This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, March 4, 2019

Istilah-istilah Penelitian dalam Ilmu Pengetahuan

Dalam bidang keilmuan pasca penceraian dengan filsafat, ilmu-ilmu dalam bidang apapun mulai berusaha untuk otonom atau berdiri sendiri, katakanlah bercerai dari filsafat tetapi masih membutuhkan filsafat. Itu artinya filsafat selalu dibutuhkan oleh ilmu-ilmu yang katanya sudah otonom. Ilmu pasti pun masih butuh filsafat, misalnya Matematika masih membutuhkan filsafat, fisika juga masih butuh filsafat, dalam ilmu sosial apalagi, filsafat menjadi rebutan. Coba periksa saja kurikulum di Perguruan Tinggi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik pasti ada mata kuliah filsafat secara tersendiri atau terintegrasi dengan mata kuliah tertentu. Misalnya Ilmu membutuhkan filsafat sehingga ada mata kuliah filsafat Ilmu. Singkatnya dalam bidang kehidupan termasuk penelitian membutuhkan pemikiran mendalam terhadap realitas yang dihadapi. Realitas yang dihadapi adalah sesuai bidang keilmuan. Ada realitas Teologi, realitas Pendidikan, realitas matematika, realitas biologi, realitas kimia, realitas filsafat, realitas hukum, realitas etika, realitas ekonomi dan seterusnya.

Terhadap realitas yang bersifat khusus itulah berlaku penelitian yang pada akhirnya melahirkan ilmu mandiri. dengan demikian saya sepakat dengan Dr. Wirawan yang menulis buku Evaluasi ...Aplikasi dan Profesi, menyatakan:"ilmu pengetahuan mempunyai metode untuk melakukan penelitian ..." (Wirawan,2011:2). Untuk melakukan penelitian pada setiap bidang ilmu, maka ada beberapa istilah sebagai berikut:

1. Riset murni

Menurut Wirawan (2011:2) Riset murni adalah riset yang bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan melakukan penelitian untuk menciptakan teori-teori ilmu pengetahuan baru. Mereka yang melakukan riset murni adalah para ahli atau peneliti riset murni yang tertarik pada fenomena ilmu pengetahuan, punya waktu, tenaga, biaya serta alat yang memadai untuk melakukan penelitian. Jadi, tujuan utama penelitian ini hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, penelitian ini mementingkan unsur pengembangan atau temuan sebuah epistemology baru atas bidang ilmu pengetahuan, unsur aksiologinya yaitu apakah penelitian ini bermanfaat atau tidak, bertentangan dengan norma atau tidak, bertentangan dengan agama atau tidak, ia tidak mempertimbnagkannya. Yang difokuskan adalah "pengembangan ilmu pengetahuan". Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap ilmu ada ada riset murninya. Ya ini memang demikian tetapi manusia Pancasila yang mengadakan penelitian selalu berada pada paradigma 5 (lima) sila Pancasila, dengan sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa". Itulah sebabnya penelitian dalam bidang apapun tidak boleh bertentangan dengan Agama yang dianut di ndonesia.

2. Riset terapan
Menurut Wirawan (2011:2), riset terapan adalah riset yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan demikian masalah yang dihadapi masyarakat atau lembaga pendidikan dan lain sebagainya perlu diteliti dan hasil penelitian tersebut digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian jenis penelitian terapan yang dimaksudkan disini dapat meliputi:
(1) Riset evaluasi atau evaluation risearch
(2) Riset tindakan atau action research
Kita mungkin belum tahu siapa yang pertama kali melakukan penelitian tindakan, kita bersyukur ada yang menulis buku dan kita mendapatkan informasi yang disampaikan oleh Wirawan yang menghubungkan nama Kurt Lewin, seorang profesor dari perguruan tinggi berbentuk Institut dengan nama institutnya yaitu "Machassuset Institute Tecnologi", sang profesor ini mengadakan penelitian tindakan pada tahun 1944. Profesor ini kemudian memunculkan istilah action research dalam makalah dengan judul "Action and Minority Problem yang disampaikan pada tahun 1946. Profesor Kurt Lewin mendefinisikan dalam Wirawan (2011:3) yaitu action research adalah riset perbandingan mengenai kondisi dan pengaruh-pengaruh berbagai bentuk tindakan sosial dan penelitian yang mengarah pada tindakansosial yang memakai suatu langkah-langkah spiral, yang masing-masing membentuk suatu siklus perencanaan, tindakan, penemuan fakta mengenai hasil tindakan (https://en.wikipedia.org/wiki/Action Research).

