan-penyimpangan yang kini menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat dalam Negara Republik Indonesia.

Pendidikan karakter sebagaimana yang disebutkan di atas sebenarnya sudah diamantkan dalam UUD 1945 dan filsafat Pancasila yang ditandai dengan system nilai: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan bangsa, permusyawaratan dan keadilan, hanya saja sering terjadi penyimpangan. Penyimpangan tersebut menjadikan bangsa Indonesia terpuruk dengan berbagai penyimpangan social. Dalam kondisi itulah dicanangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter mulai diminati. Pemerintah melalui Mendiknas mulai mengatur dan melaksanakan pendidikan berbasis karakteristik unggul. Perhatian terhadap pendidikan karakter pada tahun-tahun terakhir ini mulai meningkat. Peningkatan ini patut diapresiasi oleh semua komponen bangsa.

Ketiga, karakteristik manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus. Karakteristik ketiga ini merupakan karakteristik unggul yang merupakan daya tarik yang mempesona manusia. Dukungan untuk karakteristik yang ketiga misalnya diambil dari contoh karakteristik Nuh. Di dalam Kejadian 6:9; pasal 7-9:1-20, penulis kitab Kejadian menampilkan Nuh sebagai perwakilan manusia yang menampilkan karakteristik unggul. Karakteristik anak-anak Nuh juga terpecah dalam dua kubu, ada anak-anakNuh yang menerapkan karakteristik unggul yaitu bertindak sopan terhadap orangtuanya yang telanjang karena kelebihan menikmati Anggur, (Kej. 9:23). Sem dan Yafet dengan karakter sopan santun terhadap orangtuanya, sedangkan Ham menunjukkan karakteristik rendah atau tidak terpuji. Hambertindak buruk terhadap orangtuanya yang sedang mabuk.

Karakteristik manusia setelah ditebus oleh rasul Paulus disebut dengan buah Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (bnd. Gal. 5:22-23). Buah roh dalam paparan Paulus, merupakan karakteristik unggul. Selanjutnya rasul Paulus menyatakan karakteristik unggul itu harus ada di dalam orang yang percaya kepada Yesus Kristus karena orang yang percaya Yesus Kristus menjadi milik Kristus Yesus harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Keinginan yang dimaksud adalah keinginan yang menyimpang dari kehendak Tuhan (bnd. Gal. 5:24).

Jadi, sejak manusia pertama berdosa dan generasi manusia selanjutnya juga dipengaruhi dosa. Karakteristik unggul sebagai makluk yang segambar dan serupa memerlukan pemulihan dalam Yesus Kristus. Untuk mewujudkan itu maka perlu ada pribadi-pribadi yang dididik sehingga mampu menampilkan karakteristik unggul. Dalam konteks berpikir ini maka narasi Matius yang mengisahkan proses pendidikan yang berporos pada Yesus sebagai guru, dan Simon Petrus dan kawan-kawannya sebagai murid-murid pertama sebagaimana dalam kisah Matius 4:19 dan 5:1-12.

Yesus tidak menulis apa yang dilakukan-Nya (Fee dan Stuart, t.th.:113-114) segala yang dilakukan Yesus ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Pada bahasan ini,lebih difokuskan pada tulisan Matius tentang kegiatan didaktis Yesus. Kegiatan didaktik itu Yesus dalam versi Matius, Yesus memulai dengan memanggil murid-murid-Nya yang pertama, kemudian Yesus memberitahu apa yang menjadi tujuan panggilan itu atau dalam konteks didaktik disebut tujuan pengajaran. Tujuan itu dapat diamati dalam Matius 4:19. Dalam ayat ini, penulis Injil Matius memaparkan bahwa sang guru yaitu Yesus Kristus memberitahukan kepada murid-murid yang pertama akan tujuan. Rumusan tujuannya sebagai berikut: “menjadi penjala manusia” (bnd. Mat. 4:19). Sebelum dunia pendidikan modern menemukan dan menerapkan betapa pentingnya penentuan tujuan dalam pengajaran, Yesus telah memberikan teladan terbaik di sekitar perumusan tujuan dan penyampaian tujuan itu kepada murid. Di sini sangat jelas sebuah teladan yang agung yaitu pengajaran, khususnya dalam pendidikan karakter harus memiliki tujuan. Tujuan itu mempengaruhi seluruh kegiatan, baik yang dilakukan oleh guru maupun murid. W.James Popham dan Eva L. Baker menyatakan: Bila seorang guru/dosen/pendidik Kristen hendak melakukan kegiatan mengajar maka yang pertama-tama dilakukan adalah merumuskan tujuan yaitu perubahan apakah yang guru/dosen/pendidik Kristen inginkan dalam diri peserta didik yang dididiknya. Dengan kata lain, kedua penulis ini menyatakan: ketika hendak memasuki kelas, pertanyaan yang harus ada di dalam diri guru adalah “perubahan apakah yang saya inginkan dalam diri siswa-siswa saya?”(Popham dan Baker, 2005:6). Sebelum kebenaran yang dirumuskan dalam pertanyaan di atas ditemukan, Yesus sudah melakukannya kepada murid-murid-Nya. Yesus menghendaki perubahan secara utuh, perubahan intelektual tetapi juga perubahan karakter sebagaimana muncul dalam materi pengajaran Yesus yang disampaikan oleh Matius dalam Injilnya. Isi Injil Matius 5:1-12 oleh beberapa penafsir dihubungkan dengan etika atau karakter pengikut Yesus.

Isi Matius 4:19, selain dapat dilihat dalam paradigma tujuan pengajaran tetapi juga dipandang dari proses atau kegiatan-kegitan terstruktur yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan terstruktur atau misi itu dapat dipahami dalam ungkapan kata “kamu akan kujadikan penjala manusia”, bila tujuan ini dirumuskan dalam format rumusan misi maka rumusannya sebagai berikut: membentuk atau menjadikan murid menjadi penjala manusia. Dengan demikian, jelas bahwa dalam Matius 4:19 terdapat rumusan tujuan dan rumusan misi pengajaran atau kegiatan terencana untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep pemahaman ini ada dalam Matius 4:19. Jadi, dalam rangka pendidikan karakteristik unggul, Yesus merumuskan tujuan, menyampaikan tujuan tersebut kepada murid, menentuan kegiatan-kegiatan terstruktur (metode, media, strategi, tempat, dll).

Berdasarkan tujuan pengajaran yang telah disampaikan kepada murid sebagaimana dalam Matius 4:19, selanjutnya Yesus memilih dan menggunakan materi yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disampaikan kepada murid-murid-Nya. Materi pengajaran Yesus yang dimaksud di sini, dapat dilihat dalam Matius 5: 1-12. Dalam ayat-ayat ini, materi pendidikan karakter yang disampaikan Yesus sangat berbeda dengan materi pada zaman itu. Menurut para ahli tafsir, materi dalam Matius 5:1-12 itu terdiri dari 8 materi pendidikan karakter, isinya sangat berbeda dengan isi pengajaran guru-guru pada umumnya. Misalnya, materi pengajaran tentang kebahagian. Secara umum yang berbahagia adalah orang yang kaya, memiliki fasilitas yang memadai, memiliki banyak materi dunia. Akan tetapi materi pengajaran Yesus tentang kebahgiaan berbeda dengan yang biasanya, yaitu orang yang berbahagia adalah orang yang miskin di hadapn Allah. Arti miskin di hadapan Allah akan dijelaskan dalam bab II. Materi pengajaran Yesus dalam fersi Matius sedikit berbeda dengan fersi Lukas. Akan tetapi penelitian ini terikat pada fersi Matius.

Beberapa buku tafsiran mengelompokkan materi pengajaran Yesus berdasarkan Matius 5:1-12 dalam delapan (8) ucapan bahagia. Dalam pembahasan ini, istilah yang dipakai adalah delapan (8) materi pengajaran Yesus yang berorientasi pada pendidikan karakter. Kedelepan materi itu berhubungan dengan kebahagiaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Kualitas pemilihan materi sangat berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan, komponen tujuan dan materi serta komponen lainnya dalam pengajaran Yesus akan membentuk karakteristik unggul dari para murid dan pendengar pertama yang hadir dalam khotbah (ceramah) Yesus di bukit.

Selain materi pengajaran karakteristik unggul, ada pula penggunaan metode oleh Yesus. Metode yang dipakai Yesus Kristus dalam memberi pengajaran karakter adalah metode ceramah. Hal ini dapat di amati dalam Matius 5: 3-12. Ternyata metode ceramah yang dipakai oleh Yesus membantu pendengar pada waktu itu. Penulis Injil Matius menyatakan bahwa orang banyak hendak mendengar pengajaran Yesus (bnd. Mat. 5:1). Berdasarkan informasi Matius, dapat dipastikan bahwa ternyata metode ceramah yang dipergunakan Yesus disukai orang banyak (masih relevan) dengan konteks zaman itu. Orang banyak itu memutuskan untuk mendengar Yesus mengajar. Yesus walau memakai metode ceramah tetapi dapat didengar oleh orang banyak. Di sini membuktikan bahwa ada keunggulan dari metode ceramah.

