This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, March 1, 2016

Contoh analisa data dengan Kriteria Interpretasi Skor

Data yang diperoleh harus diinterpretasi, namun sebelum melalkukan hal tersebut perlu mengumpulkan data. Pokok ini diakomodir dalam Bab III. Dalam tiga dibahas tentang cara ilmiah yang dipakai (lihat postingan terdahulu tentang struktur Bab III)

Oleh karena bab III adalah bab metodologi maka perlulah penjelasan singkat tentang metode ilmiah.

Metode penelitian adalah cara ilmiah yang diakui, diterima dan digunakan dalam penelitian yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Dalam hal ini perolehan pengetahuan yang benar yang direkontruksi berdasarkan kebenaran rasional dan empiris mestilah menggunakan metode yang dipertanggungjawabkan. Dalam bab III sudah terlihat rancangan penelitian yang dipakai oleh peneliti.

A. Waktu Penelitian

Waktu penulis mengadakan penelitian dimulai bulan …. sampai bulan…… bahkan sampai berakhirnya Proses penelitian dan pelaporan hasil dari penelitian itu sendiri.

Adapun alasan penulis memilih tempat penelitian dengan pertimbangan, antara lain :

1. Lokasi tempat penelitian merupakan tempat penulis melaksanakan pelayanan jemaat.

2. Adanya keterbatasan biaya, waktu dan tenaga peneliti

B. Model Dan Desain Penelitian.

Dalam bagian ini peneliti menentukan metode penelitian mana yang akan dipakai. Apakah kuantitatif atau kualitatif. Termasuk didalamnya penjelasan tentang istrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Berikut contoh disain penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variabel yang terdiri dari variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). adapun variabel yang digunakan yaitu:

1. Variabel bebas (independent variable) adalah Paradigma Kepemimpinan menjadi seperti dan penilaian rohani.

2. Variabel terikat (dependent variable) adalah pelayanan pertumbuhan gereja.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Untuk itu, diperlukan suatu uji validitas (ketepatan) dan realibilitas (keandalan) sehingga instrumen tersebut benar-benar dapat mengukur dengan tepat apa yang seharusnya diukur. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan instrumen penelitian dalam bentuk kuisioner atau angket seperti yang terlampir.

Validitas diukur dengan menggunakan fungsi analisa korelasi yang menentukan apakah setiap butir instrumen (skor item) memiliki hubungan yang kuat dan signifikan dengan skor total dari setiap butir pernyataan.

Realibilitas dari instrumen yang digunakan diuji dengan rumus sebagaimana yang akan dipaparkan dalam teknik analisa data, dimana melalui ujian ini dapat diketahui apakah instrumen yang digunakan dapat diandalkan (reliable) dalam beberapa jenjang waktu tertentu terhadap kelompok subjek yang sama pada kondisi normal.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Populasi dapat berupa kelompok orang, benda, dan lain-lain yang telah ditetapkan sebagai objek penelitian.

2. Sampel

Sampel merupakan perwakilan dari populasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan sesuai alasan statistic yang dipakai. Misalnya penelitian tentang siswa di beberapa sekolah maka diambil beberapa orang sebagai sampel. Besarnya sampel lihat di rumus statistic yang mengatur tentang pengambilan sampel.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dimaksud disini yakni cara ilmiah yang dipakai. Cara ini meliputi semua keterangan tentang pelaksanaan penelitian dijalankan. Misalnya metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode penelitian kuantitatif dengan korelasional yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara dua variabel. Untuk kepentingan ini peneliti memakai alat penelitian seperti: (a) angket terbuka dengan memakai skala sikap model skala Liker. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Berdasarkan skala sikap ini maka pilihan jawaban dalam angket yang disebarkan kepada anggota jemaat diberi alternative jawaban:

5 = SangatSetuju (SS)

4 = Setuju (S)

3 = Ragu (R)

2 = KurangSetuju (RR)

1 = TidakSetuju (TS)

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisa data yang dipakai dalam penelitian ini yakni pengumpulan data adalah literature dan angket yang diberi skor dengan cara: Jumlah skor ideal per-item angket (skor tertinggi) dibagi jumlah skor tertinggi dikalikan seratus. Realisasinya sebagai berikut:

Jumlah skor ideal untuk item (skor tertinggi ) = 5 x Jumlah responden (SS)

Jumlah skor rendah (skor terendah dlm skala likert yaitu 1) = 1 x Jumlah responden (TS)

Jadi presentasi skor yaitu: jumlah skor tertinggi sampai skor terendah per-item bagi jumlah skor ideal per-item.

Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 41 orang

Menjawab 4 (Setuju) = 10 orang

Menjawab 3 (Ragu) = - orang

Menjawab 2 (Kurang Setuju) = - orang

Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang

Penghitungan skor dengan cara:

Jumlah skor untuk 41 Orang menjawab 5 : 41 x 5 = 205

Jumlah skor untuk 10 Orang menjawab 4 : 10 x 4 = 40

Jumlah skor untuk 5 Orang menjawab 3 : 0 x 3 = -

Jumlah skor untuk 3 Orang menjawab 2 : 0 x 2 = -

Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -

Jumlah = 245

Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)

Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)

Berdasarkan data (item No. 1) yang diperoleh dari 80 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen terletak pada daerah sangat setuju yang

secara kontinum dapat dilihat seperti:

0 51 102 210 230 245 255

¬¬ TS KS R S SS

Jadi, berdasarkan data (item No. 1) yang diperoleh dari responden, maka pengaruh variabel penelitian terhadap item-item instrument yaitu 245/255 x 100 % = 96,07 % tergolong SANGAT KUAT. Presentase kelompok responden untuk item No. 1 dapat dilihat seperti:

0 20 40 44 60 80 100

Sangat lemah lemah Cukup Kuat Sangat kuat

Analisis di atas menggunakan criteria interpretasi skor.

Angka 0 % - 20 % = Sangat Lemah

Angka 21 % - 40 % = lemah

Angka 41 % - 60 % = Cukup

Angka 61 % - 80 % = Kuat

Angka 81 % - 100 % = Sangat kuat

Perhitungan di atas sekadar contoh, operasionalisasinya dalam Bab IV






Saturday, February 27, 2016

Pengalaman halaman blog bermasalah

Karena ada kesalahan kopi paste kode iklan dan berpengaruhi pada tampilan halaman blog maka untuk sementara saya hilangkan, saya akan memuat kembali lagi pada beberapa waktu mendatang. Publisher ...... pelayanannya luar biasa. Beberapa Minggu yang telah berlalu, saya mendaftar ke ...... (saya tiadakan dulu sementara) untuk menjadi publisher, beberapa menit kemudian ada balasan dan setelah mendaftar saya harus menunggu 3 hari untuk ditinjau blog saya. Merasa belum ada jawaban, saya daftar lagi dengan email yang berbeda. Saya diminta lagi untuk bersabar beberapa hari. Akhirnya dijawab bahwa permohonan saya disetujui. Selanjutnya saya masuk ke dasbor Chita untuk memasang kode iklan ke blog saya. Setelah memasang, saya kemudian memperbaiki lagi namun ada kesalahan yang terjadi pada saya. Akhirnya akun saya tidak bisa dipakai. Saya kemudian mendaftar lagi dan langsung diterima untuk menerbitkan iklan. Hanya saja tampilan iklan mesti saya tunggu lagi beberapa hari. Semoga iklan muncul. Salam

Saturday, February 20, 2016

Empat makna kasih dalam bahasa Yunani

Makna kasih dalam bahasa Yunani yang merujuk kepada empat kata yang berbeda: a. Kata avgapa,w atau kata bendanya avgaph dianggap sebagai kata yang secara khusus digunakan untuk berbicara mengenai kasih Allah, kasih yang rela berkorban, dan kasih yang tanpa pamrih; b. Kata file,w atau kata bendanya filia dianggap sebagai kata yang secara khusus berbicara mengenai kasih persahabatan atau kasih pertemanan; c. Kata stergw atau kata bendanya storgh dianggap sebagai kata yang secara khusus berbicara mengenai kasih persaudaraan; dan d. Kata evraw dan kata bendanya evrwj dianggap sebagai kata yang menandai kasih percintaan atau romantika dengan kandungan makna adanya nuansa seksual di dalamnya. (W. Gunther and H.G. Link, “Love,” in Collin Brown (ed), Dictionary of New Testament Theology, Vol. 2 (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1976), 538-539

Nama Petrus: Si,mwn VIwa,nnou

Nama Petrus: Si,mwn VIwa,nnou Dalam beberapa salinan Injil Yohanes, frasa Si,mwn VIwa,nnou disalin dengan Si,mwn VIwna (A, K, C, M, N, U, S, 153, dan 1424). Namun, variasi penyalinan ini kemungkinan besar merupakan upaya untuk mengharmoniskannya dengan Matius 16:17 di mana terdapat sebutan: Maka,rioj ei=( Si,mwn Bariwna/. Jika pendapat ini benar, maka kita dapat menerima bahwa frasa Si,mwn VIwa,nnou otentik dalam bagian ini.