(3) Riset Operasi
Riset ini disebut juga dengan istilah managament science.
Managament Science adalah penerapan metode dan teknik saintifik untuk pengambilan keputusan (Wirawan, 2011:3). Mengambil keputusan merupakan sebuah proses mengidentifikasi masalah dan sejumlah alternatif dan memilih salah satu alternatif yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah. Untuk mencapai maksud ini sering peneliti menggunakan:
(a) statistik
(b) optimisasi
(c) stokastik
(d) teori urutan
(e) teori permainan
(f) teori grafik
(g) simulasi
(h) modeling
(Wirawan, 2011:3)
Kiranya penjelasan di atas dapat membatu mereka yang sedang mencari salah satu istilah di antara informasi di atas

Contoh Rumusan rumusan dalam Bab I Pendahuluan

Contoh Rumusan rumusan dalam Bab I Pendahuluan
B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat diidentivikasi sejumlah masalah pada efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel, STT Paulus sebagai berikut:

1. Ada indikasi sebagian dosen di STT masih menerapkan pembelajaran berbasis materi dan bukan berbasis tujuan atau efektivitas proses pembelajaran di STT.
2. Ada indikasi bahwa sebagian dosen hanya memanfaatkan apa yang sudah ada.
3. Ada indikasi bahwa rumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator-indikatornay tidak dilaksanakan secara baik atau kompetensi paedagogik dalam merumuskan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator-indikatornya dengan kata kerja operasional yang relevan untuk domein kognitif, afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan secara baik.
4. Ada indikasi bahwa dosen tidak mengimplementasi pembuatan kontrak pembelajaran, silabus dan SAP sesuai teori pelatihan yang telah diperoleh dalam pelatihan Applied Approach yang diselenggarakan oleh Universitas maupun oleh Dirjen Bimas Kristen Protestan.
5. Ada indikasi bahwa belum tampak adanya keinginan/motivasi berprestasi dari dosen dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran.
6. Ada indikasi bahwa pembelajaran setiap mata kuliah kurang terintegrasi dengan pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus Kristus dengan mata kuliah yang diasuhnya.
7. Ada indikasi bahwa dosen di STT memiliki blog, baik yang berbasis wordpress.com (www.wordpress.com), blogspot.com (www.blogspot.com) tetapi belum dimanfaatkan untuk proses pembelajaran terhadap mata kuliah yang diasuhnya.
8. Ada indiaksi bahwa dosen di STT kurang memanfaatkan Blog gratis (blogspot dan wordpress), khususnya hosting wordpress. Sementara banyak universitas-universitas di di Indonesia telah memanfaatkan blog untuk keperluan pembelajaran, misalanya blog terbaik adalah blog Dosen dan Mahasiswa Universitas Naratoma, dan disusul dengan universitas lainnya, di STT sangat jarang memanfaatkan weblog untuk proses pembelajaran, pada hal wordpress dan blogspot menjadi media yang sangat relevan untuk dosen mempublish tulisan-tulisan akademis, termasuk mata kuliah 9. Ada indikasi bahwa dosen di STT kurang memanfaatkan weblog berbasis free weblog (wordpress dan blogspot.com dll) untuk mata kuliah yang diasuhnya dalam proses pembelajaran.
10. Diduga dosen di STT engan memasukan kontrak pembelajaran, silabus dan materi kuliah dalam weblog yang dapat diakses mahasiswa secara online.
11. Ada indikasi dosen kurang memanfaatkan media pembelajaran online
12. Ada indikasi dosen lebih banyak memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran
13. Ada indikasi dosen kurang memanfaatkan metode pembelajaran secara fariatif
14. Ada indikasi dosen hanya menggunakan metode kuliah atau ceramah pada setiap kali pertemuan.
15. Ada indikasi bahwa dosen hanya menggunakan evaluasi kognitif
16. Ada indikasi bahwa dosen kurang menggunakan evaluasi untuk ranah afektif dan psikomotorik
17. Ada indikasi bahwa dosen tidak menulis bahan ajar secara baik

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identivikasi masalah di atas menjadi jelas bahwa ada banyak variabel yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Variabel-variabel yang mempengaruhi itu disebut variable bebas (independent variable), yang mempengaruhi variable pokok/utama yang telah ditetapkan sebagai variable terikat, variable ini biasa disimbolkan dengan Y, sedangkan variabel bebas disimbolkan dengan X (X1, X2, X3, X4 dst.)