Aspek lain yang Yesus pakai dalam pengajaran kepada murid-murid adalah pemberian pujian yang tepat. Yesuspun memakai reword kepada murid-murid-Nya. Yesus dengan tulus dan tidak berlebihan dalam memberi pujian kepada para pendengar pada waktu itu. Kepada para murid, Yesus menyapa mereka dengan pujian: kamu adalah garam dan terang dunia(kamu ini berguna bagi sesamamu). Betapa hebat Yesus menggunakan pujian kepada murid-murid-nya sehingga murid-murid merasa bahagia.

Berdasarkan informasi di atas, mencari materi yang relevan dengan tujuan adalah sesuatu hal yang saling membahagiakan murid dan guru. Yesus menunjukkan perbuatan baik dalam pengajaran yaitu: merumuskan tujuan, memikirkan kegiatan tersruktur yang cocok dengan tujuan, memilih materi, menggunakan metode, mencari tempat untuk proses pendidikan karakter, mencari murid, memberi pujian yang tepat kepada murid merupakan kategori perbuatan baik dari sang guru yang pada akhirnya membentuk karakteristik unggul pada diri murid-murid, para murid menjadi penjala manusia sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Yesus. Tujuan ini dibuktikan pada waktu Petrus berkhotbah dan 3.000 orang bertobat.

Dalam pengajaran yang berbasis karakter (perbuatan baik) sebagaimana yang disebutkan dalam Matius 4:19 dan Matius 5:1-12 terdapat teladan pendidikan karakter yang patut diteladani sehingga peserta didik yang diajar memiliki karakter unggul. Dalam pendidikan karakter unggul, Yesus menetapkan tujuan, memilih materi yang relevan, menggunakan strategi dan metode pengajaran berbasis karakter sehingga akhirnya mempengaruhi para murid dalam menampilkan karakter unggul dan berhasil dalam pelayanan. Pendidikan karakter ini memiliki pengaruh, oleh karena itu di Sekolah Tinggi Teologi para dosen harus memiliki perbuatan baik yang akan mempengaruhi karakteristik unggul mahasiswa S1. Keberhasilan pendidikan karakter juga tidak terletak pada retorika tapi pada keteladanan. Yesus tidak hanya sekedar retorika tetapi Yesus memberi teladan dalam pendidikan karakter unggul. Pendidikan karakter tidak berhasil jika hanya retorika. Suksesnya pendidikan karakter justru butuhketeladanan. "Tidak cukup membicarakan karakter bangsa, tetapi hanya sebatas retorika. Tidak sedikitpun tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terutama dari pemimpin bangsa. Padahal, pendidikan karakter itu efektif dengan keteladanan,"

Para dosen melakukan kegiatan mengajar tetapi lebih banyak pada kegiatan mengajar murni dan bukan mendidik. Para dosen cenderung memfokuskan pada kecerdasan intelektual. Sementara hasil penelitian membuktikan bahwa 20 % keberhasilan dalam kerja termasuk pelayanan dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual yang ditandai dengan nilai dalam bentuk angka baik kualitatif maupun kuantitatif (A = 90 -100, B = 80 -90, C = 70 -79).

Keberhasilan pendidikan yang diukur dari rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator masih dilaksanakan dalam format kecerdasan intelektual. Akibatnya mahasiswa nilainya bagus tapi bermasalah dalam karakter. Kecerdasan lain yang prosentasinya lebih besar yaitu 80 % pada kecerdasan emosional, khususnya pendidikan karakter yang sangat menentukan keberhasila kerja atau pelayanan mahasiswa di kemudian hari tidak terbangun secara baik dalam setiap perkuliahan. Semestinya mata kuliah apapun harus digandeng dengan pendidikan karakter.

Fokus pencapaian sebagaimana yang dikatakan di atas menyebabkan pendidikan di Indonesia dinilai mengutamakan ranking dari pada karakter. Oleh karena itu jangan heran bila ada ungkapan seperti ini: Sebagai orang tua, kita harus jeli dalam melihatkeunikan anak kita, jangan pernah tertipu dengan sistem ranking yang ada disekolah, karena itu hanya menilai aspek kognisi anak saja. Nilai raport, ranking, jangan disama artikan dengan nilai diri anak. Masih banyak nilai-nilai yang tidak tercantum dalam raport, nilai sosial, emosi, dan akhlak anak. Tetapi tentunya orang tua jangan sampai menumbuhkan persepsi bahwa prestasi di sekolah itu tidak penting. Yang perlu digaris bawahi adalah, mungkin dari segi pelajaran di sekolah, anak memang tidak mempunyai kemampuan yang lebih, akan tetapi bisa saja anak memiliki kemampuan yang membanggakan dibidang yang lain, olahraga, seni, tarik suara, dsb.

Apa yang dikemukakan di atas dapat dihubungkan dengan hasil penelitian David Coleman, yaitu 20 % keberhasilan anak dalam pekerjaan ditentukan oleh kecerdasan intelektual, sedangkan 80 % ditentukan oleh kecerdasan emosional. Dalam hal inilah maka dapat dikatakan bahwa Pendidikan karakter sangat penting dilaksanakan di setiap sekolah karena mempunyai kontribusi terhadap keberhasilan peserta didik. ( Popham dan Baker,2005:41-50)

Selain itu, terdapat kecenderungan perumusan tujuan pengajaran tidak dipikirkan, direnungkan secara mendalam. Rumusan-rumusan tujuan pada setiap mata kuliah hanya sebatas perubahan kecerdasan intelektual, sedikit sekali pada karakteristik unggul.

Komunitas STT juga tidak hidup sesuai dengan perbuatan baik berdasarkan format Matius 4:19 dan Matius 5:1-12. Selalu memulai kegiatan pengajaran dengan tujuan, memikirkan kegiatan terstruktur yang relevan, merekonstruksi materi yang relevan dengan tujuan pendidikan karakter, pemilihan strategi dan metode sering menjadi masalah dalam proses pendidikan karakter.

Pendidikan karakter sebagaimana yang disebutkan dalam Matius 5:1-12 tepat dilakukan oleh warga Sekolah Teologi di Indonesia karena berbagai penyimpangan yang terjadi di Indonesia menyebabkan pemerintah melaui kementerian pendidikan merancang pendidikan karakter. Disini pendidikan karakter sedemikian urgen karena berbagai persoaln yang dihadapi di Indonesia.

Berdasarkan program pendidikan karakter yang sedang digalakkan di Indonesia sebagai suatu solusi untuk pemecahan masalah membawa bangsa kepada karakteristik unggul maka pendidikan karakter yang dilakukan Yesus yang disaksikan oleh Matius 4:19 dan Matius 5:1-16 perlu dilaksanakan oleh warga sekolah tinggi teologi, khususnya oleh para dosen dan mahasiswa.

Berbagai fakta dalam STT menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual memang baik tetapi sering menjadi masalah adalah pada kecerdasan emosional.

B. dentifikasi Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas peneliti mengindikasikan bahwa sebagian dosen STT di STT ........., STT … sebagai berikut:

Pertama, sebagian dosen masih menerapkan mengajar murni, bukan mendidik. Para dosen ini lebih banyak menitik beratkan kecerdasan intelektual dalam pelaksanaan proses pembelajaran atas mata kuliah yang diasuhnya. Akibatnya kurang pengaruh terhadap mahasiswa dalam hal pembangunan karakter unggul. Sementara Negara menggalakkan pendidikan karakter, terlebih lagi Yesus sendiri telah melaksanakan pendidikan karakter

Kedua, diindikasikan bahwa sebagian dosen tidak serius memikirkan secara sungguh-sungguh akan tujuan pengajaran, sedangkan Yesus sendiri telah menentukan dan menyampaikan tujuan itu kepada murid-murid yang pertama dipanggil menjadi murid-Nya. Perumusan tujuan mata kuliah dan tujuan pokok-pokok bahasan hanya sekedar mengikuti ketentuan yang berlaku. Yang dipentingkan adalah bagaimana menyelesaikan materi pelajaran, tujuan pengajaran yang berbasis karakter tidak terlalu Nampak dalam rumusan tujuan, indicator dan penekakanan pada proses pembelajaran.

Ketiga, diindikasikan bahwa kegiatan terstruktur yang dipakai dosen pun hanya sekedar berjalan untuk memenuhi persyaratan. Kegiatan yang terarah pada pembentukan karakteristik unggul tidak begitu ditekankan dalam pembelajaran. Pada hal Yesus memilih kegiatan-kegiatan terstruktur untuk mencapai tujuan pengajaran.