Selanjutnya, sebutan nama Petrus oleh Yesus: Si,mwn VIwa,nnou, tampaknya sangat dekat dengan sebutan i,mwn o` ui`o.j VIwa,nnou dalam Yohanes 1:42. Perbedaannya adalah dalam Yohanes 21:15, Yesus menggunakan sebutan yang lebih ringkas. Penggunaan bentuk ringkas ini bisa jadi merupakan sebuah penyingkatan ekonomis dari Yesus atau bisa jadi juga merupakan semacam hasil pengeditan dari sang redaktor Injil ini. Dalam pengertian yang mana pun, kita mendapati suatu hal menarik di sini yaitu sebutan nama Petrus yang dihubungkan dengan ayahnya yang bernama Yohanes (sebutan patronomik). Sebagaimana di Galilea untuk pertama kalinya Yesus menggunakan sebutan patronomik bagi Petrus, demikian pula di Galilea untuk yang terakhir kalinya semasa Yesus di bumi menyebut Petrus dengan sebutan patronomik.

Mengapa Yesus menggunakan sebutan patronomik untuk Petrus di sini bila dihubungkan dengan Yohanes 1:24? Mengenai sebutan patronomik untuk Petrus di sini yaitu Yesus hendak mengingatkan Petrus bahwa pasti ia akan menyangkal ketika Yesus masuk dalam penangkapan dan penyaliban. Naum sebutan ini juga merupakan suatu keinginan bahwa Yesus mau mulai relasi yang abru dengan Petrus. Hal ini terbukti, setelah Petrus menyangkal, ia menyadarinya, menyesal dan bertobat kemudian kembali memulai relasi yang baru dengan Yesus Kristus.

Terjemahan Yohanes 21:15-19 dalam bahasa Yunani

Ayat suci yang terambil dari Perjanjian Baru Yohanes 21:15-19 dalam bahasa Yunani dan terjemahannya, sebagai contoh penelitian teks yang berhubungan dengan salah satu prosedur penelitian tesk kuno yaitu penerjemahan. Terjemahan ini kolaborasi bersama rekan Biblika. Teknis yang penulis gunakan di sini adalah mencantumkan teks Yunani sekaligus terjemahan literal dari ayat per ayat. Untuk penerjemahan terhadap beberapa frasa atau kata yang nanti akan dijelaskan dalam tafsirannya, penulis akan memberikan indikasi melalui catatan pada bagian akhir dari bagian terjemahan ini. Ayat 15 {Ote ou=n hvri,sthsan le,gei tw/| Si,mwni Pe,trw| o` VIhsou/j( Si,mwn VIwa,nnou( avgapa/|j me ple,on tou,twnÈ le,gei auvtw/|( Nai. ku,rie( su. oi=daj o[ti filw/ seÅ le,gei auvtw/|( Bo,ske ta. avrni,a mouÅ Kemudian ketika mereka sudah makan, Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon Yohanes, apakah engkau mengasihi aku lebih dari ini? Dia menjawab: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Dia berkata kepadanya, “Berilah makan domba-domba-Ku”. Ayat 16 le,gei auvtw/| pa,lin deu,teron( Si,mwn VIwa,nnou( avgapa/|j meÈ le,gei auvtw/|( Nai. ku,rie( su. oi=daj o[ti filw/ seÅ le,gei auvtw/|( Poi,maine ta. pro,bata, mouÅ Dia berkata kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dia menjawab, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Dia berkata kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku.” Ayat 17 le,gei auvtw/| to. tri,ton( Si,mwn VIwa,nnou( filei/j meÈ evluph,qh o` Pe,troj o[ti ei=pen auvtw/| to. tri,ton( Filei/j meÈ kai. le,gei auvtw/|( Ku,rie( pa,nta su. oi=daj( su. ginw,skeij o[ti filw/ seÅ le,gei auvtw/| Îo` VIhsou/jÐ( Bo,ske ta. pro,bata, mouÅ Dia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus merasa sedih karena Dia telah berkata kepadanya untuk yang ketiga kalinya [mengenai] apakah engkau mengasihi Aku? Dia berkata kepada-Nya, “Tuhan Engkau mengetahui segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Yesus berkata kepadanya, “Berilah makan domba-domba-Ku.” Ayat 18 avmh.n avmh.n le,gw soi( o[te h=j new,teroj( evzw,nnuej seauto.n kai. periepa,teij o[pou h;qelej\ o[tan de. ghra,sh|j( evktenei/j ta.j cei/ra,j sou( kai. a;lloj se zw,sei kai. oi;sei o[pou ouv qe,leij Sesungguhnya aku berkata kepadamu, ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana pun engkau suka, tetapi ketika engkau sudah tua, engkau mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengingat tanganmu dan membawa engkau ke mana engkau tidak suka. Ayat 19 tou/to de. ei=pen shmai,nwn poi,w| qana,tw| doxa,sei to.n qeo,nÅ kai. tou/to eivpw.n le,gei auvtw/|( VAkolou,qei moiÅ Ia mengatakan hal-hal ini untuk mengindikasikan bagaimana dia akan memuliakan Tuhan dengan cara kematian. Dan sesudah ia mengatakan hal-hal itu, Dia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Terjemahan di atas mengindikasikan bahwa beberapa kata dan frasa tampaknya tidak jelas maksudnya dan perlu mendapat perhatian eksegetis, yaitu: a. Penyebutan nama Petrus oleh Yesus: Si,mwn VIwa,nnou; b. Penggunaan kata bo,ske dan poi,maine; c. Penggunaan kata avgapa/|j dan filei/j; d. Penggunaan kata ta. avrni,a dan ta. pro,bata,; e. Penggunaan frasa ple,on tou,twn. f. Mengapa Petrus menjadi bersedih ketika ia ditanyai dengan pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya? Keenam masalah spesifik yang penulis identifikasi di ataslah yang akan menjadi kerangka utama pembahasan ekesegetis penulis dalam bagian selanjutnya. Kiranya menginspirasi semangat penelitian teks suci. Salam YM