Dalam penelitian ini sesuai identifikasi masalah maka variable bebas dibatasi pada kompetensi paedagogis (X1/ identifikasi masalah no. 1), motivasi berprestasi dosen (X2/identifikasi masalah no.3 ), integrasi pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus (X3/identivikasi masalah no. 8), pemanfaatan weblog (free weblog/blog) dalam proses pembelajaran (X4/identifikasi masalah no.4). Apakah lima variable itu mempengaruhi efektivitas atau tercapainya tujuan pembelajaran yaitu perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dengan kata lain, berdasarkan sejumlah masalah di atas, perlu dibuat batasan masalah penelitian dengan maksud agar secara penelitian ini dilakukan secara terarah, selain itu efektivitas waktu, dana dan daya untuk menyelesaikannya. Dengan demikian fokus penelitian ini diarahkan pada beberapa variable bebas yaitu: Kompetensi Paedagogis Dosen, Motivasi Berprestasi Dosen, integrasi Pendidikan Karakteristik Unggul Berbasis Didaktik Yesus Kristus dengan mata kuliah, Pemanfaatan Free WebBlog Sebagai Bahan Ajar Online dan sebagai Media Instruksional. Variabel-variabel ini sifatnya independen dan memiliki pengaruh terhadap variable utama disertasi ini yaitu: efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel.

D. Perumusan Masalah

Penelitian ini memerlukan pertanyaan pengarah yang hendak dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 2. Bagaimana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 3. Bagaimana pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 4. Bagaimana pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 5. Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen, motivasi berprestasi dosen, pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus, pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran secara sendiri-sendiri dan bersama-sama berpengaruh terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui sejaumana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
3. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus terhadap efektivitas proses
4. pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
5. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemanfaatan blog sebagai bahan ajar online dan media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

Contoh Bab III Metode Penelitian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian yang digunakan

Menurut Ronny Kountur, metode penelitian adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah yang dimaksud dalam definisi ini yaitu suatu penelitian ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan dan menguji hipotesis atau menemukan teori serta membuat kesimpulan (Ronny Kountur, 2007:7)

Sedangkan Sugiyono mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam definisi ini ditekankan beberapa kata penting, yakni cara ilmiah yaitu kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yakni rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian yang dilakukan bersifat dapat diterima akal sehingga terjangkau oleh penelaran manusia.

Empiris berarti penelitian yang dilakukan melalui pengamatan indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis berarti proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis (Sugiyono, 2008:3)

Selanjutnya metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni penelitian kepustakaan (Library Research) artinya penulis mengadakan studi terhadap literatur yang ada, dan menyusun data tersebut secara sistematis (M. Nazir, 1998:l11-112). Sedangkan metode penulisan skripsi ini adalah Metode Deskriptif, yaitu metode dalam menulis suatu situasi dan kondisi atau peristiwa pada masa sekarang.

Penelitian Deskriptif (Descriptive Research), bermaksud membuat penyadaran secara sistematis, aktual, dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Ibid, 43)

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai sejak …….. sampai …….. 2017 yang diawali dengan pengajuan judul penelitian dan pengujian proposal penelitian dan penelitian lapangan secara kualitatif (Riset Teoritik)

C. Teknik Pengumpulan Data

Lexy J. Moleong mengklasifikasi teknik penelitian atau pengumpulan data dalam beberapa kategori, yaitu (1) sumber data dan jenis data yang diperoleh melalui: (a) kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai. (b) sumber tertulis yang dibagi lagi menjadi data dari sumber buku, majalah ilmiah. sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. (c) Foto menghasilkan data deskriptif dengan kategori foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri. Foto yang dimaksud disini yaitu foto tentang orang dan latar penelitian yang sesuai dengan variable yang diteliti. Latar penelitian dalam foto dapat diamati dengan teliti, foto juga dapat memberi gambaran tentang perjalanan sejarah orang yang ada didalamnya.

Dari foto diketahui gambaran tentang posisi duduk di gereja, keadaan duduk santai, dan gembira ria, keadaan anggota gereja dan lain sebagainya. Foto digunakan untuk memahami bagaimana para subjek penelitian memandang duniannya (Lexy J. Moleong, 1999:114).