Ketiga, ada indikasi bahwa ada dosen yang memilih mataeri tidak sesuai dengan tujuan, khsusnya pendidikan karakter. Materi yang disajikan lebih banyak berhubungan dengan kecerdasan intelektual. Pada hal ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan intelektual sedikit sekali menentukan keberhasilan dalam kerja.Pemilihan materi tidak disesuaikan dengan pendidikan karakter.

Keempat, ada indikasi bahwa perumusan tujuan, memilih materi pendidikan karakter, memilih prosedur pengajaran tidak dipandang sebagai perbuatan baik yang bersumber dari pengajaran dan teladan Yesus. Sementara Yesus memberi teladan perbuatan baik dalam pengajaran berupa merumuskan tujuan, menyampaikan ke murid dan mencari materi pengajaran yang relevan, serta penggunaan strategi dan metode. Aspek-aspek komponen pengajaran ini tidak dipandang sebagai perbuatan baik yang akan mempengaruhi karakteristik mahasiswa S1 Teologi.

Kelima, ada indikasi bahwa kurangnya kesadaran akan betapa pengaruh perbuatan baik yang disampaikan dalam Matius 4:19 dan Matius 5:1-12 yang akan mempengaruhi pembentukan karakteristik unggul mahasiswa. Sedangkan isi Matius 5:1-12 merupakan ajaran Yesus tentang sejumlah karakteristik yang harus dimiliki para murid-Nya. Bila karakrteristik ini dimiliki maka akan mempengaruhi orang lain sehingga orang lain dapat memuliakan Tuhan.

Keenam, ada dugaan bahwa pendidikan karakter harus menjadi mata kuliah tersendiri sehingga dosen yang mengajar mata kuliah lain tidak perlu memikirkan dan melaksanakan pendidikan karakter. Karakter unggul mahasiswa bukan urusan dosen di ruang kuliah. Di ruang kuliah hanya terjadi mengajar.

Ketujuh, diduga sebagian dosen masih memilih paradigma bahwa penentu keberhasilan adalah kecerdasan intelektual, sehingga kecerdasan emosional yang didalamnya ada pendidikan karakter tidak diutamakan. Mahasiswa yang bermaslah dalam proses pendidikan hanya menjadi perhatian kemahasiswaa.

Kedelapan, diduga belum ada pemahaman yang baik akan fakta bahwa keteladanan lebih efektif mempengaruhi pendidikan karakter ketimbang sejumlah retorika tentang pendidikan karakter. Pendidikan karakter dianggap berhasil jika telah ditulis, telah diseminarkan, dan lain-lain.

C. Batasan Masalah

(dibuat pernyataan atau pertanyaan sesuai dengan variabel yang akan diteliti, Jika dua variabel penelitian maka batasannya berkenaan dengan dua variabel tersebut)

D. Rumusan Masalah

Dapat dibuat dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Bila dua variabel maka rumusan malasahnya 1

E. Tujuan Penelitian

Menjelaskan apa yang hendak dicapai dalam penelitian yang disesuaikan dengan jenis studi. Artinya bila penelitiannya adalah korelasi maka tujuan penelitian adalah mencari hubungan atau pengaruh antara variabel bebas dan terikat.

F. Pentingnya Penelitian

Menggambarkan tentang manfaat yang dihasilkan dari penelitian tersebut. Manfaat itu berupa manfaat teoritis dan praktis.

BAB II Kajian Teori Keluarga Kristen Dalam Masyarakat Multi Kultural

BAB II
KAJIAN TEORITIS KELUARGA KRISTEN DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL


Keluarga Kristen yang berada dalam masyarakat yang multikultural berada dalam interaksi yang kompleks, khususnya dalam hal kepercayaan kepada TUHAN. Orang Kristen dianggap sebagai orang yang percaya tiga Allah. Doktrin Tritunggal dianggap tidak masuk akal. Ada pula yang menyatakan orang Kristen percaya manusia menjadi Allah. Analogi yang dibuat adalah bahwa semua orang tahu meja pasti dibuat oleh tukang tetapi sampai kapanpun meja tidak akan menjadi tukang. Hal tentunya menjadi tantangan tersendiri bagaimana melaksanakan Pendidikan Kristen dalam keluarga Kristen. Memang kita semua tahu bahwa meja dibuat tukang dan sampai kapanpun meja tidak akan menjadi tukang. Namun anologi ini tidak tepat menggambarkan TUHAN menjadi manusia. Dalam teologi Kristen, bukan manusia yang menjadi Allah tetapi Allah yang menjadi manusia melalui kandungan Maria, anak yang dilahirkan itu dinamai Yesus (Mat. 1:21). Kemudian dalam Yohanes 1: 14 disebutkan: firman itu menjadi manusia ...

Dalam Ulangan 6:4-9 disebutkan bahwa para orangtua dalam keluarga Israel harus mendidik anak dalam keesaan TUHAN yang memperkenalkan diri kepada Musa. Mereka diperintah untuk mengajarkan bahwa Allah itu esa! Pengajaran tentang keesaan TUHAN Allah itu esa sedemikian penting karena bangsa Israel menghadapi bangsa-bangsa lain yang menyembah ilah-ilah lain. Boleh jadi bila pengajaran ini tidak disampaikan secara berulang-ulang maka anak-anak dalam keluarga akan dipengaruhi oleh keyakinan lain. Itulah sebabnya pengajaran tentang keesaan TUHAN Allah Musa sedemikian penting dalam keluarga bangsa Israel.

Dalam konteks pendidikan Kristen, keesaan TUHAN Allah tentu dikenal dalam doktrin Allah Tritunggal. Bapa, Anak dan Roh Kudus sehakekat atau sama-sama kekal. Jadi, satu dalam keber-ada-an tetapi tiga dalam kepribadian. Bapa memiliki pribadi, anak juga memiliki kepribadian dan Roh juga memiliki kepribadian. Intinya Allah Tritunggal dapat dipahami dalam pengertian Tri dalam kepribadian dan tunggal dalam keberadaan atau kekekalan (Bapa, anak dan Roh Kudus sama-sama kekal).


Suatu saat saya ketemu dengan seorang pemimpin spiritual dan berdialog dalam pendekatan filsafat. Saya katakan begini. Kami orang Kristen tidak percaya tiga Allah tetapi satu TUHAN Allah. Kami percaya TUHAN Allah yang menyatakan diri kepada Musa dengan nama YHWH, Tuhan Musa berkarya secara spesifik untuk bangsa pilihan-Nya yaitu Israel. Akan tetapi dalam rangka keselamatan bagi semua orang di luar bangsa pilihan maka TUHAN Allah Musa menyatakan diri atau menjadi manusia dan diberi nama Yesus. Jadi kami tidak percaya tiga Allah tetapi satu TUHAN Allah. Kemudian sang pemimpin spiritual itu menyatakan kalau begitu kita sama-sama percaya Allah yang esa.

Ya saya menghargai kesimpulan dia atas percakapan kami itu, tetapi poin yang saya hendak tekankan disini yakni pentingnya Pendidikan Kristen dalam keluarga tentang keesaan TUHAN Allah. Ajaran tentang Tritunggal patut dipikirkan secara mendalam, diyakini dan diajarkan kepada anak-anak dalam keluarga Kristen. Kita mengajarkan Allah Tritunggal karena pada hakekatnya Alkitab menyaksikan tentang adanya oknum Bapa, Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus. Kita tidak boleh pudar dalam mengajarkan Allah Tritunggal kepada anak-anak dalam keluarga Kristen, sebab ajaran ini adalah kesaksian Alkitab. Mungkin orang lain tidak senang dengan jaran

Tritunggal, itu tidak menjadi soal, soal yang paling penting yakni kita mengajarkan keesaan Allah sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab. Pengajaran tentang Allah Tritunggal dalam keluarga Kristen di tengah-tengah masyarakat majemuk hendaknya berlangsung dalam kontrol iman dan perlindungan kasih.

Salam

Contoh Bab I Penelitian Kualitatif

Refisi Tahun 2019

JUDUL

PENGARUH TINGKAT PEMAHAMAN PENGANTIN PEREMPUAN TERHADAP MAKNA TUDUNG KEPALA DALAM PERNIKAHAN SECARA INTERNASIONAL BAGI KEHARMONISAN KELUARGA


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pernikahan adalah bersatunya dua manusia dalam satu ikatan. Kata nikah berasal dari kata nikah yang berartti ikatan perkawinan yang dilakukan dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Kemudian perkawinan diambil dari kata kawin. Kawin artinya (untuk manusia) membentuk keluarga dengan lawan jenis. Maklu yang lain juga kawin tetapi tidak membentuk keluarga. Ada teman saya bilang begini. Kalau mau ayam Bangkok nanti saya kasih ayam bangkok sekeluarga. Maksud temanku yakni ayam jantan, betina dan anak-anak ayam. Kawin juga diartikan sebagai bersuami atau beristeri.