Friday, February 5, 2016

Teori tentang masalah penelitian

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”. Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Prof.Dr. Sugiyono dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52) Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu: Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya Apa yang benar-benar terjadi Penyimpangan/masalah Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah Jemaat malas beribadah Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah Contoh deskripsi Masalah: Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Skala pengukuran sikap yang dipakai:

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)

Cukup Yakin (3)

Kurang Yakin (2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di Bab I untuk poin:Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.

Pengaruh menjadi Pentakostalisme terhadap Karakteristik unggul dalam pelayanan gereja

Masalah Penelitian: Pengaruh Menjadi Pentakostalisme terhadap Karakteristik unggul dalam pelayanan Gereja.

Gerakan Pentakosta telah berkembang sedemikian pesat dan memberi pengaruh terhadap manusia, khususnya kelompok Kristen dari denominasi yang menekankan pada Roh Kudus yaitu pada pengalaman dipenuhi Roh. Seorang teolog pentakosta yakni J.Gultom menyatakan: “Kaum pentakostal lahir dari suatu pergumulan spiritualitas yang dangkal pada masa di mana gereja-gereja telah terjebak kepada formalisasi, doktrinisasi dan pemetodean penghayatan iman kepada Yesus Kristus serta absennya pengalaman yang dinamis dengan Roh. Pendapat ini menarik untuk dikaji, mengapa pengalaman dinamis dengan Roh itu tidak continue dalam kehidupan gereja.? Gereja dianggap sebagai suatu persekutuan yang hanya menekankan system organisasi ketimbang perhatian terhadap pengalaman dinamis dengan Roh itu. Oleh karena Itulah gerakan pentakostal memberi ruang dalam pengalaman dinamis itu. Pengalaman dinamis dengan Roh ini tidak hanya terjadi dalam kaum Pentakosta tetapi juga pada gerakan pietisme John Wesley bersaudara yang melahirkan Methodis maupun Jacob Spener adalah suatu penghayatan dan pengalaman yang hidup, sederhana, spontan dan komitmen untuk menghidupi Firman menjadi akar spiritualitas Pentakostal. Oleh karena itu spiritualitas merupakan topik yang sangat penting ketika membicarakan mengenai pentakostalisme (J.Gultom, Penta Kosta Dalam Konteks, Jakarta : PGPI dan PESATPIN, 2008: 139)