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui dua sumber utama, yaitu: Sumber sekunder atau data sekunder. Data sukender adalah data yang bersumber dari penelitian orang lain yang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Data ini berupa fakta, table, gambar, dan lain-lain. Walaupun dibuat untuk maksud yang berbeda, data-data ini dapat dimanfaatkan peneliti lain untuk variable yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada riset pustaka.

D. Teknik analisa data

Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif belum ada teknik yang baku dalam menganalisa data, atau dalam analisa data kualitatif, tekniknya sudah jelas dan pasti, sedangkan dalam analisa data kualitatif, teknik seperti itu belum tersedia, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki oleh peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif

Contoh Abstrak

ABSTRAKSI
Nama mahasiswa)
2010 Karakter Guru Yang Berintegritas dan Implementasinya di Sekolah ....


Masalah penelitian ini adalah di mana dan kapanpun seorang guru PAK harus memiliki karakter yang baik karena guru adalah pendidik yang akan mengajar dan mendidik peserta didiknya dengan pendidikan agama yang bersumber dari Alkitab. Pendidikan adalah pembentukan karakter seseorang, maka pendidik sendiri harus mempunyai karakter yang bertangung jawab karena ini adalah merupakan dasar yang sangat penting. Perlu disadari pula bahwa kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor genetika/temperamen, bawaan lahir pengalaman individu dan lingkungan hidup yang memproduksi karakter dirinya. Pada kenyataannya karakter hanya dapat dilihat dari perkataan dan perilaku/perbuatan seseorang. Oleh karena itu, pendidikan dianggap sebagai salah satu unsur untuk pembentukan karatker. Setiap orangtua, guru di sekolah, guru sekolah Minggu, atau guru pribadi, adalah orang-orang yang diberi hak yang sangat besar oleh Tuhan untuk mendidik karakter anak. Dalam hal ini karakter merupakan bagian yang penting dari integritas, jika seseorang guru dipercayai oleh naradidik karena kejujuran seorang guru tersebut baik dari pengajarannya maupun kehidupannya maka guru tersebut akan akan mempengaruhi karakter peserta didik pada masa depannya atau kehidupan peserta didik di masa yang akan datang.

Seorang guru yang berintegritas harus konsisten antara kata-kata yang disertai dengan perbuatan, maka dengan demikian, seorang guru dapat menjadi panutan bagi naradidiknya. Namun guru yang berbasis karakter dan perilaku yang positif di dalam dirinya akan dikatakan guru tersebut mempunyai integritas karena merupakan dasar utama bagi seorang guru. Seseorang guru yang mempunyai integritas adalah orang yang menetapkan sistem norma untuk menilai sebuah kehidupan. Kehidupan seorang guuru dinilai dari semua eksisitensi kehidupannya termasuk pengajarannya serta nilai norma dan perilakunya baik di masyarakat maupun terhadap naradidiknya.

Masalah yang terjadi adalah guru berintegritas hanya pada waktu mengajar saja, tetapi ketika di luar jam mengajar kehidupannya tidak berintegritas. Kenyataan yang terjadi dapat saja seorang guru tidak lagi menjadi patokan dalam dirinya, dan seluruh hidupnya tidak menjadi contoh bagi peserta didik dan masyarakat yang ada. Karena bukan dari kesungguhan hatinya dalam mengajar justru guru tersebut melakukan tugasnya hanya sekedar profesi, bukan guru berpikir bahwa tugas tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap Tuhan. Tetapi oleh karena tuntutan zaman yang terdesak seperti ekonomi yang kurang tercukupi dalam keluarga, keinginan sukses yaitu kekayaan dan hawa nafsu. Inilah yang menjadi suatu kendala yang cukup berat bagi seorang guru, karena akan membentuk karakter pribadi seorang guru.

Untuk menyelesaikan masalah ini maka penulis memakai metode riset pustaka yang relevan dengan judul dan isi skripsi. Penulisan bersifat analisis deskriptif. Yaitu data berupa pernyataan dan pandangan tentang masalahnya yang disoroti, dan bersifat deskriptif yaitu usaha melaporkan suatu objek atau suatu keadaan tanpa menarik kesimpulan. Akhirnya isi skripsi ini dapat bermanfaat.

Jumlah kata 438 :

Penulis

Sunday, February 24, 2019

Contoh Bab II Penelitian Kualitatif


“PENGARUH MEDIA MENGAJAR GURU
TERHADAP MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK
DI SMA ......