Dari sisi sosial, pernikahan diberi arti: suatu ikatan sosial yang dibuat oleh dua orang yang saling mencintai dan membentuk cinta itu dalam ikatan yang lebih khusus berdasarkan ajaran agama dan hukum negara.

Pernikahan sebagaimana yang dimaksudkan di atas bukanlah semata-mata keinginan kedua pasangan, dan bukan juga keinginan keluarga besar dari kedua pasangan, serta bukan juga keinginan masyarakat tetapi pernikahan adalah salah satu bagian dari kehendak TUHAN. Kata firman-Nya (perkataan TUHAN) kepada Musa yang disampaikan kepada umat pilihan-Nya yang dimulai di Taman Eden, “tidak baik kalau manusia (Adam) itu seorang diri, Aku (TUHAN) akan menjadikan seorang penolong (perempuan) yang sepadan dengan dia (Adam), lihat Kejadian 2:18.

Berdasarkan firman-Nya, maka pernikahan adalah salah satu rencana TUHAN. Perintah ini, yaitu pernikahan dilakukan oleh manusia dalam budaya. Hal ini berarti bahwa sejak manusia pertama dan generasi selanjutnya di berbagai belahan bumi melaksanakan perintah TUHAN yaitu pernikahan dalam kebudayaan dari setiap insan yang memutuskan untuk membentuk suatu keluarga.

Dalam perkembangan, khususnya dalam praktik pernikahan yang boleh kita sebut sebagai pernikahan internasional atau pernihan yang sifat acaranya mengikuti praktik yang sudah umum di lakukan di berbagai belahan dunia (pernikahan seperti ini kita sebut pernikahan internasional), pernikahan internasional ini kemudian mempengaruhi suatu bangsa yang kemudian kita kenal ada pernikahan nasional. Artinya acara pernikahan seperti pakaian nikah yang dipakai pengantin mengikuti praktik yang sudah terjadi secara umum, seperti gaun pengantin perempuan selalu ada “tudung kepala” yang biasanya berwarna putih, warna ini berbeda dengan tudung kepala mempelai perempuan pada zaman Romawi yang berwarna merah (Flammeum dari kata flamming artinya membara). Maksud dari simbol tudung kepala yang berwarna merah yaitu suatu simbol yang menegaskan bahwa pengantin perempuan dibakar oleh api untuk menakuti roh-roh jahat yang hendak menggangunya di hari pernikahan.

Dalam perkembangannya, arti magis berubah menjadi arti penyerahan. Dengan kata lain makna simbolis dari tudung kepala pengantin perempuan mengalami trasformasi makna, yaitu dari kekuasaan ayah dan ibu sang mempelai perempuan kepada kekuasaan laki-laki dewasa yang menjadi pilihannya untuk menjadi suami sampai maut meisahkan mereka.

Jadi ketika mempelai laki-laki membuka tudung kepala mempelai perempuan maka tindakan simbolis ini menegaskan bahwa sang mempelai menyerahkan dirinya pada kekuasaan suaminya yang disaksikan oleh keluarga, jemaat dan pemimpin rohani seperti pendeta. Diadaptasi dari berbagai sumber Internet.

Berdasarkan paparan di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti PENGARUH TINGKAT PEMAHAMAN PENGANTIN PEREMPUAN TERHADAP MAKNA TUDUNG KEPALA DALAM PERNIKAHAN SECARA INTERNASIONAL BAGI KEHARMONISAN KELUARGA

B. Fokus Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, ada penggunaan istilah ‘batasan masalah’ maka dalam penelitian kualitatif memakai istilah fokus penelitian. Berdasarkan ide jelaslah bahwa fokus masalah dalam penelitian kualitatif yaitu berusaha membatasi ruang lingkup penelitian sehingga penelitian tidak melebar atau meluas menjadi bagian pembahasan yang terlampau luas untuk diselesaikan dalam waktu penelitian, misalnya enam bulan atau satu atau beberapa tahun.

Dalam contoh ini fokus penelitian yaitu penelitian dibatasi pada TINGKAT PEMAHAMAN PENGANTIN PEREMPUAN TERHADAP MAKNA TUDUNG KEPALA DALAM PERNIKAHAN SECARA INTERNASIONAL BAGI KEHARMONISAN KELUARGA C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini diambil dari latar belakang masalah yang mengerucut dalam fokus penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan merupakan pertanyaan penelitian. Jika ada pertanyaan penelitian maka harus ada jawaban penelitian. Jadi rumusan masalah disini yakni rumusan masalah dalam pengertian pertanyaan penelitian (pertanyaan pengarah penelitian yang menjadi pegangan atau arah peneliti dalam mengadakan penelitian di lapangan/situasi penelitian) untuk mendapat jawaban yang didapatkan dari hasil meneliti di lapangan (hasil demikian disebut kebenaran empiris) dan bukan hanya membaca buku (ini sifatnya peneliti hanya menemukan kebenaran teoritik, atau menurut pendapat ahli dan ditambah dengan pemahaman peneliti). Sedangkan kebenaran empiris adalah kebenaran atau pengathuan yang benar yang dirumuskan berdasarkan penelitian di tempat penelitian. Jadi kalau penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan akan mendapatkan kebenaran teori dan kebenaran empiris. Jangan hanya di penelitian pustaka tetapi keluar dari kebenaran teoritik dengan membawa kebenaran teoritik itu ke dunia nyata (tempat penelitian).

Misalnya penelitian kualitatif tentang “kucing hitam yang terkuat”, kita berusaha mengkaji teori berdasarkan buku kemudian kita mendapat pengetahuan yang benar (kebenaran) tentang kucing hitam yang terkuat. Namun pengetahuan ini belum tentu sama dengan kucing hitam terkuat yang ada di tempat penelitian. Bisa saja waktu kita mengadakan penelitian tentang kucing hitam terkuat di kampung A berbeda dengan teori yang kita baca dari buku. Itulah sebabnya jangan berteori saja tetapi masuk dalam situasi empirisnya sehingga tahu tentang kucing hitam terkuat dan berdasarkan data lapangan tentang kucing hitam terkuat, kita menyusunnya menjadi teori baru tentang kucing hitam terkuat. Inilah penelitian yang memadukan penelitian teoritik (Kajian buku dengan kajian lapangan atau penelitian lapangan).

Ya kini kita kembali kepada rumusan masalah penelitian. Dalam kasus ini saya merumuskan masalah penelitian dari masalah dan rumusan masalah di atas sebagai berikut. Bagaimana Tingkat pemahaman pengantin perempuan terhadap makna tudung kepala dalam pernikahan secara internasional bagi keharmonisan keluarga?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian kualitatif yakni berusaha menemukan teori. Menemukan berarti sesuatu (teori) yang sebelumnya belum pernah ada atau belum diketahui. Melalui penelitian kualitatif, peneliti menemukan atau mengetahui sesuatu yang baru. Rumusan tujuan penelitian dalam penelitian kualitatif bersifat sementara dan akan berubah setelah dari lapangan atau tempat penelitian. Dalam contoh ini rumusan tujuan penelitian kualitatif untuk contoh ini dirumuskan sbb: Untuk menemukan pengetahuan yang baru tentang pemahaman para pengantin perempuan terhadap makna tudung kepala dalam pernikahan secara internasional bagi keharmonisan keluarga?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dalam penelitian kualitatif dapat berupa manfaat praktis dan teoritis. Adapun manfaat penelitian ini yakni: 1. Secara Praktis menolong perempuan-perempuan yang akan menjadi calon pengantin baru dan membentuk keluarga dengan terlebih dahulu memahami pengetahuan yang benar tentang makna tudung kepala dalam pernikahan secara internasional bagi keharmonisan keluarga? 2. Secara teoritis. Secara teoritis kegunaan penelitian ni yakni memberi kontribusi dalam pengetahuan yang benar tentang kerundung mempelai perempuan, dan menjadi masukan untuk menambah pengetahuan di lembaga pendidikan teologi serta masukan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti pokok yang sama dalam dimensi yang berbeda.

Salam

Contoh BAB I Pendahuluan penelitian Kualitatif

JUDUL PENELITIAN

PENGHASILAN ONLINE

BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah

Lima tahun yang lalu, tepatnya 2010 penulis berjuang untuk mendapatkan penghasilan demi untuk mereka yang Tuhan anugerahkan kepada saya. Kebetulan waktu itu penulis baru keluar dari sebuah tempat kerja (mengajar) yang berlangsung selama 15 Tahun. Penulis memutuskan untuk keluar karena menghargai kebijakan pimpinan. Penulis ke rumah pimpinan dan menyatakan, setelah berdoa selama 3 bulan maka penulis memutuskan untuk mundur. Rasanya berat tetapi perlu mengambil keputusan sebagai bagian dari menghormati kebijakan pimpinan, yaitu hanya mengizinkan salah satu saja dari suami atau istri bekerja di lembaga tersebut.