BAB II
KAJIAN TEORI

Kajian Teori

Kajian Teori atau Studi perpustakaan merupakan proses umum yang biasa dipakai dalam penelitian, baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan maksud untuk mendapat informasi teori-teori terdahulu. Suryabrata sebagaimana dikutib oleh sugiyono berpendapat bahwa studi perpustakaan dilakukan untuk mencari: “teori-tiori konsep-konsep generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan segabai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitia (Sugiyono, 2011: 79) Adapun studi perpustakaan dalam penelitian ini berkenaan dengan variable penelitian media pembelajaran Pendidikan Kristen.


Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari kata latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. “media adalah berbagai jenis komponen komunikasi sebagai pembawak pesan dari komunikator menuju komunikasi dalam lingkungan siswa yang dapat memberikan rangsangan untuk belajar” (Daryanto, 2011: 4). Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga dapat terdorong terlibat dalam proses pembelajaran.
Asosiasi Teknologi Komunikasi di Amerika, membatasi bahwa media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Asosiasi Pendidikan Nasional memberikan batasan bahwa media merupakan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dan dibaca. Untuk lebih jelas dapat ditinjau pendapat Asosiasi Pendidikan Nasiona yang dikutip oleh Arief Sadiman, tentang media sebagai berikut : “Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang fikiran, perasaan, perlakuan, dan minat siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar mengajar terjadi.” (Sadiman, AS, 1993:7).
Hamalik berpendapat bahwa yang dimaksud dengan media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perlakuan dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Selanjutnya menurut Hamalik, media pengajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Media pendidikan identik artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan dapat diamati melalui panca indera.
2. Tekanan utama terletak pada benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat atau didengar.
3. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pengajaran anatara guru dan siswa.
4. Media pendidikan adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik di dalam kelas di luar kelas.
5. Berdasarkan poin 3 dan 4, maka pada dasarnya media pengajaran merupakan sebuah perantara dan digunakan dalam dunia pendidikan.
6. Media pendidikan mengandung aspek-aspek sebagai alat dan teknik, yang sangat erat kaitannya dengan metode mengajar (Hamalik, Oemar. 1994: 23)
Merujuk dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan dan dilihat persamaannya, dapat diambil pengertian media, media adalah segala bentuk yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perlakuan, perasaan dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Seiring dengan perubahan jaman dan kemajuan teknologi, fungsi dari media pendidikan bukan hanya sebagai alat bantu pengajaran saja, tetapi fungsinya telah bergeser. Fungsi yang dihasilkan dari pergeseran tersebut ialah bahwa media pembelajaran bisa juga digunakan sebagai sumber pemelajaran.

Stephen mengatakan Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. (Robbins, Stephen P. 2007:69). Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Jenis-Jenis Media Pembelajaran

Media pemelajaran mempunyai jenis dan karakteristik yang bermacam-macam. Para ahli melakukan pengelompokkan dan klasifikasi didasarkan pada kesamaan ciri atau karakteristik yang dimilki oleh tiap-tiap media pemelajaran tersebut. Ada berbagai jenis media pemelajaran yang banyak digunakan dalam proses belajar mengajar sekarang ini. Seiring dengan kemajuan jaman yang diikuti dengan kemajuan di bidang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) media pemelajaran pun mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kemajuan teknologi memunculkan berbagai macam media pengajaran dengan teknologi dan fasilitas yang lebih banyak disertai dengan dayaguna serta efisiensi yang lebih tinggi. Sebelum menggolongkan atau mengklasifikasikan media pengajaran tersebut alangkah baiknya peneliti mengenal dulu karakteristik media pengajaran tersebut.
Sadiman ( 1991:206) membagi media pemelajaran menjadi tiga bagian yaitu media auditif, media visual dan media audiovisual:

a. Media Auditif (media dengar) Media ini mengandalkan kemampuan suara yang digunakan untuk merangsang indera pendengaran pada waktu proses penyampaian bahan pemelajaran, misalnya : kaset, piringan hitam dan radio tape recorder.
b. Media Visual (media pandang atau lihat) Media visual mengandalkan indera penglihatan, digunakan untuk membantu indera penglihatan pada saat menerima mata pelajaran, misalnya : gambar, diagram, chart, peta (globe), slide film dan film bisu.
c. Media Audiovisual (media pandang dengar) Media ini mempunyai unsure suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media auditif dan media visual, misalnya : film, televisi, video cassette dan komputer.
Sadiman, mengidentifikasi ciri utama media menjadi tiga unsur pokok, yaitu: suara, visual, dan gerak. (Ibid., 35-36). Visual dibedakan menjadi tiga macam, yaitu gambar, garis, dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan.

Jenis Dan Fungsi Media Pembelajaran Bagi Guru Pak

Jenis-Jenis Media Pembelajaran

Menurut Gagne dalam buku Daryanto mengklafikasikan media menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk demonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, filem bersuara, dan mesin belajar (Daryanto, 2011:16)
Menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran dan kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas liam kelompok yaitu: media tampa proyeksi dua dimensi ; media tampa proyeksi tiga dimensi;audio;proyeksi;televise, video dan computer (Ibid)

Menurut Heinich, Molenda, Russel jenis media yang lazim dipergunakan dalam pembelajaran antara lain : media nonproyeksi, media proyeksi, media audio, media gerak, media komputer, komputer multimedia, hipermedia, dan media jarak jauh (Heinich, MR, 1982:8)
Jenis media dalam pembelajaran adalah: Ibid Halaman 35-36 a. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, diagram, kartun, poster, dan komik.
b. Media tiga dimensi yaitu media dalam bentuk model padat, model penampang, model susun, model kerja, dan diorama.
c. Media proyeksi seperti slide, film stips, film, dan OHP
d. Lingkungan sebagai media pembelajaran
Media pembelajaran adalah suatu cara, alat, atau proses yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan yang berlangsung dalam proses pendidikan. Penggunaan media dalam pembeljaran atau disebut juga pembelajaran bermedia dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Menurut Sudirnan (Syaful) menemukan beberapa frinsif pemilahan media pengajaran (Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan, 2010:126-127):
1) Tujuan pemilihan: Memilih media yang akan digunakanj harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihannya jelas.
2) Karakteristik Media Pembelajaran : setiap media memiliki karakteristi masing-masing, baik dilihat dari seti kemampuannya, cara pembuatannya, maupun cara menggunakannya. Memahami karaktreristik berbagai media pengajaran merupakan kemampunan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitan dengan ketrampilan pemiliah media pengajaran.
3) Alternafif pilihan: guru bida menentukan pilihan media yang mana akan digunakan sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam memilih media pembelajaran, yakni:
1 Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitasdan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia( waktu mengajar dan pengembangan materi dan media ), sumber-sumber yang tersedia ( manusia dan material);
2 Persyaratan isi, tugas dan jenis pembelajaran. Setiap katagori pembelajaran itu menuntut prilaku yang berbeda-beda dan dengan demikian akan memerlukan teknik dan media penyajian yang berbeda pula.
3 Hanbatan dari siswa dengan memperhitungkan kemampuan dan ketreampilan awal, seperti membaca, mengetik, dan karakteristik siswa lainnya.
4 Tingkat kesenangan ( preferensi lembaga, guru dan pelajar ) dan keevektivan biaya.
5 Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang tepat ( visual atau audio), respon siswa.

Kriteria Pemilihan Media:

Apa bila seorang guru mengguanakan media pengajaran dengan cara memanfaatkan media yang telah ada guru dapat menjadikan kriterie berikut sebagai dasar acuan (Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2010:130-131)
1) Apakah topic yang dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik untuk belajar?
2) Apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik?
3) Apakah media itu sebagi sumber pengajaran yang pokok , apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku?
4) Apakah materi yang disampaikan otentik dan actual?
5) Apakah format penyajiannya berdasarkan tata urut belajar yang logis?
6) Apakah narasi, gambar, efek, warna, dan sebaginya, memenuhi standar kualitas teknik.
7) Apakah bobot pengguanna bahasa, symbol-simbol dan ilustrasinya sesuai dengan tingkat kematangan berpikir anak didik?
8) Apakah sudah teruji kesahihannya( validilitas ) ?
9) Apakah bahan dasarnya dapat mudah diperoleh?
Dengan kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah mengguanakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugas sebagai pengajar. Dasar pemilihan alat bantu visual adalah memilih alat bantu yang sesuai dengan kematangan, minat dan kemampuan kelompok, memilih alat bantu secara tepat untuk kegiatan pembelajaran, mempertahankan keseimbangan dalam jenis alat bantu yang dipilih, menghindari alat bantu yang berelebihan, serta mempertanyakan apakah alat bantu tersebut diperlukan dan dapat mempercepat pembelajaran atau tidak. Sehubungan dengan banyaknya media yang digunakan dalam pendidikan dan tidak semua jenis dari media dapat digunakan dalam segala situasi, maka perlu dilakukan pemilihan jenis media yang sesuai dengan keperluan agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Contoh Bab I Penelitian Kualitatif