Sejak keputusan keluar dari lembaga tersebut saya mengalami masa transisi, berjuang sini dan sana, untuk pelayanan melalui mengajar dan memenuhi doa Bapa kami “rejeki yang secukupnya” untuk berlangsungnya keluarga yang harmonis. Saya bersama istri dan beberapa teman mengalami masa transisi yang luar biasa sebelum mendapatkan kerja yang layak dalam pemenuhan rejeki yang secukupnya.

Saya siang malam berpikir dan berpikir, saya kemudian memutuskan untuk berjuang secara online. Ketika saya bicara sesuatu yang online, teman-teman ada yang pesimis melihat usaha ini. Saya kadang duduk jam 17.00 – 12.00 di atas lantai rumah (tingkat atas) karena suka banjir maka kami buat ala kadarnya untuk lantai dua sehingga paling tidak dapat berlindung kalau banjir. Lantai itu tidak beratap, berbekal laptop dan modem dan lampu seadanya, saya duduk didepan Laptop sambil mencari informasi. Banyak tawaran online pada waktu itu, ada juga tawaran kaya mendadak. Setelah saya masuk dalam bisnis online dengan menjadi reseller kemudian saya mulai mengalami begitu sulitnya berjuang secara online, ternyata tidak gampang. Saya tetap berjuang. Akhirnya dapat hasil melalui proses waktu selama 3 tahun, yaitu tahun 2013 saya mulai mendapat pesanan dan itu cukup menolong saya sekeluarga, khususnya kebutuhan anak dalam kuliah di Universitas Kristen Indonesia jurusan Sastra, dan anak kedua yang sebentar lagi selesai Multi Media di Salah satu SMK di bilangan Jakarta Timur.

Hal yang saya ingin sering adalah setia dalam perjuangan untuk mewujudkan mimpi. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada kita untuk berjuang. Pekerjaan ini bukan bidang saya, jurusan saya sangat jauh dengan bidang kerja online. Tetapi jika ada kemauan maka pasti ada hasil. Blog yang saya kerjakan mulai tahun 2010 sampai 2015, kini mulai memberi perwujudan mimpi itu. Blog yang gersang karena tidak ada iklan kini mulai ada iklan yang memberi secercah harapan. Website dengan program affiliate pertama yang menyetujui permohonan saya kemudian tampilan ikalan yang memberi semangat kepada saya yakni Lazada, kemudian saya terus mencari kemudian bertemu Accesstrade.co.id, KilikSaya.Com, Adsensecamp, iklanblogger dll.

Kini di tempat yang tidak ber-atap dan tidak berkeramik, dan tidak terkoneksi dengan WiFi, kini sudah berbentuk ruangan, ada meja kerja dan koneksi internet tanpa modem. Puji Tuhan. Dari tempat inilah (Kampung Pulo) saya berkarya secara online ke berbagai belahan dunia. Desa bukan sebab untuk kita tidak dikenal. Melalui internet sehat kita bisa dikenal luas tetapi paling utama adalah nama sang PENCIPTA.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif bersifat sementara. Fokus ini akan menjadi jelas dan sangat jelas setelah peneliti berada dalam latar penelitian. Dalam latar penelitian itu, peneliti akan menemukan secara natural dan empiris akan pokok yang diteliti. Penelitian kualitatif berusaha untuk menemukan teori dan bukan menguji teori. Dengan demikian rumusan fokus penelitian dalam penelitian ini yakni hanya dibatasi pada Penghasilan Online

C. Rumusan Masalah

Pertanyaan masalah dalam pokok ini yaitu pertanyaan penelitian yang jawabannya dicari dalam penelitian secara teoritik maupun empiris (penelitian lapangan). Bagaimana Penghasilan Online.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif maka tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukan pemahaman luas dan mendalam terhadap situasi sosial dari Penghasilan Online yang dilakukan oleh para blogger.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini yakni:
1. Memberi kontribusi pengembangan disiplin ilmu yaitu pengembangan etika bisnis online
2. Menambah pengetahuan yang berguna bagi tugas mengajar di Sekolah Tinggi Teologi
3. Memberi kontribusi pemahaman etika bisnis online kepada pengunjung blog

Contoh Bab I Penelitian Kualitatif

Pagi ini Sabtu, 23 Februari 2019 saya sengaja merumuskan variabel penelitian dalam konteks Sukses Mendaftar Menjadi Publisher "Google Adsense". Saya membahas ini karena pengalaman para blogger di Indonesia yang gagal mendaftar ke Adsense kepunyaan Google. Ada yang mengajukan pendaftaran, termasuk saya ditolak berkali-kali sebelum diterima oleh Google adsense. Jadi, saya melihat ada masalah besar dalam bidang ini. Itu berarti saya tidak sulit menemukan masalah penelitian. Mengapa begitu, setiap penelitian harus memiliki masalah. Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Harapannya yakni sukses mendaftar namun masalah yang terjadi adalah ditolak berkali-kali oleh Google Adsense.

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Ketika dunia dilanda oleh kemajuan teknologi, khususnya teknologi internet maka muncul beberapa program yang memberi peluang kepada setiap orang dalam hal memperoleh penghasilan secara online melalui program-program yang ditawarkan oleh perusahan-perusahan di dunia maya. Salah satunya yaitu program Google. Google memiliki sejumlah produk, ada produk yang terus dikembangkan namun ada pula yang harus dihentikan seperti Google plus. Google memberitahu pengguna email gmail bahwa perusahan ini akan meniadakan layanan google plus. Berikut informasi dari Info Google+ Team:

“Anda menerima email ini karena memiliki akun Google+ versi konsumen (pribadi) atau mengelola halaman Google+. Pada Desember 2018, kami mengumumkan keputusan kami untuk menghentikan penggunaan Google+ versi konsumen pada April 2019 karena rendahnya penggunaan dan tantangan dalam mempertahankan produk sukses yang memenuhi ekspektasi konsumen. Kami ingin mengucapkan terima kasih karena Anda telah menjadi bagian dari Google+ dan ingin memberitahukan langkah selanjutnya, termasuk cara mendownload foto dan konten Anda lainnya. Pada tanggal 2 April, akun Google+ dan semua halaman Google+ yang Anda buat akan dihentikan, dan kami akan mulai menghapus konten dari akun Google+ konsumen. Foto dan video dari Google+ di Arsip Album dan halaman Google+ juga akan dihapus. Anda dapat mendownload dan menyimpan konten Anda, tetapi pastikan Anda melakukannya sebelum bulan April. Perhatikan bahwa backup foto dan video di Google Foto tidak akan dihapus. ...” Selanjutnya diinformasikan bahwa “Mulai tanggal 4 Februari, Anda tidak dapat lagi membuat profil, halaman, komunitas, atau acara Google+ baru.”

Tentu dengan ditiadakannya google plus maka artikel yang biasanya dibantu firal oleh Google+ sekarang tidak akan tersedia lagi. Walaupun begitu, ada produk yang terus bertahan dan berkembang yaitu produk di bidang Adsense.

Program Adsense dari Google memberi peluang kepada siapa saja yang memiliki website berbayar maupun free seperti blogspot untuk dapat menghasilkan uang dari hobi yang dimiliki oleh pemilik situs atau blog. Dengan demikian, di Indonesia banyak generasi sebelum generasi milenial (yang lahir dibawah tahun 1980 an) dan generasi milineal (mereka yang lahir tahun 1980 an) membuat blog dan mendaftar ke Google Adsense.

Penulis awalnya menulis artikel karena hobi namun pada tahun 2012 dan 2016 berusaha mendaftar ke Adsense. Namun masalah yang dihadapi adalah tidak mudah sukses mendaftar di GA (Google Adsense). Kesulitan ini menjadi pengalaman beberapa kalangan blogger pemula (penulis dan penerbit artikel di blog). Ada yang mendaftar dan ditolak berkali-kali. Pengalaman penulis yakni mendaftar sejak tahun 2012 dan secara serius menekuni kerinduan menjadi publisher adsense pada tahun 2016. Namun setiap usaha selalu gagal. Kegagalan itu disebabkan karena blog belum memenuhi kebijakan Adsense. Oleh karena itu maka penulisan artikel dan penataan blog yang tidak sesuai kebijakan GA selalu ditolak.

Berikut bukti pendaftaran dan penolakan yang masuk di email penulis.
Pendaftaran awal terjadi pada tanggal 28 Januar 2016. Jawaban dari Google Adsense.

Hello,
Pendaftaran di Google Adsense

Pertama, mendaftar ke Google Adsense pada tanggal 28 Januari 2016. Beberapa menit kemudian ada balasan GPA atau Google Payment Adsense via email dengan pesan sebagai berikut:

Your contact information associated with Google AdSense was changed on Jan 28, 2016.
For your security, please contact us if you didn’t make this change.
To review your contact information:
Sign in to your AdSense account.
Click the gear icon in the upper right corner of any tab, then, from the drop-down list, select "Payments".