“PENGARUH MEDIA MENGAJAR GURU
TERHADAP MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK
DI SMA ......
BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Ada kecenderungan dalam diri peserta didik terhadap satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain yang diajarkan di sekolah. Ada peserta didik yang gemar mempelajari matematika, biologi, kimia sementara yang lain belum berminat mempelajari pelajaran tersebut. Kalaupun mengikuti pelajaran dari mata pelajaran yang disebutkan ini hanya sekadar hadir di kelas. Pada sisi yang lain ada juga peserta didik yang tidak suka terhadap guru tertentu termasuk mata pelajaran yang disampaikannya. Semuanya ini menjadi faktor minat belajar peserta didik.
Peserta didik akan berhasil dalam belajar apabila ada minat belajar. Minat belajar sebenarnya sudah ada dalam diri setiap orang, hanya saja dalam implementasinya harus dipengaruhi atau diberdayakan oleh faktor luar diri peserta didik sehingga membuat minat semakin meningkat terhadap pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Dalam sebuah riset dikemukakan bahwa ada beberapa pelajaran yang kurang diminati siswa sehingga siswa tidak terlalu tertarik mempelajari pelajaran ini. Salah satunya yakni pelajaran Pendidikan Agama. Peserta didik lebih fokus meningkatkan ketekunan belajar sampai pada upaya orangtua memasukan anak di privat-privat yang diselenngarakan oleh kelompok masyarakat. Misalnya privat Matematika, privat Biologi, Kimia. Sementara Pendidikan Agama kurang diminati. Dalam konteks ini Pendidikan Agama Kristen.
Menurut Homrighausen dan I.H. Engklar, “Pendidikan Kristen merupakan usaha yang diselanggarakan dan disistemmatikan , ditopang oleh upaya rohani dan manusiawi untuk mentranmisikan pengtahuan niai-nilai, sikap-sikap, ketrampilan dan dingka laku yang sesuai dengan atau kondisiten dengan iman Kristen dalam rangka mengupayaan perubahan-perubahan pribadi , kelompok sehingga perserta didik hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagai mana yang dilakukan Alkitab dalam Yesus Kristus” .
Pernyataan ahli PAK di atas menegaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen itu penting karena menanamkan nilai-nilai Kristiani dalam diri peserta didik yang ber-agama Kristen yang mengikuti pendidikan pada tingkat pendidikan seperti SD, SMP dan SMA serta perguruan Tinggi. Untuk itu diperlukan media. Media seperti apa yang digunakan guru Pendidikan Agama Kristen untuk meningkatkan minat belajar peseta didik. Guru dapat menempuh beberapa cara, yakni dari cara yang paling sederhana sampai pada bentuk yang paling canggih dengan menggunakan alat-alat bantu. Alat-alat inilah yang merupakan media , yaitu suatu bentuk atau salauran yang digunakan untuk menirim informasi dari si pengirim pesan kepada si penerima pesan.
Media merupakan saluran penyampaian pesan dalam komunikasi antara manusia. penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar mengajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dpat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering ter-abaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketercapaian minat belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai factor baik dari dari diri siswa itu sendiri meupun dari Guru yang mengajar. Materi pelajaran akan mudah diterima dan dimengerti oleh peserta didik untuk meningkatkan minat belajar siswa, jika disampaikan dengan menarik kepada perserta didik dengan media-media pembelajaran yang ada, namun untuk bisa mencapai tujuan tersebut Guru Agama Kristen perlu mengetahui dan menguasai Media pembelajaran.

B. Fokus Penelitian
Menurut Arikunto, “pembatasan ini diperlukan bukan saja untuk mempermudah dan menyederhanakan masalah bagi penyidik, tetapi juga untuk menetapkan lebih dulu segala sesuatu yang diperlukan untuk memecahkan yaitu tenaga, kecekatan, waktu serta ongkos yang timbul dalam rencana tersebut”.
Usman dan Akbar berpendapat bahawa sebelem menentukan batasan masalahhendak diperhatikan beberapa hal: masalah yang dibatasi hendaklah masih dalam kemampuan penelit, masalah yang dibatasi henndaknya dapat diuji berdasarkan data-data yang mudah diperoleh dilapangan, masalah yang dibatasi hendaknya cukup menarik minat peneliti.
Berdasarkan penegasan di atas maka fokus penelitian ini yakni Pengaruh Media mengajar seorang Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap minat belajar Peserta Didik di SMU ...

C. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh media mengajar seorang Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap minat belajar siswa?

D. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media terhadap minat belajar peserta didik

E. Kegunaan Penelitian

Menurut sukamto kegunaan penelitian dapat dibedakan mendadi dua hal: “ kegunaan secara teoritis dan keguanan secara praktis.
Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Teoritis
Pertama penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan ide bagi dunia pendidikan disekolah terhadap pemilihan media yang benar dalam proses belajar-mengajar.
Kedua Untuk memperluas wawasan dan pengetahuan penulis sebagai seorang mahasiswa dalam rangka mengungkapkan suatu masalah serta penyelesaiannya.
Ketiga Bermanfaat untuk mengetahui pengaruh media mengajar seorang guru Pendidkan Agama Kristen terhadap minat belajar siswa/I.
Keempat , dari hasil penelitian ini member kontribusi pengetahuan tantang kelemahan media dan kelebihan media dalam mengajaran.
2. Praktis
Pertama Untuk mengoreksi diri bagi guru, apakah sudah memiliki pandangan yang benar mengenai kompetensi kepribadian.
Kedua Menambah wawasan, pemahaman dan sumber informasi bagi pembaca. Ketiga Sebagai bahan masukan dan bahan perbandingan bagi peneliti lainnya, khususnya bagi guru PAK .

Judul Penelitian Kualitatif Kaca Mata Google Glass

Saya sengaja menyebutkan variabel " Kaca Mata Google Glass" dan membahasnya secara singkat dengan harapan agar ada yang tertarik dengan topik ini kemudian menelitinya sebagai sebuah variabel penelitian dalam tingkat sarjana, magister maupun doktoral. Dengan kata lain, variabel ini dapat dijadikan sevbagai salah satu variabel penelitian mahasiswa yang akan menyelesaikan Sarjana, Magister maupun doktor.


Menurut Wikipedia, Google Glass adalah komputer bisa pakai yang sedang dikembangkan oleh Google melalui proyek riset dan pengembangan Project Glass. Dengan kehadiran Google Glassn maka diharapkan bahwa perangkat ini mampu menampilkan informasi dalam format bergaya telepon pintar yang bisa terhubung ke Internet melalui perintah suara bahasa alami.” Kaca Mata Google Glass menurut informasi sedang dikembangkan oleh Google X yang sebelumnya juga telah mengembangkan teknologi futuristis lainnya seperti mobil swatantra. Seperti apa google glass, semua orang sudah,sedang dan akan menggunakan produk ciptaan google ini. Tentu produk ini canggih.Kacamata ini disebut juga dengan nama kaca mata pintar google. Inilah salah satu produk google.

Harga dari Google Glass ini raltif mahal sekitar Rp 24. Juta. Tahun 2015 sempat dihentikan untuk khalayak umum namun tahun empat tahun kemudian (2019) mulai diproduksi dan berlaku pada kalangan enterprise. Ya tapi informasi ini jangan dijadikan sebagai informasi yang normatif karena kita mesti mencari informasi yang lebih komplit lagi. Dari harga Google Glass seperti yang disebutkan di atas, jelaslah bahwa hanya kalangan tertentu yang dapat memakai google glass.

Google Glass tentu punya kelebihan tertentu sehingga harganya boleh dibilang mahal. Bayangkan saja kacamata ini seharga Rp 24 juta maka jelaslah bahwa ada banyak fungsi pada google glass sehingga dijual dengan harga yang dikategorikan mahal. Ya mahal dan tidaknya memang relatif tetapi bagi masyarakat kalangan bawah harga ini mahal tentunya. Namun jika ada yang berusaha membelinya ya tentu ada kesenangan tersendiri. Namun apakah sudah dijual di Indonesia? Perlu dicari tahu informasi yang lebih pasti. Saya hanya menyebutkan untuk sekadar menginspirasi mahasiswa yang mau menemukan judul dan menelitinya.
Apakah kaca mata google glass ini ada yang menggunakannya dan bagaimana manfaatnya bahkan mungkin ada masalah yang perlu diteliti maka para mahasiswa dapat menjadikan sebagai salah satu pokok penelitian

Semoga bermanfaat