Google AdSense

Jawaban selanjutnya dari Adsense milik Google

Tanggal 29 Januari 2016 dapat balasan via email dengan berita sebagai berikut:

Status permohonan AdSense Anda

Terima kasih atas minat Anda terhadap Google AdSense. Sewaktu meninjau permohonan Anda, kami menemukan bahwa informasi akun Anda cocok dengan akun AdSense yang saat ini disetujui yang terkait dengan y...anley@gmail.com.

Karena Kebijakan Program AdSense kami tidak mengizinkan lebih dari satu akun, saat ini kami tidak dapat menerima permohonan baru Anda.

Jika tidak dapat mengakses akun Anda yang disetujui dengan y...anley@gmail.com, ikuti langkah-langkah di pemecah masalah proses masuk kami. Jika Anda tidak dapat memperoleh kembali akses ke akun Anda dalam proses tersebut, Anda akan menemukan opsi untuk menghubungi kami. Selanjutnya, kami akan bekerja sama dengan Anda untuk mengakses akun menggunakan info masuk yang Anda inginkan.

Jika Anda membutuhkan lebih dari satu akun AdSense, harap lihat artikel bantuan ini untuk panduan selengkapnya tentang cara mengirimkan lebih dari satu permohonan.

Jika ingin menambahkan dryon...anley@gmail.com sebagai info masuk ke akun yang disetujui, Anda dapat melakukannya dengan mengikuti langkah-langkah ini.
Tanggal 31 Januari 2016
Nbr/> Status permohonan AdSense Anda
Terima kasih atas minat Anda terhadap Google AdSense. Sewaktu meninjau permohonan Anda, kami menemukan bahwa informasi akun Anda cocok dengan akun AdSense yang saat ini disetujui yang terkait dengan triofilsafat@gmail.com.

Karena Kebijakan Program AdSense kami tidak mengizinkan lebih dari satu akun, saat ini kami tidak dapat menerima permohonan baru Anda.

Jika tidak dapat mengakses akun Anda yang disetujui dengan trio..fat@gmail.com, ikuti langkah-langkah di pemecah masalah proses masuk kami. Jika Anda tidak dapat memperoleh kembali akses ke akun Anda dalam proses tersebut, Anda akan menemukan opsi untuk menghubungi kami. Selanjutnya, kami akan bekerja sama dengan Anda untuk mengakses akun menggunakan info masuk yang Anda inginkan.

Jika Anda membutuhkan lebih dari satu akun AdSense, harap lihat artikel bantuan ini untuk panduan selengkapnya tentang cara mengirimkan lebih dari satu permohonan.

Jika ingin menambahkan dryon...anley@gmail.com sebagai info masuk ke akun yang disetujui, Anda dapat melakukannya dengan mengikuti langkah-langkah ini.

Hormat kami,
Tim Google AdSense
Tanggal 07 Februari 2016

Sesuaikan iklan untuk meningkatkan penghasilan
Gunakan sejumlah kiat yang telah dicoba dan teruji untuk meningkatkan pendapatan Anda.
Mulailah dengan awal yang baik
Kesan pertama itu penting. Jadi, sangat penting bagi Anda untuk menyiapkan akun AdSense agar dapat meraih kesuksesan dengan cepat. Dan kami selalu siap membantu – dalam beberapa minggu ke depan, kami akan mengirimkan serangkaian peluang terbaik melalui email kepada Anda. Untuk langkah awal, lakukan beberapa penyesuaian sederhana ini guna memaksimalkan pendapatan Anda sekarang juga.

Perbarui preferensi Anda agar dapat menyertakan iklan teks dan bergambar. Anda dapat melihat peningkatan penghasilan dari persaingan tambahan di antara para pengiklan untuk mendapatkan ruang iklan di situs Anda. Tempatkan hingga tiga unit iklan di laman Anda, dan seimbangkan iklan dengan konten. Selain itu, pastikan Anda memberi batasan yang jelas antara iklan dan konten untuk mencegah klik yang tidak disengaja. Coba gunakan format iklan 300x250, 336x280, 728x90, dan 160x600 -- ini semua adalah format yang paling banyak digunakan oleh para pengiklan dan cenderung menghasilkan kinerja terbaik bagi penayang.

Tanggal 09 Februari 2016 Status permohonan AdSense Anda

Terima kasih atas minat Anda terhadap Google AdSense. Sewaktu meninjau permohonan Anda, kami menemukan bahwa informasi akun Anda cocok dengan akun AdSense yang saat ini disetujui yang terkait dengan ym...anley@gmail.com.
Karena Kebijakan Program AdSense kami tidak mengizinkan lebih dari satu akun, saat ini kami tidak dapat menerima permohonan baru Anda.

Jika tidak dapat mengakses akun Anda yang disetujui dengan ym...anley@gmail.com, ikuti langkah-langkah di pemecah masalah proses masuk kami. Jika Anda tidak dapat memperoleh kembali akses ke akun Anda dalam proses tersebut, Anda akan menemukan opsi untuk menghubungi kami. Selanjutnya, kami akan bekerja sama dengan Anda untuk mengakses akun menggunakan info masuk yang Anda inginkan.
Jika Anda membutuhkan lebih dari satu akun AdSense, harap lihat artikel bantuan ini untuk panduan selengkapnya tentang cara mengirimkan lebih dari satu permohonan.

Jika ingin menambahkan dryon..anley@gmail.com sebagai info masuk ke akun yang disetujui, Anda dapat melakukannya dengan mengikuti langkah-langkah ini.

Hormat kami,
Tim Google AdSense

Jawaban selanjutnya sama untuk perbaikan dan pendaftaran kembali. Tanggal-tanggal pendaftaran dan proses pengiriman dan jawaban dari adsesen dengan historisasi singkat sebagai berikut:
Mendaftar Tanggal 31/01 2016. Tanggal selanjutnya mendapat informasi dari GA dengan rincian tanggal sbb:
Tanggal 01/02 2016 mendaftar di GA
Tanggal 04/02 2016 mendapat jawaban yaitu permohonan ditolak, namun ada saran perbaikan. Penulis memperbaiki dan mengajukan lagi pada tanggal-tanggal berikut ini
Tanggal 07/02 2016
Tanggal 09/02 2016
Tanggal 10/02 2016
Tanggal 11/02 2016
Tanggal 12/02 2016
Tanggal 14/02 2016
Tanggal 19/02 2016
Tanggal 05/03 2016
Tanggal 07/03 2016
Tanggal 17/03 2016
Tanggal 01/04 2016
Tanggal 02/04 2016
Tanggal 18/04 2016

Hasilnya sama yaitu ditolak. Penolakan itu jelas nampak dalam email yang dikirim ke email penulis. Intinya karena penulis mendaftar dengan lebih dari satu email, ditambah lagi belum terlalu paham untuk menutup akun-akun lain yang nasipnya sama yaitu ditolak. Dengan demikian maka penulis tegaskan lagi bahwa penolakan disebabkan karena ada hal-hal yang penulis lakukan bertentangan dengan kebijakan google. Hal yang penulis maksud yakni mendaftar lebih dari satu email. Hal ini disebabkan karena semangat melihat iklan yang tampil di blog pada awal mendaftar dan ingin agar blog lagi juga didaftarkan. Tentu email berbeda. Penulis memang tidak membaca secara mendetail kebjikan akan kepemilikan akun google yaitu 1 orang 1 akun. Dengan mendaftar lebih dari satu email dengan blog yang berbeda maka berakibat pada penolakan. Dengan demikian pendaftaran yang penulis lakukan tetap berakhir dengan penolakan. Ada saran saran perbaikan, saran itu diikuti namun karena sudah ada kesalahan maka tetap saja ditolak. Untuk diterima harus ada email baru yang dipakai untuk mendaftar.

Penulis kemudian memutuskan untuk cancel atau menutup akun. Dengan demikian pada hari Kamis Tanggal 21/04 2016 mengajukan permohonan pembatalan akun Google Adsense secara permanen. Lalu pada hari yang sama ada pemberitahuan tentang pembatalan tersebut dengan pesan sebagai berikut.

“Your Google AdSense account was recently canceled.
You’ll receive your final payment during the next cycle, if your balance is greater than IDR130,000. Any payments less than IDR130,000 won’t be processed”.

Masalah di atas perlu dicari cara mengatasinya. Itulah sebabnya penulis berusha meneliti variabel "Sukses Mendaftar Menjadi Publisher di Google Adsense".

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan deskripsi masalah yang telah dipaparkan di atas, dirumuskan beberapa identifikasi masalah. Adapun identifikasi masalah dari pemaparan masalah di atas, yakni:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi sukses mendaftar di Google adsense
2. Artikel yang sesuai kebijakan Google Adsense
3. Penataan fitur template yang diterima Google Adsense
4. Pengalaman menjadi blogger
5. Faktor sebagai Blogger pemula
6. Seperti apa sukses mendaftar menjadi publisher di Google Adsense

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka nampak jelas bahwa ada beberapa masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam penelitian ini. Oleh karena itu penelitian ini dibatasi pada poin 6 yaitu Sukses Mendaftar Menjadi Publisher di Google Adsense.

D. Batasan Masalah

Pertanyaan pengarah dalam penelitian ini yakni: Bagaimana Sukses Mendaftar Menjadi Publisher di Google Adsense?

E. Pentingnya Penelitian

Penelitian ini berguna untuk:

1. Pengembangan pengetahuan di bidang teknologi terapan
2. Menemukan cara yang efektif mendaftar menjadi publisher GA
3. Para blogger pemula yang hendak mendaftar ke GA

Semoga bermanfaat

Bab I dan II Riset Kualitatif Tentang Filsafat

FILSAFAT DALAM KAWALAN IMAN DAN LINDUNGAN KASIH


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Inti masalah dari judul ini yaitu adanya beragam sikap dan paradigma terhadap filsafat. Ada yang bersikap positif terhadap filsafat karena memiliki paradigma yang baik tentang filsafat. Namun ada pula yang bersifat negatif terhadap filsafat. Menurut mereka, filsafat dipandang sebagai momok yang dapat membayakan iman atau filsafat membuat orang tidak percaya lagi kepada TUHAN. Filsafat dianggap sebagai kucing hitam yang sedang duduk dibawah meja makan yang bersiap menerkam lauk di meja makan. Oleh karena itu kucing hitam ini harus diusir atau tidak perlu dipelajari. Pada waktu kuliah S1, penulis menemukan teman-teman yang menganggap belajar filsafat itu sangat membayakan iman bahkan dapat menyangkal iman kepada Yesus Kristus. Mereka merujuk kepada beberapa teolog yang karena demikian kuat menganut filsafat maka pandangan teologinya menyerang adanya TUHAN. Bahkan Alkitab dianggap sebagai buku yang sama dengan buku-buku lain. Ya ini tentu dalam konteks penulis sebagai orang Kristen.
Pertanyaan yang sudah tua yaitu apa hubungan Yunani Kuno (Filsafat) dengan Yerusalem (iman Kristen). Disini Yunani dan Yerusalem hanya sebagai istilah teknis untuk menunjuk pada komunitas pada kelompok yang menggunakan pikiran atau pikiran yang rasional dalam menjawab fenomena yang muncul dalam dunia Yunani Kuno pada waktu itu. Misalnya bencana yang selalu dihubungkan dengan kemarahan dewa tertentu, begitu muncul orang-orang yang menggunakan akalnya untuk menjawab fenomena alam tersebut maka kelompok ini disebut dengan para filsuf. Mereka yang menggunakan akalnya untuk memikirkan secara mendalam realitas yang ada. Misalnya salah satu realitas waktu itu yakni bencana alam. Bencana alam di Yunani Kuno tidak lagi disikapi dengan keyakinan yang bersifat mitologis yang seakan-akan menyatakan bahwa bencana terjadi karena kemarahan dewa di Yunani Kuno. Jadi, mereka yang menggunakan akal untuk memahami realitas adalah orang yang disebut filsuf. Filsuf seperti itu dapat diperhatikan dalam diri Plato dll.

B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif bersifat sementara. Fokus ini akan menjadi jelas dan sangat jelas setelah peneliti berada dalam latar penelitian. Dalam latar penelitian itu, peneliti akan menemukan secara natural dan empiris akan pokok yang diteliti. Penelitian kualitatif berusaha untuk menemukan teori dan bukan menguji teori. Dengan demikian rumusan fokus penelitian dalam judul ini yakni penelitian ini dibatasi pada Filsafat, iman dan Kasih. Jadi, ada tiga kata kunci yang menjadi fokus penelitian ini. Tiga kata kunci ini dapat dikaji dalam kajian teoritis dan teologis.

C. Rumusan Masalah

Pertanyaan masalah dalam pokok ini yaitu pertanyaan penelitian yang jawabannya dicari dalam penelitian secara teoritik maupun empiris (penelitian lapangan).

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif maka tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukan pemahaman luas dan mendalam terhadap situasi sosial dari Filsafat dalam kawalan iman dan lindungan kasih dalamkomunitas teologi.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini yakni:
1. Memberi kontribusi pengembangan disiplin ilmu yaitu filsafat Teologi
2. Menambah pengetahuan yang berguna bagi tugas mengajar di Sekolah Tinggi Teologi
3. Memberi kontribusi pemahaman filsafat kepada pengunjung blog

BAB II KAJIAN TEORI FILSAFAT DALAM KAWALAN IMAN DAN LINDUNGAN KASIH


A. Rekonstruksi Makna Filsafat

Lukisan Vatikan tentang para Filsuf berdasarkan pengalaman ketika menjadi mahasiswa yaitu ada sejumlah kesulitan memahami apa pengertian filsafat yang secara teknis operasional mendarat dan menjiwai seseorang dalam belajar filsafat dan menerapkannya. Saya kemudian mendapat salah satu jawaban, yaitu usaha mengerti filsafat secara baik, terukur dan mengyemangati roh filsafat dalam diri pelaku studi filsafat yaitu dengan memahami percakapan Sokrates dan murid-muridnya.
Robert R. Boehlke dalam bukunya berjudul “Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai Ig. Loyola (2013:2-3) mengutip Muchtar Jahya tentang contoh gaya mengajar Sokrates yang dibuat oleh Guru besar John Adams dari Universitas Oxford dengan isi tanya jawab sebagai berikut.
Sokrates: “Apakah yang dimaksud dengan serangga (insect) itu? Murid: “Serangga ialah binatang kecil bersayap.” (Murid yakin bahwa jawabannya itu benar) Sokrates: Kalau begitu, tentu ayampun boleh kita namai serangga.” Murid: Ayam bukan demikian kecilnya hingga dapat dinamai serangga. Ayam itu amat besar kalau dibandingkan dengan serangga.” Sokrates: “Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap.” Murid: “Betul!” Sokrates: “Kalau demikian, burung pipit dapat dinamai serangga, sebab dia demikian kecilnya”. Murid: “Tidak! Burung sekali-kali tidak dapat dinamai serangga, sebab dia demikian kecilnya.” Sokrates: Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, dia bersayap, tetapi bukan dari jenis burung.” Murid: “Benar” Sokrates: “Kemarin saya memasuki salah satu took, di dalamnya saya melihat kaleng-kaleng kecil. Pada masing-masing kaleng itu tertulis: Tepung keating yang paling manjur untuk memberantas serangga.” Pada masing-masing kaleng itu tergambar beberapa macam binatang kecil bukan dari jenis burung, tetapi tidak ada mempunyai sayap, umpama pijat-pijat, kutu kucing dll. Rupa-rupanya mereka salah menamakan binatang-binatang tersebut serangga, sebab masing-masing tidak bersayap. Adakah masuk akal serangga tidak bersayap, menurut yang telah kita tetapkan itu?” Murid: “Binatang-binatang tersebut memang serangga, semua orang tahu itu.” Sokrates: “Aneh, aneh. Apa pulakah arti serangga sekarang, menurut pikiranmu. Apakah sekaran kau berpendapat bahwa “Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap, bukan dari jenis burung, dan kadang-kadang tidak bersayap.’ Sesungguhnya perkataan ini amat berlawan-lawanan.” Murid: “Celaka! Pertanyaan-pertanyaan orang ini membosankan.

Percakapan kemudian dilanjutkan, Coba tuan sendiri yang menerangkan kepada kami, apa arti serangga itu, supaya kami puas dan tuanpun puas.” Sokrates: “Bukankah dari tadi saya bilang padamu bahwa saya sendiri pun tidak mengetahui. Sekarang mari kita periksa bersama-sama, moga-moga kita sampai pada hakikat sebenarnya. Jalan yang paling baik ialah kita ambil 3 atau 4 ekor serangga dari jenis yang bermacam-macam, kemudian kita bandingkan satu dengan yang lain, untuk mengetahui sifat-sifat yang sama. Apakah serangga yang akan kita ambil?” Murid: “Mari kita ambil kupu-kupu, semut, kerangga dan kumbang Sokrates: “Bagus” Berdasarkan jenis-jenis serangkan itu mereka merumuskan berdasarkan fakta tentang “apa itu serangga?”
Sampai pada akhir percakapan ini dapat dipahami bahwa usaha mendapatkan kebenaran suatu realitas harus berlangsung dalam proses berpikir yang mendalam yang berlangsung secara personal maupun komunal. Personal karena proses berpikir berkait dengan siapa yang berpikir atas sebuah realitas dan komunal karena bepikir seseorang tentang sebuah realitas yang menghantar pada sebuah kebenaran pengetahuan atas realitas tentu berhubungan dengan pikiran orang lain, atau pemikiran sebelumnya.
Pikiran adalah pemberian TUHAN. Tuhanlah yang memberi pikiran maka siapapun yang berfilsafat dan menemukan hasil filsafat maka harus diyakini berasal dari Tuhan. Oleh karena itu upaya berfilsafat kita lakukan dalam kawalan iman dan lindungan kasih. Dalam konteks demikian saya memposting artikel tentang arti filsafat berikut ini. Serangga ialah binatang beruas, kulitnya kesat, lagi keras, kakinya enam, mempunyai sayap, atau bekas sayap.” Berdasarkan percakapan dialogis di atas, kita belajar apa artinya berpikir radikal/mendalam terhadap salah satu realitas (Salah satnya: Serangga). Mudah-mudahan dialog diatas menolong kita memahami apa itu filsafat dalam arti berpikir mendalam/radikal terhadap realitas dan merumuskan realitas tersebut yang kemudian menghasilkan kebenaran.

Belajar filsafat memang menyenangkan tetapi juga membingungkan. Hal yang terakhir ini disebabkan karena terdapat ragam pengertian tentang filsafat. Saya tidak menjanjikan dan menjamin bahwa materi ini memberi sumber pemahaman yang tuntas tentang apa itu filsafat. Hal itu sulit diwujudkan. Namun perlu disadari bahwa keragaman pengertian filsafat bukanlah sesuatu yang menyesatkan, hal itu wajar saja karena setiap orang memberi arti sesuai dengan pemahamannya. Selanjutnya sesuai dengan topik yakni "pengertian filsafat" maka dalam postingan ini saya menjelaskan tentang pengertian filsafat. Pengertian yang saya paparkan ini telah mendorong/mensemangati saya dalam mengajar Filsafat Ilmu dalam bidang Pendidikan Kristen maupun Teologi Penggembalaan.

Menurut Jan Hendrik Rapar, filsafat adalah mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan karena memang filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu. Menurut para rohaniawan dan teolog menyatakan filsafat sebagai “ancilla theologiae”, yaitu budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi, filsafat memiliki tugas memformulasikan argumentasi-argumentasi yang kuat untuk membela isi iman Kristen. Ada pula rohaniawan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat iblis terkutuk. Karena itu harus ditolak oleh semua orang beriman. Tudingan ini tidak sepenuhnya benar, Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai robot, manusia memiliki pikiran. Dengan pikiran itu manusia berfilsafat (berpikir). Namun tidak kegiatan berpikir dikategorikan filsafat. Berpikir yang dikategorikan filsafat adalah berpikir yang berlangsung dalam syarat-syarat tertentu (Rapar, 2000:12-13).

Memang harus diakui bahwa berpikir yang berciri filsafat dapat membawa seseorang pada dua pilihan, yaitu kesetiaan kepada iman atau penyimpangan iman (alias tidak mengakui adanya Tuhan). Oleh karena itu berfilsafat harus berlangsung dalam kawalan iman dan perlindungan kasih. Untuk memahami filsafat, maka saya merumuskan pengertian filsafat dalam dua pendekatan. Pertama, secara etimologi dan kedua secara konseptual (definisi para ahli filsafat). Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, dari kata “philosophia”. Kata “philosophia” merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata: “philos” dan “Sophia”. Kata “philos” berarti kekasih, atau bisa juga sahabat. Sedangkan “Sophia” berarti kebijaksanaan atau kearifan atau juga pengetahuan. Jadi, arti harafiah “philosophia” berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan. Definisi para ahli: Plato dalam Jan Hendrik Rapar menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada atau filsafat adalah usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus (Louis O. Kattsoff, 1996:2).

Aristoteles (Murid Plato) mengemukakan beberapa pengertian filsafat. Pertama, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada. Kedua, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku peri ada” (being as being) atau peri ada sebagaimana adanya (being as such).

Rene Descartes (Filsuf Prancis) Argumen yang terkenal dari Descartes yakni: “Aku berpikir maka aku ada” (cogito ergo sum). Jadi, filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia. William James (Filsuf Amerika), Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R.F. Beerling (mantan guru besar filsafat UI) menyatakan filsafat adalah suatu usaha untuk mencari radix atau akar pengetahuan tentang diri sendiri. Louis Kattsoff, filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Kegiatan kefilsafatan ialah pemikiran secara sistematis. Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh/komprehensif (Louis O. Kattsoff, 1996:3-4, 6, 12).
Berpikir radikal (berpikir mendalam) tidak berarti mengubah, membuang, atau menjungkirbalikan segala sesuatu, melainkan dalam arti sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal sebenarnya hendak memperjelas realitas, lewat penerimaan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri (Rapar, 2000:21)

Menurut Yonas Muanley, filsafat adalah berpikir radikal atau berpikir mendalam terhadap realitas (realitas/ada secara menyeluruh maupun salah satu realitas). Kita memiliki banyak realitas. Misalnya realitas yaitu ada sesama kita yang menyerang iman Kristen maka kita memerlukan Apologetika. Dalam berapologetika kita mebutuhkan filsafat yang berlindung dalam kawalan kasih dan lindungan iman. Semoga memahami filsafat

B. Filsafat Dalam Kawalan Iman

Dalam paparan di atas jelas bahwa berfilsafat adalah upaya dewasa dalam memanfaatkan pikiran yang ada pada seseorang. Pikiran adalah pemberian Tuhan. Dalam terminologi teologi Kristen, manusia dicipta segambar dan serupa dengan TUHAN (Kejadian 1:26). Oleh karena manusia adalah makluk ciptaan Tuhan maka ada pada manusia kemampuan mencipta dan membaharui apa yang sudah tercipta dari hasil berpikir manusia.
Bila kita merujuk pada proses filsafat maka kita sadar bahwa berpikir radikal dapat membawa seseorang pada dua konsekwensi, yaitu: (1) tetap setia pada iman (percaya Tuhan) atau (2) lebih mengandalkan pikiran atau bicara Tuhan itu sesuatu yang tidak rasional, atau bagian ini disebut dengan berfilsafat yang membuat seseorang menyangkal Tuhan dan lebih memilih kemampuan berpikir manusia. Dalam sejarah,khususnya abad pertengahan, orang-orang Kristen berjuang dalam pergumulan antara iman dan rasional. Dalam pendekatan teologi Kristen ada yang disebut dengan zaman rasionalisme yang mengutamakan akal di atas iman. Sehingga muncul pertanyaan: Apa hubungan Yunani dan Yerusalem. Maksudnya antara rasio dan iman?. Dalam terminologi iman Kristen, hubungan antara filsafat dan iman dapat dipahami dalam frasa ‘manusia dicipta segambar dan serupa dengan TUHAN (Kejadian 1:26). Lengkapnya ayat ini demikian:

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Dalam paradigma pemahaman bahwa pikiran dan iman adalah pemberian Tuhan maka keduanya dapat digunakan secara baik sehingga tidak bertentangan bahkan sampai menolak yang satu diantara dua pemberian TUHAN itu. Maksudnya pikiran dan iman. Itulah sebabnya berfilsafat harus terjadi dalam kawalan iman. Jika tidak demikian maka pikiran akan menyesatkan. Itulah sebabnya iman dan pikiran dapat berjalan secara bersama-sama dalam diri seseorang karena keduanya adalah pemberian TUHAN.

C. Filsafat Dalam Lindungan Kasih

Filsafat dalam lindungan kasih adalah pemikiran mendalam dalam diri seseorang yang tentu dilakukan bukan untuk menyesatkan orang lain atau merugikan orang lain melainkan filsafat dapat dipakai untuk kebaikan manusia.

Kasih dalam terminologi iman Kristen dipahami sebagai tindakan seperti: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak meyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidak adilan, tetapi bersukacita karena kebenaran (sofi), menutupi sesuatu, percaya segala sesuatu,megharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu (I Kor. 13:4). Teks ini memang harus di epistemologikan dalam pendekatan eksegetis yang dilakukan pakar biblika (ahli yang menafsir Teks Perjanjian Baru). Kasih bila merujuk pada diri Yesus maka kasih tidak lain adalah pengorbanan tanpa pamrih.

Jadi dalam konteks iman Kristen, penulis menyatakan bahwa filsafat dalam lindungan kasih yang penulis maksudkan yaitu filsafat mesti dilakukan untuk kebaikan manusia. Bila filsafat tidak dilindungi kasih maka orang Kristen (mahasiswa dan dosen teologi dan PAK) akan menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menyombongkan diri dan menyerang lawan dalam dunia akademis teologis secara tidak bertanggungjawab.